ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 47 Desember 2025

 

Mengenal Anak Gifted Lebih Dekat: Overexcitibilities

 

Oleh:

Diana

Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya 

 

“Pembelajaran Biologi saat itu menonton National Geography bersama di kelas terkait tentang kehidupan binatang liar di hutan. Film tersebut penuh dengan pengetahuan yang ditampilkan secara visual yang sangat indah dan nyata. Salah satu fakta yang menjadi cuplikan menarik dalam video adalah sekelompok manusia yang melakukan pembantaian terhadap binatang-binatang tertentu. Semua siswa tampak terpana dengan tampilan film tersebut. Namun, salah satu siswa tampak gelisah sepanjang hari. Ketika ditanya lebih mendalam, ia mengatakan bahwa ia merasa sangat sedih dan tidak menyangka manusia melakukan hal yang lebih kejam daripada binatang buas yang ada. Ia membutuhan beberapa hari untuk menenangkan dirinya karena masih teringat cuplikan video terus menerus.”

 

Apa tanggapan Anda saat mendengarkan cerita tersebut? Apakah siswa tersebut dianggap berlebihan menanggapi cuplikan video tersebut? Apakah cara merespon siswa tersebut dapat dianggap wajar saja bersedih dan gelisah hingga berhari-hari?

 

Banyak pandangan masyarakat yang melihat respon siswa tersebut berlebihan terhadap suatu cuplikan. Iya, cerita tersebut mengenaskan dan kejam. Terlepas adanya tampilan yang rentan memicu trauma masa lalu, respon siswa yang merenungkan cuplikan tersebut secara mendalam dan berhari-hari seringkali dianggap sebagai suatu yang merespon secara berlebihan di masyarakat.  

 

Bagaimana kalau saya sematkan istilah Gifted (cerdas istimewa) sebagai konteks kondisi siswa tersebut? Apakah pandangan Anda terkait peristiwa tersebut menjadi berbeda?

 

Sepenggal cerita di atas menuai pengalaman siswa gifted (Cerdas Istimewa) yang seringkali merasa disalah-pahami mengenai responnya atas peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Berdasarkan Renzulli’s three-ring of giftedness, seseorang dianggap cerdas istimewa berbakat istimewa (gifted) jika memiliki interaksi antara kemampuan kognitif di atas rata-rata, komitmen kerja, dan kreativitas di atas rata-rata yang juga dapat dilihat dari interaksi kepribadian dengan lingkungannya (Renzulli, 2016). Label “terlalu berlebihan” membuat mereka merasa bingung dan takut untuk mengekspresikan perasaan atau buah pikir apa adanya.

 

Dalam kesempatan ini, kita perlu belajar dari siswa gifted tentang salah satu karakteristik anak gifted dalam aspek sosial-emosional, yang dikenal dengan istilah overexcitabilities. Overexcitabilities (OE) berasal dari kata Polandia “Nadpobudliwosc”, yang artinya terstimulasi secara berlebihan. OE menunjukkan respon yang luar biasa terhadap dunia luar maupun dunia di dalam dirinya sendiri. Perbedaan intensitas dan sensitivitas OE tidak hanya terletak pada rangsangan yang lebih besar dari biasanya, tetapi juga pada kualitas pengalaman itu sendiri (Falk & Piechowski, 2014). Dabrowski (dalam Pfeiffer, 2018) mengembangkan teori perkembangan pada anak CIBI yang berfokus pada sensitivitas, biasanya disebut denga overexcitabilities, yaitu kecenderung merespon stimulus internal dan eksternal yang semakin tampak intens.

 

Menurut Dabrowski (dalam Falk & Piechowski, 2014), terdapat lima bentuk OE (Overexcitabilities). Pertama, Psychomotor Overexictability (P) biasanya dilihat sebagai bentuk energi yang berlebihan atau sistem neuromuscular yang berlebihan. Perilaku yang biasanya ditampilkan misalnya anak yang senang menggoyang-goyangkan tubuhnya, berbicara dengan cepat, mengejar aktivitas fisik, bertindak impulsif, sangat energik. Kondisi ini sering disalah-pahami sebagai indikasi adanya gangguan perilaku seperti ADHD. Kedua, Sensual Overexictability (S), menunjukkan keaktifan sensori dan peningkatan kapasistas yang terkait dengan kenikmatan sensual, melalui sentuhan, rasa, penglihatan, dan suara, termasuk juga mencari penyaluran sensual dari ketegangan emosional yang dirasakan. Sensual Overexixtability diwujudkan melalui kesenangan pada kenyamanan, kemewahanan, kenikmatan estektika, dan bahkan kenikmatan yang diperoleh dari perasaan dikagumi / menjadi pusat perhatian.

