ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 53 Maret 2026

Mengapa Influencer Dipercaya Banyak Orang?
Oleh:

Fauzan Rifaldi dan Winda Widiawati

Departemen Riset PRDC Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi

Seiring dengan pertumbuhan pesat teknologi internet dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir, muncul jenis konsumen baru yang diberdayakan oleh kemampuan interaktif internet untuk berbicara dan berbagi pendapat serta pandangan tentang segala hal, mulai dari politik hingga merek. Selain itu, hal ini juga membuka peluang kewirausahaan baru dan berkontribusi pada terciptanya fenomena yang dikenal sebagai influencer media sosial. Influencer sendiri adalah individu yang berupaya menghasilkan semacam modal selebriti dengan menumbuhkan perhatian sebanyak mungkin dan menciptakan merek pribadi yang autentik melalui jejaring sosial, yang kemudian dapat digunakan oleh perusahaan dan pengiklan untuk menjangkau konsumen (Belanche dkk., 2021).

Influencer seringkali menyampaikan berbagai opini kepada para penonton di sosial media. Banyak influencer baik ahli maupun non-ahli dapat menyampaikan opini terhadap suatu peristiwa maupun fenomena yang sedang terjadi dan banyak sekali orang yang percaya dengan opini tersebut. Hal ini terjadi karena influencer digambarkan sebagai sosok yang berada diantara teman dan selebriti, seperti teman yang memiliki minat, nilai, dan gaya hidup yang sama (Belanche dkk., 2021). Fenomena ini disebut dengan Hubungan Parasosial, yaitu hubungan yang terjadi karena adanya interaksi sepihak antara penonton dengan influencer (Horton & Richard Wohl, 1956).

Bagaimana cara terbentuknya hubungan parasosial ini?

Membangun hubungan yang kuat dan langgeng dengan para pengikutnya adalah tujuan utama para influencer (Belanche dkk., 2021). Influencer akan menggunakan media sosial, seperti Youtube, Facebook, Instagram, Snapchat, dan Tiktok untuk berinteraksi dengan pengikutnya. Mereka berinteraksi dengan membahas topik yang diminati bersama dan membagikan informasi-informasi pribadi influencer kepada pengikutnya, seperti bagaimana rumahnya, apa makanan kesukaannya, dsb. Jika pengikutnya terus-menerus terpapar informasi ini, mereka akan melihat influencer tersebut sebagai “teman” yang memiliki minat yang sama (Hoffner & Bond, 2022). Oleh karena itu, influencer dapat membuat pengikutnya percaya dengannya karena mereka tidak lagi menganggap influencer tersebut sebagai selebriti yang jauh, namun sebagai teman dekat yang dapat dipercaya (Almahdi dkk., 2022; P. Breves & Liebers, 2025).

Pentingnya peran influencer dalam industri saat ini

Kemunculan influencer ini membuat industri mengubah cara mereka terhubung dengan konsumennya. Industri akan menggunakan influencer untuk mempromosikan jasa yang mereka jual. Dalam beberapa kasus telah terbukti bahwa berkolaborasi dengan influencer  dalam aksi promosi itu lebih efektif daripada berkolaborasi dengan selebriti tradisional. Oleh karena itu, 93 % pemasar saat ini lebih memilih menggunakan influencer dalam mempromosikan produk mereka (Belanche dkk., 2021). Hal ini terjadi karena kepercayaan yang terbentuk dari pengikut kepada influencer sehingga ketika influencer ini mempromosikan sesuatu, mereka akan percaya dan membeli produk/jasa tersebut (Ye & Li, 2025)

