ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 53 Februari 2026
Informasi Kesehatan di Era Digital dan Health Anxiety
Oleh:
Loren Thia & Venie Viktoria Rondang Maulina
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Seiring dengan perkembangan teknologi digital, internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai alat komunikasi dan pencarian informasi (Ng, Seman, & Tee, 2018). Menurut Pew Research Center dalam Hessel (2023), hampir 100% individu pada rentang usia 18-29 tahun memiliki telepon seluler dan hampir 100% menggunakannya untuk mengirimkan pesan setidaknya satu kali dalam seminggu. Sementara itu, individu berusia 18-25 tahun menjadi pengguna internet terbanyak di Indonesia dengan jumlah persentase 49% (APJII, 2014 dalam Syihab, Rani, & Paramita, 2020). Adapun usia 18-25 tahun termasuk dalam masa transisi dari remaja menuju dewasa awal (Arnett, 2000 dalam Santrock, 2019).
Penggunaan internet digunakan untuk berbagai tujuan, seperti berkomunikasi, bekerja, mengakses data, dan mencari informasi (Yusup, Komariah, Prahatmaja, & CMS, 2019). Informasi yang dicari di internet pun beragam, sesuai dengan kebutuhan dari penggunanya. Salah satu informasi yang dicari adalah informasi kesehatan. Pencarian informasi kesehatan melalui internet telah menjadi perilaku yang umum di kalangan masyarakat (Zhang, et al., 2021). Survei yang dilakukan oleh Eurostat pada tahun 2020, menunjukkan bahwa 55% dari masyarakat Eropa menggunakan internet untuk mencari informasi kesehatan (Jia, Pang, & Liu, 2021). Menurut survei APJII pada tahun 2017 (dalam Dewi, Janitra, & Aristi, 2018), dari 143,26 juta pengguna internet di Indonesia, 51.6% di antaranya menggunakan internet untuk pencarian informasi kesehatan. Informasi kesehatan di internet sendiri sudah dapat diakses dengan mudah setiap hari, dimanapun individu berada dengan berbagai opsi tempat pencarian seperti website, media sosial, aplikasi, dan lain sebagainya (Deng, et al., 2015 dalam Masilamani, Sriram, & Rozario, 2020).
Informasi kesehatan yang ada di internet sayangnya tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Survei yang dilakukan oleh Persatuan Wartawan Indonesia pada tahun 2017, menunjukkan bahwa konten kesehatan merupakan konten dengan unsur hoax terbanyak dengan persentase 27% (Haikal & Iqbal, 2020). Hal ini dikarenakan banyaknya artikel kesehatan yang ditulis oleh penulis yang tidak memiliki pengalaman khusus dalam bidang jurnalistik. Informasi kesehatan yang tidak kredibel dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat yang mencari informasi kesehatan di internet (Siswanta, 2015). Informasi kesehatan yang keliru dapat menyebabkan kesalahan dalam mengonsumsi obat dan konsultasi kesehatan yang terlambat, sehingga memungkinkan timbulnya konsekuensi bagi individu, baik secara fisik atau psikologis (Vervier, Valdez, & Ziefle, 2018). Sebagai kelompok usia yang bertumbuh bersama dengan sistem digital, individu dewasa awal seringkali dianggap sebagai pengguna internet yang kompeten, namun kenyataannya tidak semua individu dewasa awal mampu menggunakan sumber eHealth dengan baik (Holch & Marwood, 2020). Oleh karena itu, penting bagi individu dewasa awal untuk mampu menilai sumber informasi yang tepat, dapat dipercaya, dan berkualitas (Kington, et al., 2021).
Kemampuan untuk mencari, menemukan, mengerti, dan menilai informasi kesehatan digital serta mengaplikasikannya untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan yang dihadapi disebut sebagai eHealth literacy (Norman & Skinner, 2006). eHealth literacy yang tinggi dapat meningkatkan persepsi individu terhadap kesehatannya. Namun, persepsi terhadap kesehatan yang tinggi seringkali diasosiasikan dengan health anxiety yang juga tinggi (Kerkez & Kaplan, 2023; Alan, et al., 2021). Health anxiety merupakan kecemasan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan individu yang muncul dari kepercayaan bahwa kesehatan individu tersebut terancam. Kecemasan ini melingkupi perasaan tidak nyaman seperti takut, munculnya rangsangan fisiologis dan sensasi tubuh seperti detak jantung yang berdebar kencang, pemikiran dan bayangan sedang berada dalam bahaya, serta kemungkinan munculnya perilaku menghindar dan defensif (Taylor & Asmudson, 2004). Health anxiety juga dapat memicu individu untuk melakukan pencarian informasi di internet. Hal ini terjadi karena individu ingin memastikan kembali informasi kesehatan yang telah diterima sebelumnya. Namun, pencarian informasi kesehatan juga mungkin meningkatkan health anxiety itu sendiri (Peng, 2022). Oleh sebab itu, penting bagi pengguna internet untuk memiliki eHealth literacy yang memadai, terutama individu dewasa awal sebagai pengguna internet terbanyak.
Individu dewasa awal perlu memiliki eHealth literacy yang memadai karena individu dewasa awal rentan terhadap stres (Hutapea & Mashoedi, 2019). Hal ini mungkin terjadi dikarenakan individu dewasa awal yang masih berada dalam tahapan ketidakstabilan karena perubahan pekerjaan, tempat tinggal, hubungan cinta, serta perasaan in-between yang timbul karena individu tidak tahu dimana harus menempatkan dirinya (Arini, 2021). Ketidakstabilan yang individu dewasa awal dapat berkembang menjadi depresi apabila tidak ditindaklanjuti (Nelson, 2005 dalam Kahfi & Hamidah, 2017). Dengan demikian, individu dewasa awal diharapkan dapat mencari sumber-sumber yang terpercaya ketika menelusuri internet, serta menggunakan informasi kesehatan yang diperolehnya dengan bijak.