 

Ketiga, Intellectual Overexcitability (T) merupakan aktivitas berpikir yang intensif yang ditampilkan dalam bentuk kegigihan memberikan pertanyaan yang menyelidikl, terasa haus akan pengetahuan dan analisis, menikmati proses berpikir logis dan permasalahan yang teoretis. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman dan kebenaran dari pembelajaran. Ekspresi lainnya dalam diwujudkan dalam ketajaman pengamatan, kemandirian berpikir, pengembangan konsep baru, mensitesa pengetahuan dan dorongan untuk mencari pengetahuan dan kebenaran. Selanjutnya, Imaginational Overexcitability (M) merupakan kapasitas untuk memainkan imajinasi dan kreasi sebebas mungkin. Hal ini dikenali melalui asosiasi gambar dan impresi yang berkesan, daya cipta, visualisasi yang hidup, metafora secara lisan maupun tertulis. Dan bentuk terakhir adalah Emotional Overexcitability (E) yang merupakan peningkatan intensitas terkait perasaan yang positif dan negatif. Hal ini dikenali melalui caranya menjalani keterikatan relasi yang kuat dengan orang, mahkluk hidup, atau tempat. Selain itu, intensitas perasaan yang sangat kuat, diekspresikan dalam bentuk: rasa malu, antusiasme, emosional, welas asih, pemahaman yang besar terhadap orang lain, ingatan afektif terhadap masala lalu, kekhawatiran terkait kematian, ketakutan, kecemasan dan depresi (Dabrowski dalam Falk & Piechowski, 2014).

 

Perilaku yang tampak seringkali disalah-pahami oleh orang-orang di sekitar. Seperti cerita di atas, seorang anak dengan emotional overexacitability seringkali dianggap terlalu terbawa perasaan dan menanggapi peristiwa terlalu emosional. Padahal, keunikan anak gifted dalam merespon dengan ekspresi yang berlebihan terjadi karena mereka melihat lebih besar dibandingkan dengan anak yang bukan gifted. Maka dari itu, peran pendampingan orang tua dan guru menjadi sangat penting. Orang tua perlu meningkatkan relasi yang kuat dengan berkomunikasi dengan anak secara terbuka mengenai intensitas perasaan atau pikirannya terhadap pengalamannya. Bagi guru, mereka perlu memahami bahwa anak gifted dengan overexcitability mungkin menunjukkan perilaku yang berbeda: misalnya sangat aktif secara psikomotor, cepat berpikir (intellectual OE), atau kaya imajinasi (imaginational OE) sehingga metode pengajaran dan pemantauan perlu diadaptasi.

 

Dalam pengembangan keberbakatan di abad ke-21 masih adanya tumpang tindih dan interaksi antara karakteristik kognitif, afektif, dan motivasi. Tentunya kita tidak dapat memisahkan ragam karakteristik yang interaktif ini dari cara pengembangan perilaku berbakat anak muda. Maka dari itu, pengembangan kecerdasan pada anak-anak di luar kurva normal sama pentingnya dengan kontribusi yang dapat diberikan pada bidang tertentu sebagai penanda keberhasilan program berbakat secara akademisi (Renzulli, 2012).

 

Referensi:

Falk, R. F., & Piechowski M.M., (2014). Criteria for rating the intensity of overexcitabilities (2nd Ed.) CO: Institute for the Study of Advance Development.

Pfeiffer, S. I., (2018). Handbook of giftedness in children. (2nd Ed.) Psyhoeducational Theory, Research, and Best Pratices. FL: Springer.

Renzulli, J. S. (2012). Reexamining the role of gifted education and talent development for the 21 century: a four-part theoretical approach.

Renzulli, J. S. (2016).  The three-ring conception of giftedness.  In S. M. Reis (Ed.).  Reflections On Gifted Education (pp. 55 – 86).  Waco, TX: Prufrock Press