ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 47 Desember 2025

 

Suami Childfree: Bahagia dan Maskulin Tanpa Anak?

 

Oleh:

Maria Olivia Susilo dan Fransisca Rosa Mira Lentari

Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

“Apakah menjadi suami yang bahagia harus berarti menjadi seorang ayah?”

Pertanyaan ini semakin relevan di tengah munculnya pasangan-pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree. Dalam kamus Cambridge (n.d.), childfree mengacu pada individu atau pasangan yang secara sadar memilih tidak memiliki anak. Rizka et al. (2021) menekankan bahwa keputusan ini bersifat sukarela, bukan karena hambatan, seperti ekonomi atau biologis.

Pilihan ini seringkali diasosiasikan dengan perempuan dan banyak studi telah mengkaji fenomena childfree dari perspektif para istri (Bień et al., 2017; Coates-Davies, 2020; Mollen, 2006; Salgado & Magalhães, 2023). Namun, perspektif para suami akan bagaimana mereka memaknai keputusan ini dan kaitannya dengan identitas maskulinitas, masih jarang disorot.

Maskulinitas dan Peran Suami dalam Rumah Tangga

Dalam budaya patriarki, maskulinitas sering dimaknai secara sempit. Laki-laki dianggap maskulin ketika mereka mandiri, tegas, rasional, sulit menunjukkan emosi, dan mengutamakan pekerjaan, sehingga peran sebagai kepala keluarga dan ayah kerap dilihat sebagai puncak dari “keberhasilan” maskulin tersebut (Mayer, 2018; Stratemeyer et al., 2019). Dalam konteks rumah tangga, laki-laki dianggap “ideal” ketika berperan sebagai pencari nafkah, sekaligus ayah yang melindungi dan membimbing (Mayer, 2018). Tidak heran jika peran sebagai ayah seringkali dianggap sebagai salah satu indikator “keberhasilan” laki-laki dewasa.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa laki-laki juga memiliki kehidupan emosional yang kaya. Penelitian eksperimental Deng et al. (2016) kepada 79 partisipan menemukan bahwa laki-laki sebenarnya mengalami lebih banyak kejadian emosional dibanding perempuan, namun cenderung lebih jarang mengekspresikannya. Hal ini dapat dikaitkan dengan stereotip gender yang membatasi ruang ekspresi laki-laki (Deng et al., 2016). Persepsi seperti ini dapat membentuk ekspektasi sosial bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tahan banting, termasuk ketika menghadapi tekanan hidup, beban kerja, hingga keputusan besar dalam rumah tangga.

Maskulinitas bukanlah sesuatu yang tetap. McCreary (2020) menggambarkannya sebagai konstruksi sosial yang bisa berubah sesuai konteks budaya dan waktu. Namun, ekspektasi tradisional masih kuat. Namun, tekanan terhadap peran tradisional tetap kuat. Misalnya, studi kuantitatif oleh Gonalons-Pons dan Gangl (2021) terhadap 355.897 pasangan di 29 negara menunjukkan bahwa saat suami kehilangan peran ekonominya, seperti saat menganggur, risiko perceraian meningkat. Hal ini menunjukkan betapa eratnya identitas maskulin dengan ekspektasi sosial tertentu.

Dalam konteks ini, ketika seorang suami memilih untuk tidak memiliki anak, banyak yang memandangnya “kurang lengkap” sebagai laki-laki. Dalam masyarakat yang masih memegang erat norma maskulinitas tradisional, laki-laki kerap diidentikkan dengan peran sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, sekaligus ayah (Angela, 2023). Maka muncullah pertanyaan: Apakah laki-laki yang tidak menjadi ayah tetap dianggap “cukup laki-laki” dan bagaimana mereka membentuk kebahagiaan di luar peran tersebut?

Childfree dan Well-Being Suami

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak bisa berdampak pada kesejahteraan diri subjektif (subjective well-being) laki-laki. Hadley (2018), dalam wawancara terhadap 14 laki-laki tanpa anak di Inggris, mencatat kecemasan akan munculnya perasaan kesepian dan kehilangan di usia tua. Sementara itu, penelitian kuantitatif Evani dan Suryadi (2020) kepada 69 suami di Indonesia menunjukkan korelasi positif antara jumlah anak dengan kesejahteraan diri subjektif suami yang mengindikasikan bahwa keberadaan anak cenderung meningkatkan kesejahteraan diri para suami.

