ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 45 November 2025

"Kabur Aja Dulu": Refleksi Kegelisahan Gen Z di Persimpangan Jalan

Oleh:

Fakhri Aziz Allfath
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Dalam beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial di Indonesia diramaikan oleh sebuah frasa yang menjadi semacam mantra bagi kaum muda: #KaburAjaDulu. Ungkapan ini, yang viral sejak 2023, mencerminkan keresahan sekaligus aspirasi Generasi Z (Gen Z) terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik di tanah air. Hashtag ini bukan sekadar tren digital, melainkan telah menjadi simbol "resistensi budaya" atau "protes satir" yang menyuarakan kekecewaan mendalam atas terbatasnya akses pekerjaan, mahalnya biaya pendidikan, dan minimnya peluang pengembangan karier di dalam negeri.

 

Fenomena ini adalah cerminan realitas psikologis Gen Z yang merasa tertekan dengan biaya hidup yang terus meroket. Skala masalah ini terkonfirmasi oleh data. Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 41% responden Gen Z di Indonesia memiliki rencana untuk meninggalkan Indonesia. Keinginan ini terefleksi dalam data brain drain yang nyata, di mana antara tahun 2019 dan 2022, setidaknya 3.912 Warga Negara Indonesia telah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Singapura (Fachrie & Wahyudi, 2025). Tulisan ini akan menguraikan bagaimana #KaburAjaDulu merupakan refleksi dari meningkatnya future anxiety (kecemasan akan masa depan) yang berakar kuat pada ketidakpastian sosial-ekonomi.

Pada dasarnya, fenomena ini adalah puncak gunung es dari future anxiety—ketakutan dan ketidakpastian mengenai perubahan yang tidak diinginkan di masa depan (Zaleski 1996, dalam Mujibah & Faizah, 2023). Gen Z adalah generasi yang rentan terhadap isu kesehatan mental ini. Sebuah studi oleh Mujibah & Faizah (2023) menemukan bahwa 66,2% Gen Z di Yogyakarta memiliki tingkat future anxiety pada kategori moderat. Kecemasan ini tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dipicu oleh kondisi nyata.

 

Pemicu utamanya adalah kerawanan finansial (financial insecurity) dan pasar kerja yang tidak sepadan. Di Indonesia, rata-rata upah minimum (sekitar US$223/bulan) jauh tertinggal dibandingkan negara tujuan migrasi populer seperti Singapura (US$2131) (Lauren et al., 2025). Kesenjangan ini memicu frustrasi, ditambah dengan data BPS yang menunjukkan bahwa 842.378 pengangguran adalah lulusan universitas (Fachrie & Wahyudi, 2025). Kondisi ini diperparah oleh ketidakpuasan terhadap sistem publik, mulai dari birokrasi, korupsi, hingga minimnya investasi negara pada riset dan pengembangan (Putri, 2025; Fachrie & Wahyudi, 2025).

Kondisi ini dapat dianalisis menggunakan teori "Push and Pull" (Lauren et al., 2025). Faktor pendorong (push) dari dalam negeri adalah semua yang telah disebutkan: gaji tidak kompetitif, lapangan kerja sempit, dan ketidakpuasan sosial-politik. Di sisi lain, faktor penarik (pull) dari luar negeri sangat kuat. Daya tarik ini tidak hanya soal upah yang lebih tinggi, tetapi juga janji akan kualitas hidup yang lebih baik, sistem hukum yang lebih adil, dan perlindungan hak buruh yang lebih jelas (Lauren et al., 2025).

Selain itu, terdapat faktor penarik psikologis yang krusial, yaitu aspirasi pengembangan diri (self-development) (Putri, 2025). Gen Z adalah generasi global yang melihat bekerja di lingkungan multikultural sebagai bagian dari pembentukan identitas. Namun, aspirasi ini sering berbenturan dengan narasi nasionalisme. Gerakan #KaburAjaDulu telah memicu perdebatan publik di mana mereka yang ingin pergi dituduh "tidak patriotik" (Fachrie & Wahyudi, 2025). Dilema ini menempatkan Gen Z di persimpangan jalan identitas, terjebak antara pilihan rasional untuk mengembangkan diri dan stigma sosial yang mengikutinya.

Menghadapi hal ini, solusi memerlukan pendekatan dua arah. Di tingkat individu, resiliensi dan dukungan sosial menjadi kunci untuk mengelola kecemasan (Mujibah & Faizah, 2023). Namun, membebankan solusi hanya pada individu tidaklah adil, sebab keresahan ini adalah respons rasional terhadap kegagalan institusional (Fachrie & Wahyudi, 2025). Oleh karena itu, diperlukan reformasi sistemik. Para ahli telah mengusulkan langkah-langkah konkret, seperti peningkatan investasi nyata pada R&D, reformasi birokrasi berbasis meritokrasi (bukan nepotisme), dan mengubah paradigma brain drain menjadi brain circulation dengan melibatkan diaspora (Fachrie & Wahyudi, 2025; Putri, 2025).

 

Fenomena #KaburAjaDulu adalah cerminan kegelisahan nyata Gen Z terhadap masa depan mereka. Ia harus dipandang sebagai sinyal penting bagi pembuat kebijakan, institusi pendidikan, dan masyarakat. Keresahan ini adalah data berharga yang menunjukkan kebutuhan mendesak untuk menyediakan kesempatan yang lebih adil dan transparan di tanah air. Dengan membenahi akar masalah—bukan sekadar menyalahkan individu—tren migrasi ini dapat menjadi pemicu perubahan kolektif demi menciptakan kondisi hidup yang lebih layak, di mana setiap talenta muda merasa dihargai dan memiliki ruang untuk bertumbuh di Indonesia.

 

Daftar Pustaka

AI : Gemini (membantu penulis mencari ide dan jurnal)

Fachrie, M., & Wahyudi, H. (2025). The dilemmatic relationship between Indonesia's government and individuals in the case of Runaway First or #KaburAjaDulu. KEMUDI: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 10(1), 12–24.

Lauren, A., Aryani, S., Bella, A., Eliza, D., & Maelani. (2025). Makna tren #KaburAjaDulu dalam mendorong keinginan migrasi generasi muda di Indonesia. Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ), 2(2), 2620–2628. http://ipssj.com

Mujibah, S. N., & Faizah, I. N. (2023). Description of future anxiety on Generation Z. International Proceeding 1st ICPSYH2, 1(17), 149–156.

Putri, E. E. (2025). Generasi Z dan brain drain: Apa yang mendorong talenta untuk pergi? Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 4(1), 68–77.