ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 45 November 2025

#KaburAjaDulu: Kutu Loncat 2.0?

 

Oleh:

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo1, Ghazan Athar Krisna1, Hanafi Nur Sya’bani Wahid2 , Eko Wicaksono3,& Reigan Chenartha4

1 Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

2 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Jaya

3 Program Studi Informatika, Universitas Pembangunan Jaya

4 Program Studi Sistem Informasi, Universitas Pembangunan Jaya 

 

Istilah “kutu loncat” kini sering disematkan kepada generasi pekerja masa kini yang sulit bertahan lama di satu perusahaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sebanyak 6,6 juta pekerja Indonesia berganti pekerjaan sepanjang tahun 2024, dengan 69,2% di antaranya berusia 25–44 tahun (Obbiz, 2025).

Perilaku ini dikenal sebagai job hopping, yaitu kebiasaan karyawan berpindah perusahaan setiap satu hingga dua tahun secara sengaja, bukan karena faktor eksternal seperti pemutusan hubungan kerja (layoff) atau penutupan perusahaan (Pranaya, 2014). Salah satu penyebabnya adalah persepsi bahwa perusahaan kurang loyal terhadap karyawannya—tidak cukup peduli terhadap kesejahteraan dan pengembangan mereka.

 

Beberapa faktor turut melatarbelakangi perilaku job hopping. Komitmen organisasi, yakni dorongan internal untuk tetap menjadi bagian dari organisasi (Colquitt et al., 2015), terbukti berperan penting: semakin tinggi komitmen, semakin rendah kecenderungan berpindah kerja (Anggraeni & Syarifah, 2022). Faktor lain adalah stres kerja—ketika individu merasa kehilangan kendali atas pekerjaannya atau kurang mendapat dukungan dari lingkungan, muncul dorongan untuk mencari tempat kerja baru (Maryam, 2017).

 

Selain itu, kepuasan kerja (job satisfaction) juga memegang peranan kunci. Kepuasan terhadap gaji, rekan kerja, atasan, dan lingkungan kerja terbukti memengaruhi niat berpindah (Colquitt et al., 2015; Kusuma & Ratnasari, 2024). Lebih jauh lagi, teori dua faktor Herzberg (1959) menekankan pentingnya faktor motivator seperti makna kerja, pengakuan, dan kesempatan berkembang. Tanpa elemen-elemen tersebut, individu cenderung cepat jenuh meski memperoleh kompensasi tinggi (Giroux, 1960).

Survei The Jakarta Consulting menunjukkan bahwa 60% generasi milenial cenderung pindah kerja sebelum dua tahun, sedangkan di antara generasi Z hanya 24% yang bertahan lebih dari dua tahun (Rizti, 2024). Fenomena ini kini meluas hingga lintas negara, tercermin dalam tren “#KaburAjaDulu”, di mana banyak anak muda memilih bekerja di luar negeri. Data KP2MI (2025) mencatat bahwa 207.090 warga Indonesia bekerja di luar negeri pada 2024, sebagian karena kondisi dalam negeri yang dianggap kurang mendukung (Dealls, 2025).

 

Namun, penelitian Iswenda (2024) menemukan sisi positif: jika perusahaan memberikan dukungan nyata terhadap karyawannya, 59% generasi Z memilih untuk bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda kini memandang pekerjaan bukan semata soal money, tetapi juga meaning. Dengan demikian, baik kondisi organisasi maupun kondisi nasional berperan penting dalam menentukan loyalitas generasi muda terhadap dunia kerja. Jika aspek-aspek ini diabaikan, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan “musim kedua” dari tren #KaburAjaDulu.

 

Daftar Pustaka

Anggraeni, M., & Syarifah, D. (2022). Pengaruh komitmen organisasi terhadap intensi job hopping pada karyawan generasi milenial dengan workplace spirituality sebagai variabel moderator. Buletin Riset Psikologi Dan Kesehatan Mental.

Colquitt, J. A., Lepine, J. A., & Wesson, M. J. (2015). Organizational behavior (T. Hauger, Ed.; Fourth Edition). McGraw-Hill Education.

Dealls. (2025, February 17). Apa Itu Tren #KaburAjaDulu? Ini Peluang Kerja di Luar Negeri! Dealls. https://dealls.com/pengembangan-karir/kabur-aja-dulu

Giroux, C.-R. (1960). The Motivation to work, by F. Herzberg, B. Mausner and B.-C. Snyderman, John Wiley & Sons, New York, John Wiley & Sons, 1959. Relations Industrielles, 15(2), 275. https://doi.org/10.7202/1022040ar

Iswenda, B. A. (2024, October 18). Lingkungan kerja yang nyaman buat gen z enggan resign. GoodStats. https://goodstats.id/article/lingkungan-kerja-yang-nyaman-membuat-gen-z-enggan-resign-ssziB

KP2MI. (2025, February 19). Tanggapi Tagar KaburAjaDulu, Menteri Karding Berpesan untuk Tingkatkan Keahlian. KP2MI. https://www.kp2mi.go.id/berita-detail/tanggapi-tagar-kaburajadulu-menteri-karding-berpesan-untuk-tingkatkan-keahlian

Kusuma, N., & Ratnasari, A. S. (2024). Pengaruh kepuasan kerja dan pengembangan karir terhadap job hopping intention pada karyawan generasi milenial di kota palembang pada industri makanan ringan. Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis Universitas Multi Data Palembang, 14(1).

Maryam, S. (2017). Strategi Coping: Teori dan Sumberdayanya. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1(2), 101–107.

Obbiz, M. (2025, August 24). Tahun 2024 lebih kurang 6 juta penduduk indonesia berganti pekerjaan. Obrolan Bisnis.

Pranaya, D. (2014). Job hopping - An analytical review. IMPACT : International Journal of Research In Business Management, 2(4).

Rizti, F. (2024, June 12). Mayoritas gen z bertahan 1-2 tahun di tempat kerja, apa sebabnya? GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/mayoritas-gen-z-bertahan-1-2-tahun-di-tempat-kerja-apa-sebabnya-Pzwha