Daftar Pustaka:
Alan, S., Surucu, S. G., Vurgec, B. A., & Cevik, A. (2021). An investigation of individuals’ health anxiety during the COVID‐19 pandemic within the framework of the functional health patterns. Perspectives in Psychiatric Care, 57(3), 1103–1113. https://doi.org/10.1111/ppc.12663
Arini, D. P. (2021). Emerging adulthood : Pengembangan teori erikson mengenai teori psikososial pada abad 21. Jurnal Ilmiah Psyche, 15(01), 11–20. https://doi.org/10.33557/jpsyche.v15i01.1377
Dewi, R., Janitra, P. A., & Aristi, N. (2018). Pemanfaatan internet sebagai sumber informasi kesehatan bagi masyarakat. Media Karya Kesehatan, 1(2). https://doi.org/10.24198/mkk.v1i2.18721
Haikal, H., & Iqbal, M. (2020). Persepsi masyarakat terhadap hoax bidang kesehatan. Jurnal Manajemen Informasi Dan Administrasi Kesehatan (JMIAK), 3(2), 7–11. https://doi.org/10.32585/jmiak.v3i2.836
Hessel, H. (2023). A typology of U.S. emerging adults’ online and offline connectedness with extended family. Journal of Adult Development, 1–15. https://doi.org/10.1007/s10804-023-09452-9
Holch, P., & Marwood, J. R. (2020). eHealth literacy in UK teenagers and young adults: Exploration of predictors and factor structure of the eHealth literacy scale (eHEALS). JMIR Formative Research, 4(9), e14450. https://doi.org/10.2196/14450
Hutapea, C. D. A., & Mashoedi, S. F. M. (2020). Hubungan antara optimisme dan distres psikologis pada emerging adults miskin di DKI Jakarta. Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET, 10(02), 87–103. https://doi.org/10.35814/mindset.v10i02.1129
Jia, X., Pang, Y., & Liu, L. S. (2021). Online health information seeking behavior: A systematic review. Healthcare, 9(12), 1740. https://doi.org/10.3390/healthcare9121740
Kahfi, R. L. A., & Hamidah. (2017). Hubungan antara centrality of religiosity dan depresi pada emerging adult. Jurnal Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 6, 19–28. http://url.unair.ac.id/3cb97dc0
Kerkez, M., & Kaplan, M. (2023). Determination of health perception, health anxiety and effecting factors among students studying in health departments. Journal of Socıal and Analytıcal Health, 3(1), 1–6. https://doi.org/10.5281/zenodo.7509127
Kington, R. S., Arnesen, S., Chou, W.-Y. S., Curry, S. J., Lazer, D., & Villarruel, A. M. (2021). Identifying credible sources of health information in social media: principles and attributes. NAM Perspectives. https://doi.org/10.31478/202107a
Masilamani, V., Sriram, A., & Rozario, A.-M. (2020). eHealth literacy of late adolescents: Credibility and quality of health information through smartphones in India. Comunicar, 28(64), 86–95. https://doi.org/10.3916/C64-2020-08
Ng, E., Abu Seman, R. A., & Tee, J. N. (2018). Factors influencing health information seeking behaviour among young adults in UCSI university. Jurnal Pengajian Media Malaysia, 20(2), 69–86. https://doi.org/10.22452/jpmm.vol20no2.6
Norman, C. D., & Skinner, H. A. (2006). eHealth literacy: Essential skills for consumer health in a networked world. Journal of Medical Internet Research, 8(2), e9. https://doi.org/10.2196/jmir.8.2.e9
Peng, R. X. (2022). How online searches fuel health anxiety: Investigating the link between health-related searches, health anxiety, and future intention. Computers in Human Behavior, 136, 107384. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107384
Santrock, J. W. (2019). Life-span development, seventeenth edition. McGraw-Hill Education.
Siswanta. (2015). Informasi kesehatan di media online. Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(3), 210–223. https://dx.doi.org/10.31315/jik.v13i3.1460
Syihab, A., Rani, D., & Paramita, A. D. (2020). Hubungan antara psychological well-being dan problematic internet use pada emerging adult. ANFUSINA: Journal of Psychology, 3(1), 51–68. https://doi.org/10.24042/ajp.v3i1.6116
Taylor, S., & Asmundson, G. J. G. (2004). Treating health anxiety : a cognitive-behavioral approach. Guilford Press.
Vervier, L., Calero Valdez, A., & Ziefle, M. (2018). “Should i trust or should i go?” or what makes health-related websites appear trustworthy? - An empirical approach of perceived credibility of digital health information and the impact of user diversity. Proceedings of the 4th International Conference on Information and Communication Technologies for Ageing Well and E-Health, 169–177. https://doi.org/10.5220/0006734401690177
Yusup, P. M., Komariah, N., Prahatmaja, N., & CMS, S. (2019). Pemanfaatan internet untuk penghidupan di kalangan pemuda pedesaan. BACA: Jurnal Dokumentasi dan Informasi, 40(2), 217. https://doi.org/10.14203/j.baca.v40i2.491
Zhang, D., Zhan, W., Zheng, C., Zhang, J., Huang, A., Hu, S., & Ba-Thein, W. (2021). Online health information-seeking behaviors and skills of Chinese college students. BMC Public Health, 21(1), 736. https://doi.org/10.1186/s12889-021-10801-0
