ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 45 November 2025
Bolehkah Hidup Selalu Berpura-Pura?
Oleh:
Luthfiyah Rizki Fadhilah & Chandra Yudistira Purnama
Fakultas Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani
Dalam lingkungan kehidupan sosial modern yang dipenuhi ekspektasi dan tekanan, banyak individu merasa terdorong untuk menampilkan citra ideal yang belum tentu mencerminkan kenyataan. Kepura-puraan menjadi strategi bertahan yang umum, namun dari sudut pandang psikologi, fenomena ini menyimpan kompleksitas yang mendalam dan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan mental.
Secara psikologis, kepura-puraan dapat dikaitkan dengan konsep false-self yang diperkenalkan oleh Donald Winnicott. Individu yang mengembangkan false-self cenderung menyesuaikan diri secara ekstrem dengan harapan eksternal, sehingga mengorbankan ekspresi diri yang autentik. Meskipun hal ini dapat memberikan rasa aman sementara, dalam jangka panjang, individu berisiko mengalami disonansi internal, yaitu ketidaksesuaian antara identitas yang ditampilkan dan identitas yang dirasakan.
Penelitian oleh Hochschild (1983) tentang emotional labor juga relevan dalam konteks ini. Ketika seseorang secara konsisten menampilkan emosi yang tidak sesuai dengan kondisi batin mereka, misalnya berpura-pura bahagia saat mengalami tekanan, maka mereka melakukan kerja emosional yang melelahkan. Penelitian Al-Khouja et al. (2022) memberikan bukti empiris mengenai hal ini. Dalam penelitiannya mereka mengembangkan skala untuk membedakan antara ekspresi autentik (authentic expression) dengan ekspresi tidak autentik (inauthentic expression). Ditemukan bahwa kedua bentuk ekspresi ini adalah faktor yang berbeda, dimana ekspresi tidak autentik yang pada dasarnya merupakan bentuk kepura-puraan atau emotional labor secara signifikan berhubungan dengan kepuasan otonomi yang rendah dan memunculkan afek negatif yang lebih besar karena individu merasa tidak bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Pendekatan ini sangat selaras dengan teori self-determination (Ryan & Deci, 2017), yang menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki tiga kebutuhan dasar psikologis: otonomi (kebutuhan untuk merasa bebas menentukan tidaakan sesuai dengan diri sendiri), kompetensi (kebutuhan untuk merasa mampu dan efektif dalam bertindak di lingkungan), dan relasi (kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain). Ketika seseorang dapat mengekspresikan dirinya secara autentik, maka kemungkinan besar ketiga kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara optimal.
Namun, saat seseorang terlalu sering untuk hidup dalam kepura-puraan, terutama untuk mendapatkan penerimaan secara sosial, maka kebutuhan otonomi dan keaslian diri akan terhambat. Akibatnya, muncul perasaan tertekan, terasingkan, dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa di era modern sekarang banyak orang yang secara sosial tampak berhasil khususnya di sosial media, namun secara batin merasa kosong dan sebenarnya tidak bahagia dalam menjalani hidupnya yang penuh dengan kepura-puraan untuk memenuhi ekspektasi sosial. Akumulasi dari kerja emosional ini dapat menyebabkan kelelahan psikologis, stres kronis, dan bahkan depersonalisasi. Lebih lanjut, kepura-puraan yang berkelanjutan dapat mengganggu perkembangan self-concept dan self-esteem. Individu yang merasa harus menyembunyikan bagian dari diri mereka untuk diterima cenderung mengalami penurunan harga diri dan kesulitan dalam membentuk identitas yang stabil. Hal ini diperkuat oleh studi Taylor dan Brown (1988), yang menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara diri ideal dan diri nyata dapat memicu kecemasan dan depresi.
Dari perspektif psikologi humanistik, khususnya teori dari Carl Rogers, keaslian (authenticity) dan penerimaan diri merupakan komponen esensial dari kesehatan mental. Sebuah meta-analisis besar oleh Anna Suton (2019), yang meneliti mengenai hubungan antara authenticity, kesejahteraan, dan keterlibatan, mendefinisikan bahwa hidup yang baik merupakan gabungan dari tiga elemen tersebut. Sejalan dengan hal itu, studi Al-Khouja et al. (2022) juga menunjukkan bahwa ekspresi autentik secara konsisten memprediksi hasil yang positif, termasuk kepuassan kebutuhan psikologis dasar (otonomi, keterhubungan) dan peningkatan kesejahteraan. Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard, yaitu penerimaan tanpa syarat, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain, sebagai dasar untuk pertumbuhan psikologis. Ketika individu merasa aman untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya, mereka lebih mampu membangun hubungan yang tulus dan bermakna. Namun, dalam perspektif psikologi juga mengakui bahwa kepura-puraan tidak selalu bersifat patologis. Dalam konteks sosial tertentu, seperti dunia kerja atau interaksi profesional, adaptasi terhadap norma dan ekspektasi merupakan bagian dari kecerdasan sosial yang kadang ditampilkan dalam bentuk perilaku berpura-pura untuk sesaat. Hal yang menjadi masalah adalah ketika kepura-puraan dilakukan dalam waktu yang lama bahkan menjadi gaya hidup utama dan menghambat ekspresi diri yang sehat.
Fenomena kepura-puraan ini sangat jelas terjadi pada lingkup remaja, dimana pada masa tersebut jati diri merupakan hal yang sangat dicari. Dalam tinjauan Alchin et al. (2023), menjelaskan bahwa autentisitas pada masa remaja merupakan indikator penting dari kesehatan psikososial. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa remaja yang mempunyai dukungan sosial dari orang tua dan teman sebaya cenderung tinggi tingkat autentisitasnya, sedangkan remaja yang merasa tidak diterima secara sosial lebih rentan mengalami false-self behavior atau perilaku diri palsu. Autentisitas yang tinggi saling berkaitan positif dengan harga diri, kesejahteraan subjektif, fan kualitas hubungan sosial. Sedangkan inautentisitas berkaitan dengan meningkatkan depresi, kecemasan, bahkan kecanduan internet.
Kepura-puraan akan menjadi dampak yang berbahaya ketika dilakukan tanpa sadar dan menjadi suatu pola hidup seseorang. Individu yang terus menerus menampilkan versi diri yang tidak sesuai dengan aslinya lama kelamaan akan mengalami self-alienation yang merupakan perasaan terputus dari dirinya sendiri. Seseorang yang hidup dalam kepura-puraan mungkin akan terlihat baik-baik saja di luarnya, namun di dalam dirinya akan muncul konflik yang melelahkan.
Untuk mengatasi dampak negatif dari kepura-puraan, pendekatan psikoterapi seperti terapi kognitif perilaku (CBT) dapat membantu individu mengenali pola pikir yang maladaptif dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih sehat. CBT mendorong individu untuk mengidentifikasi distorsi kognitif, seperti keyakinan bahwa “saya harus selalu terlihat sempurna agar diterima,” dan menggantinya dengan pemahaman yang lebih realistis dan penuh penerimaan. Kesimpulannya, dari sudut pandang psikologi, hidup dalam kepura-puraan adalah respons terhadap tekanan sosial yang dapat dimengerti, namun memiliki konsekuensi serius jika berlangsung terus-menerus. Keaslian, penerimaan diri, dan keberanian untuk menunjukkan sisi rentan adalah fondasi dari kesehatan mental yang kokoh. Masyarakat dan lingkungan sosial perlu menciptakan ruang yang aman bagi individu untuk mengekspresikan diri secara jujur, tanpa takut akan penolakan atau stigma. Penerimaan diri bukan akhir dari perubahan, melainkan awal dari pertumbuhan diri yang sejati.
Daftar Pustaka
Alchin, C. E., Machin, T. M., Martin, N., & Burton, L. J. (2024). Authenticity and inauthenticity in adolescents: a scoping review. Adolescent Research Review.
Al-Khouja, M., Weinstein, N., Ryan, W., & Legate, N. (2022). Self-expression can be authentic or inauthentic, with differential outcomes for well-being: Development of the authentic and inauthentic expression scale (AIES). Journal of Research in Personality
Hochschild, A. R. (1983). The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling. University of California Press.
Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist's View of Psychotherapy. Houghton Mifflin.
Sutton, A. (2020). Living the good life: A meta-analysis of authenticity, well-being and engagement. Personality and Individual Differences,
Taylor, S. E., & Brown, J. (1988). Illusion and Well-Being: A Social Psychological Perspective on Mental Health. Psychological Bulletin.
