ISSN 2477-1686

Vol.2. No.11, Juni 2016

Kekerasan Seksual: Cederanya Nurani

Akibat Minimnya Fungsi Holistic Parenting

 

Sri W Rahmawati

Fakultas Psikologi, Universitas Tama Jagakarsa

 

Adakah pilu yang lebih menyayat dibandingkan berita yang kita dengar pada hari-hari ini?

Masih menggunakan seragam pramuka, YY (14 tahun) yang mahir mengaji, tidak pernah sampai ke rumah sejak pulang sekolah di siang hari itu. Jasadnya dalam keadaan amat mengenaskan ditemukan di dasar jurang sedalam 5 meter. 14 orang tersangka yang dijerat dengan pasal pencabulan, kekerasan seksual dan pembunuhan, hampir separuhnya masih tergolong anak-anak dengan usia di bawah 17 tahun. 

Ketiga laki-laki ini tidak saling mengenal, namun karena cintanya bertepuk sebelah tangan, RA (16 tahun), RAr (24 tahun) dan IH (24 tahun) melampiaskan dendamnya dengan amat sadis di ujung pergantian malam. Dan adalah E (19 tahun,) gadis berparas manis menemui ajalnya dengan cara yang tidak pernah terbayangkan: meregang nyawa dengan cangkul menancap di tubuhnya. Dan semua lagi-lagi diawali dengan pencabulan dan kekerasan seksual, sebelum akhirnya E dibunuh dan ditinggalkan begitu saja di kamar mess pekerja tempatnya sehari-hari tinggal.

Darurat kekerasan seksual, kata-kata ini tiba-tiba menjadi hits dalam beberapa pekan terakhir. Berduyun-duyun masyarakat, pejabat pemerintahan, anggota DPR, ahli hukum, pendidik dan orang tua, mengutuk sekeras-kerasnya, mengusulkan hukuman berat hingga wacana pengebirian, dikenakan terhadap pelakunya. Akankah hal tersebut membawa efek jera? Lalu apakah yang terjadi sesungguhnya pada anak-anak masa kini, hingga separuh dari pelaku kejahatan keji ini bahkan masih tergolong anak usia sekolah?

PENGASUHAN DALAM KELUARGA

Keluarga adalah tempat pertama kali nilai, kebiasaan, tradisi, dan kepatuhan terhadap aturan ditanamkan. Meskipun setiap anak dilahirkan membawa karakter dan watak tersendiri, namun karakteristik individual tersebut akan bergantung pada pola asuh yang diterima dari orang tua (Thomas, dkk, 1968; Bates dkk, 1985; Shaw dkk 2001, dalam Krause, 2009). Kesehatan mental orang tua juga mempengaruhi perkembangan mental anak (Zahn-Wazler dkk, 1988 dalam Krause, 2009);  dan pada akhirnya mempengaruhi terbentuknya tingkah laku anak (Zahn-Waxler dkk, 1990; O’Leary dkk, 1999 dalam Krause, 2009).

Banyak orang tua yang yang mempraktikkan pengasuhan berdasarkan intuisi yang mereka miliki, ataupun contoh yang turun temurun diterima dari kakek-nenek. Ironisnya, sering orang tua lupa, bila anak-anak kini menghadapi hidup yang tidak sesederhana seperti masa sebelumnya (Mount, 2002). Serbuan gagdet dengan beragam fitur kekerasan, pornografi, gambar-gambar tak senonoh, menari-nari setiap hari menarik gejolak anak-anak muda untuk membukanya. Menikmatinya dan kemudian kecanduan. Fenomena tersebutlah yang ditemukan pada pelaku kekerasan seksual: pornografi menjadi santapan sehari-hari yang disajikan lewat benda bernama gadget, tanpa kontrol, tanpa pengawasan orang tua, tanpa sensor pemerintah, tanpa batas kuota. Maka marilah kemudian kita semua berkaca pada perilaku anak-anak kita sekarang.

HOLISTIC PARENTING

Masyarakat Indonesia sejatinya dikenal sebagai masyarakat yang religius. Islam sebagai agama mayoritas di negara ini, memiliki khasanah pengasuhan anak yang bersifat holistic (utuh dan terpadu). Untuk menjadi orang tua yang efektif maka prinsip-prinsip pengasuhan dalam Islam memiliki langkah yang sistematis (Ulwan, 2014). Dalam pengasuhan, idealnya orang tua memulainya dengan menerapkan integrated role model (qudwah hasanah) pada anak, yaitu satunya kata, sikap dan perbuatan yang dicontohkan lebih dahulu oleh orang tua sebelum meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Setelah itu, orang tua perlu melakukan teknik habituation/pembiasaan (al ‘addah), yaitu membiasakan anak menegakkan aturan yang sudah disepakati dalam keluarga secara konsisten. Effective advice (nasehat yang efektif/al mau’idzah) sebagai teknik berikutnya, menyediakan peluang seluas-luasnya kepada anak untuk mengkomunikasikan apa yang menjadi permasalahannya; dan kemudian  orang tua secara bijak dapat mengarahkannya melalui nasehat yang tidak menggurui. Setelah itu, orang tua perlu melakukan care and control/ al mulahadzah (memberikan curahan perhatian dan penegakkan kontrol terhadap tingkah laku anak). Bentuknya: memperhatikan kebutuhan anak sesuai tahap usianya, memperhatikan kebiasaaan yang dilakukan anak, memberinya dukungan ketika menampilkan perilaku positif; namun juga melakukan kontrol secara ketat ketika terjadi penyimpangan tingkah laku. Dan akhirnya, teknik proportional consequences (pemberian konsekuensi secara proporsional/ al ujarah wa al uqobah) dapat diterapkan setelah keempat teknik sebelumnya teraplikasikan, berupa pemberian reward bagi anak saat melakukan perilaku positif; dan sebaliknya pemberian sanksi setegas-tegasnya saat anak melanggar aturan dan nilai normatif.

TANGGUNG JAWAB MASYARAKAT DAN PEMERINTAH

Anak-anak kita sekarang hidup dalam keadaan parent hungry: ‘lapar’ pada keberadaan orang tua dalam semua fungsi pengasuhannya. Tidak hanya di rumah, tapi juga dalam keseharian hidup bermasyarakat, bahkan pada tataran negara. Bukankah sulit sekali menemukan para pejabat negara yang patut menjadi role model dalam satunya kata, sikap dan perbuatan? Bukankah seperti mencari jarum di tumpukan jerami menemukan anggota DPR terhormat, yang mampu menyampaikan komunikasi dan nasehat secara efektif kepada konstituennya dengan sikap tulus tanpa pamrih? Bukankah sudah terbiasa kita menyaksikan ketidakonsistenan dalam pengambilan kebijakan pendidikan, yang kemudian dampaknya terasa di sekolah-sekolah? Bukankah kita semua lazimnya hanya memberikan perhatian yang sifatnya semu pada kasus-kasus besar yang terjadi di negara ini, untuk kemudian melupakannya; sekaligus luput melakukan kontrol agar kasus serupa tidak terulang? Mengabaikan langkah-langkah bertahap dalam pengasuhan dan edukasi; menyederhanakan penyelesaian pelik kasus kekerasan seksual pada sekadar penerapan sanksi hukuman berat; bukanlah langkah yang tepat bila merunut tahap-tahap pendekatan holistic parenting di atas. Dampaknya kemudian adalah sulitnya menangani permasalahan kekerasan seksual secara tuntas hingga akar penyebabnya. Maka, sudah saatnya kita semua tanpa terkecuali berbesar hati melakukan introspeksi diri. Mengimplementasikan fungsi pengasuhan secara utuh pada anak-anak bangsa ini. Sehingga rasa getir dan pilu yang menyayat ini, tak lagi terulang di masa depan.

 

*********************

Referensi:

Krause, P. H., & Dailey, T. (Eds). (2009). Handbook of parenting: Styles, Stress and      Strategies. NY: Nova Science Publishers, Inc.       

 

Mount, N. S. (2002). Parental management of adolescent peer relationships in context: The          role of parenting style. Journal of Family Psychology, 16(1), 58−69.

 

Ulwan, A. N. (2014). Pendidikan Anak dalam Islam. Solo: Penerbit Insan Kamil.

 

http://www.bintang.com/lifestyle/read/2502194/yuyun-tinggal-dilingkungan-paling-menyeramkan-untuk-anak-anak.

 

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2016/05/18/bermula-dari-hal-sepele-ini-alasan-mengejutkan-tiga-tersangka-pembunuh-eno-parihah