 

Di sisi lain, penelitian kualitatif oleh Susilo (2023) terhadap tiga suami childfree menemukan bahwa para partisipan juga merasakan sejumlah emosi positif dari pilihan mereka. Mereka menyebutkan manfaat seperti fleksibilitas finansial, kebebasan dalam bepergian, serta waktu yang lebih longgar untuk mengeksplorasi hobi dan pengalaman pribadi. Momen berbagi cerita tentang keputusan mereka juga menjadi sumber kepuasan tersendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa para suami childfree dapat menemukan makna dan kebahagiaan dalam bentuk peran selain dari norma maskulinitas tradisional.

 

Membangun “Definisi Maskulin” mu Sendiri

 

Mungkin, menjadi “cukup laki-laki” bukan tentang siapa yang kita besarkan, tapi termasuk juga bagaimana kita membesarkan diri kita sendiri. Pilihan untuk childfree, dengan segala sisi negatif dan positifnya, tak berbeda dari keputusan besar lain yang seorang suami ambil dalam hidup berumah tangga. Bagi sebagian laki-laki, hal ini justru menjadi jalan untuk menemukan versi maskulinitas dan kebahagiaannya sendiri.

 

Referensi:

Angela, K. F. (2023). Gambaran subjective well-being pasangan suami istri childfree di Indonesia. (Skripsi Sarjana, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya).

Bień, A., Rzońca, E., Iwanowicz-Palus, G., Lecyk, U., & Bojar, I. (2017). The quality of life and satisfaction with life of women who are childless by choice. Annals of Agricultural and Environmental Medicine, 24(2), 250–253. https://doi.org/10.5604/12321966.1235181

Cambridge Dictionary. (n.d.) Childfree. https://dictionary.cambridge.orgthe /dictionary/english/child-free

Coates-Davies, J. (2020). The experience of being a childfree woman. In Arnold-Baker, C. (eds) The existential crisis of motherhood. Palgrave Macmillan, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-56499-5_13

Deng, Y., Chang, L., Yang, M., Huo, M., & Zhou, R. (2016). Gender differences in emotional response: Inconsistency between experience and expressivity. PloS one, 11(6). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0158666

Evani, C. & Suryadi, D. (2020). Correlation between marital satisfaction and subjective well-being of working husbands with working wives. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, 478(1), 1056-1060. http://dx.doi.org/10.2991/assehr.k.201209.168

Gonalons-Pons, P. & Gangl, M. (2021). Marriage and masculinity: Male-breadwinner culture, unemployment, and separation risk in 29 countries. American Sociological Review, 86(3), 465–502. https://doi.org/10.1177/00031224211012442

Hadley, R. A. (2018) ‘“I’m missing out and I think I have something to give”: Experiencesof older involuntarily childless men. Working with Older People, 22(2), 83-92. http://dx.doi.org/10.1108/WWOP-09-2017-0025

Mayer, D. M. (2018, 8 Oktober). How men get penalized for straying from masculine norms. Harvard Business Review. https://hbr.org/2018/10/how-men-get-penalized-for-straying-from-masculine-norms

McCreary, D.R. (2020). Masculinity. Encyclopedia of personality and individual differences. https://doi.org/10.1007/978-3-319-24612-3_1087

Mollen, D. (2006). Voluntarily childfree women: Experiences and counseling considerations. Journal of Mental Health Counseling, 28(3), 269–282. https://doi.org/10.17744/mehc.28.3.39w5h93mreb0mk4f

Rizka, S. M., Yeniningsih, T. K., & Mutmainnah, & Yuhasianti. (2021, September 29-30). Childfree phenomenon in Indonesia [Paper Presentation]. 11th Annual International Conferences on Social Sciences, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia.

Salgado, F., & Magalhães, S. I. (2023). “I am my own future” representations and experiences of childfree women. Women's Studies International Forum, 102, 102849. https://doi.org/10.1016/j.wsif.2023.102849

Stratemeyer, M., Holland, E. & Vaenz, A.V. (2019, 28 Maret). How challenging masculine stereotypes is good for men. Pursuit by The University of Melbourne. https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/how-challenging-masculine-stereotypes-is-good-for-men

Susilo, M. O. (2024). Gambaran subjective well-being pada suami yang childfree. (Skripsi Sarjana, Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya).