ISSN 2477-1686

Vol.2. No.12, Juni 2016

 

Derita Dosen Menghadapi Digital Natives dan Bagaimana Mengatasinya

Nuri Sadida

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI, Jakarta

Apakah Anda Sebagai Dosen Pernah Mengalami Ini?

Pengalaman saya ketika mengajar sesi terakhir dalam satu semester genap di salah satu kelas Fakultas Teknik. Pada saat itu kelas hanya terisi kurang lebih 2/3 mahasiswa, sehingga banyak kursi kosong di dalam kelas. Pada saat presentasi situasi kelas makin riuh oleh mahasiswa yang mengobrol dan duduk bergerombol di lantai pojok belakang kelas sambil mengerjakan tugas yang belum selesai dikerjakan. Ketika saya tegur, suasana kembali kondusif namun tidak lama mereka mengobrol lagi. Apakah anda pernah menjumpai situasi yang sama? Mahasiswa menggunakan earphone untuk mendengarkan musik, asik mengecek media sosial, mengirim pesan digital atau terlambat datang dan cuek saja masuk ke dalam kelas. Selain itu, mahasiswa juga berkomunikasi dengan bahasa yang tidak sopan ketika mengirim pesan kepada dosen, mengirim pesan di waktu tengah malam atau memaksa berdiskusi pada jam istirahat.

Mengapa Mahasiswa Bertindak di Luar Etika Kesopanan

Hal pertama yang harus kita sadari adalah kita sedang menghadapi generasi digital natives. Digital natives merupakan sebutan March Prensky pada tahun 2001 untuk menamai kohort generasi yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan banjir informasi teknologi. Mereka fasih menggunakan alat teknologi, ahli memahami bahasa digital dari komputer, games, dan internet. Mereka bekerja, berpikir, dan belajar dengan cara yang berbeda dengan generasi non-digital sebelumnya (Kelly, F. S; McCain, T. & Jukes, I. dalam Kivunja, C, 2014). Survey yang dilaporkan NCB University Press tahun 2001 menyebutkan bahwa mereka menghabiskan 10.000 jam bermain video games, 20.000 jam menonton televisi per tahun, jauh lebih banyak dibandingkan jam yang dihabiskan untuk membaca buku yang hanya sejumlah 5.000 jam. Jumlah jam untuk mengakses komputer, internet, dan ponsel pintar bisa dibilang mendominasi keseharian mereka (Ramdhani, 2014). Interaksi yang intens dengan internet menyebabkan mereka terbiasa menerapkan sifat interaksi internet “minimized authority” di dunia nyata. Menurut Suler (dalam Davies & Denecker, 2011), “minimized authority” berarti tidak adanya sosok yang lebih berwenang dari yang lain. Di internet semua orang dianggap setara, walaupun berbeda usia, peran, dan status sosial.

Perilaku mengirim pesan digital di dalam kelas menjadi perhatian serius bagi salah satu staf pengajar Universitas Syracuse, professor Laurence Thomas. Laurence memiliki kebijakan jika kedapatan mahasiswa mengirim pesan digital di dalam kelas, maka Laurence akan mengakhiri perkuliahan dan meninggalkan kelas. Kebijakan tersebut kemudian memicu kontroversi. Laurence berpendapat, bahwa dosen sudah mengeluarkan usaha besar untuk membina mahasiswa, namun mahasiswa tidak menghargai usaha tersebut. Sementara mahasiswa berpendapat “kami mahasiswa adalah pelanggan, dapat membuat pilihan memperhatikan kuliah atau tidak. Dosen sudah digaji untuk mengajar, maka seharusnya dosen masuk kelas dan mengajar” (Jaschik, dalam Davies & Denecker, 2011).  

Penelitian Kelly, McCain, dan Jukes (dalam Kivunja, 2014) menyimpulkan bahwa model pendidikan di sekolah dan kampus yang selama ini berlaku (guru/ dosen menulis di papan, menampilkan materi, murid/ mahasiswa duduk mendengarkan) sudah tidak selaras dengan kebutuhan mahasiswa di abad 21 ini. Bahkan jika materi dipaparkan pada program power point sekalipun. Secara radikal, James Mattis dalam sebuah konferensi pada tahun 2010 mengatakan “Power Point Makes Us Stupid”, yang kemudian menjadi headline terkenal banyak media massa. Bukankah judul headline tersebut terasa menohok namun benar adanya?

Lalu apa yang dapat kita (para pengajar) lakukan?

Belajar bukan hanya sekedar mentransfer pengetahuan. Sukses belajar adalah mahasiswa mampu mengembangkan kompetensi yang berguna bagi kehidupan termasuk memahami norma dan sopan santun. Bahkan sopan santun harus didahulukan sebelum mempelajari informasi baru, seperti yang disampaikan Imam Malik pakar fikih Manners Before Knowledge”. Ada beberapa tips yang disarankan oleh Davies dan Denecker (2011) ini mungkin dapat memberikan inspirasi bagi kita :

1.  Perjelas etika mahasiswa yang menjadi ekspektasi anda di awal pertemuan dengan mahasiswa.

Anda dapat menjelaskan ekspektasi anda di awal kelas sebelum kuliah, di awal memulai bimbingan dengan mahasiswa, atau di awal kegiatan apapun yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan anda.

2.    Konsisten dengan aturan yang anda buat

Apabila anda sudah membuat aturan di awal. Taati aturan yang anda buat, termasuk sanksi yang sudah ditetapkan di awal.

3.    Contohkan perilaku yang anda harapkan dengan jelas

Ajarkan tata cara atau urutan berkomunikasi dengan dosen. Bagaimana membuat pesan yang ditujukan untuk seseorang yang lebih tua atau seseorang di luar lingkungan kampus.

4. Pahami bahwa keahlian mereka menggunakan alat teknologi dapat anda gunakan membentuk komunikasi yang lebih efektif dalam kegiatan akademik sehari-hari.

Referensi:

Kivunja, C. (2014). Theoretical Perspectives of How Digital Natives Learn. International Journal of Higher Education. Vol. 3, No. 1

Davies, C. L & Denecker, C. M (2011). Meeting Them Where They Are: Millennials, Technology, and Academic Etiquette.  International Journal of Applied Science and Technology . Vol. 1 No. 5.

Ramdhani, N. (2014). Moral Education for General Education. Diakses 27 Mei 2016 dari http://neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wp-content/uploads/2014/02/Moral-Education-for-Digital-Generation.ppt.pdf