Kunci menjadi influencer yang akan selalu dipercaya

Penelitian Belanche dkk. (2021) mengenai pengaruh sikap dan respon pengikut terhadap influencer di Instagram, menemukan bahwa kesesuaian produk yang dipromosikan oleh influencer  merupakan faktor penting dalam menumbuhkan persepsi positif pengikut. Dengan demikian, ketika pengikut merasakan adanya kesesuaian yang baik, influencer tersebut dianggap sebagai sumber yang lebih kredibel. Bagi para pengikut, penting untuk memahami bahwa influencer  mempromosikan produk yang sesuai dengan topik yang biasanya dibahas, gaya hidup, dan nilai-nilai mereka. Jangan sampai influencer mempromosikan produk yang tidak sesuai dengan nilainya, misalnya influencer kesehatan mempromosikan produk rokok. Seperti yang sudah disebutkan di paragraf sebelumnya, hubungan influencer dan pengikutnya ini layaknya “teman” sehingga ketika pengikut kecewa dengan influencer, maka kekecewaannya akan sangat besar karena mereka merasa dikhianati oleh orang terdekatnya dan ini akan menurunkan kepercayaan dan kedekatan yang sudah ada antara influencer dan pengikutnya (P. L. Breves & van Berlo, 2025; Cohen, 2010). Oleh karena itu, ketika melakukan tindakan promosi, influencer  harus konsisten dengan konten mereka yang biasa untuk menghindari prasangka terhadap opini para pengikut.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Almahdi dkk. (2022) mengenai kepercayaan dalam pemasaran influencer media sosial, ditemukan bahwa kesukaan terhadap merek berhubungan secara signifikan dengan kepercayaan terhadap merek tersebut. Yang berarti bahwa sebelum memercayai influencer, penonton sudah lebih dulu mencari informasi mengenai produk tersebut dan kemudian mencari informasi penguat dari influencer yang sudah memakai produk dari merek tersebut. Meskipun ada beberapa orang yang mengetahui informasi produk dari influencer, mereka akan mencari informasi tambahan lainnya baik dari internet, iklan, maupun influencer lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa influencer juga harus memahami apa yang sedang ia sampaikan agar tidak membuat para pengikutnya kecewa.

Referensi:

Almahdi, M. H., Alsayed, N., & Alabbas, A. (2022). In Influencers We Trust? A Model of Trust Transfer in Social Media Influencer Marketing. Dalam Studies in Computational Intelligence (Vol. 1037, hlm. 159–173). Springer Science and Business Media Deutschland GmbH. https://doi.org/10.1007/978-3-030-99000-8_9

Belanche, D., Casaló, L. V., Flavián, M., & Ibáñez-Sánchez, S. (2021). Building influencers’ credibility on Instagram: Effects on followers’ attitudes and behavioral responses toward the influencer. Journal of Retailing and Consumer Services, 61. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2021.102585

Breves, P. L., & van Berlo, Z. M. C. (2025). Making and Breaking Parasocial Relationships with Human and Virtual Influencers: An Experience Sampling Study. Media Psychology. https://doi.org/10.1080/15213269.2025.2558029

Breves, P., & Liebers, N. (2025). The Impact of Following Duration on the Perception of Influencers and Their Persuasive Effectiveness Explained by Parasocial Relationship Stages. Journal of Current Issues and Research in Advertising, 46(1), 1–18. https://doi.org/10.1080/10641734.2024.2320186

Cohen, E. L. (2010). Expectancy violations in relationships with friends and media figures. Communication Research Reports, 27(2), 97–111. https://doi.org/10.1080/08824091003737836

Hoffner, C. A., & Bond, B. J. (2022). Parasocial relationships, social media, & well-being. Dalam Current Opinion in Psychology (Vol. 45). Elsevier B.V. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101306

Horton, D., & Richard Wohl, R. (1956). Mass Communication and Para-Social Interaction. Psychiatry, 19(3), 215–229. https://doi.org/10.1080/00332747.1956.11023049

 

Ye, X., & Li, C. (2025). Do “Flops” Enhance Authenticity? The Impact of Influencers’ Proactive Disclosures of Failures on Product Recommendations. Behavioral Sciences, 15(7). https://doi.org/10.3390/bs15070971