(Mahasiswa Program Doktor Psikologi, Universitas Persada Indonesia-YAI Jakarta)

Sejak awal penciptaan manusia terdiri atas laki-laki dan perempuan. Manusia yang ideal pada dasarnya berbeda namun berpasangan untuk saling melengkapi dan berpeluang membentuk hubungan batin, menjalin ikatan kasih kekeluargaan, serta mendukung kesinambungan generasi melalui kesempatan berketurunan dan melestarikan bumi ciptaan Tuhan.

Perkembangan dunia memunculkan fenomena terbentuknya berbagai komunitas: bangsa, ras, seperjuangan, seperasaan, senasib, satu minat dan sebagainya. LGBT akronim dari “Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender” merupakan salah satu fenomena kaum ‘sodomites’ dan ‘homosex’ secara resmi disebutkan pada tahun 1960. LGBT menggantikan frasa “Komunitas Gay” tahun 1990 resmi di beberapa negara. Ternyata kehadirannya memunculkan perhatian dan perbincangan di tengah masyarakat luas, akademisi dan rohaniawan. LGBT lahir dari ideologi Sekulerisme-Kapitalisme, memiliki asas pemisahan agama dari kehidupan dengan empat bentuk kebebasan yaitu: beragama, kepemilikan, berpendapat, dan berperilaku menuai tanggapan pro dan kontra.

Pandangan yang menerima LGBT dilandasi oleh hak asasi atau kebebasan manusia. LGBT awalnya termasuk golongan penyakit psikologi  dalam taraf penanganan atau kategori khusus; Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder I (DSM I) tahun 1952 menyatakan bahwa homoseksual adalah gangguan sosio phatik, tidak sesuai dengan norma sosial, sehingga merupakan perilaku yang abnormal. Pada 1968 DSM II menyatakan homoseksual merupakan penyimpangan seks (sex deviation), dipindahkan dari kategori gangguan sosio phatik. Lima tahun kemudian pada 1973, DSM III menyatakan  homoseksual merupakan gangguan sejauh orientasi seksual tersebut mengganggu diri pengidap. Kemudian hasil revisi DSM III mengungkapkan homoseksual bukan lagi sebagai gangguan. Bahkan menurut Robert L. Spitzer (ketua komite pembuatan DSM III) menyatakan bahwa homoseksual tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual.

Pandangan yang sama berlanjut pada DSM IV. Demikian legalitas pernikahan sejenis menjadi fenomena bagi beberapa negara seperti: Belanda (1980), Norwegia (1993), Belgia (2003), Spanyol dan Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Swedia (2008), Portugal dan Mexico (2009), Islandia dan Argentina (2010). North Carolina (2012) mengubah konstitusi tentang legalitas pernikahan sejenis. Pada tahun 2015 Presiden Obama memberikan penyataan “All Americans are entitled to the equal protection of the law" secara resmi mendukung kebebasan kaum LGBT untuk menikah.

Sekalipun dalam kajian ilmu Psikologi, LGBT khususnya homoseksual bukan lagi merupakan sebuah penyimpangan, tetapi menurut norma susila dan agama LGBT adalah penyimpangan. Perbedaan pandangan pro dan kontra tersebut, mengharapkan kehadiran berbagai elemen yang bersedia memberikan penanganan secara arif bijaksana seperti Negara,  lembaga keagamaan, lembaga pendidikan maupun lembaga keluarga. Sebagaimana Menteri Agama Republik Indonesia,  Lukman Hakim Saifuddin, dalam menyoroti adanya tuntutan sebagian masyarakat agar melegalkan pernikahan sejenis di Indonesia,  menanggapi dengan arif, sehingga memberi keleluasaan bagi masyarakat luas untuk lebih bijaksana menyikapi fenomena LGBT.

Membangun sikap bijaksana tersebut  adalah tugas yang berharga dalam mengarahkan pemahaman kepada suatu kesimpulan: bahwa penyandang LGBT adalah individu ciptaan Tuhan, memerlukan perlindungan hak hidup melalui pendekatan sektoral maupun personal.

Jikalau memungkinkan masyarakat luas bersedia membuka diri memahami fenomena yang sedang terjadi adalah hal yang membutuhkan penangan khusus; turut menjaga dan memaknai nilai-nilai kemanusiaan maupun norma keagaamaan di tengah kehidupan sosial lintas budaya, sektoral, regional, multinasional atau global.  Sehingga terbangun sikap bukan melepaskan tangan, saling mempersalahkan atau saling menuduh, melainkan saling membenahi di tengah kehidupan umat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang bermartabat dan saling menghargai.

 

Referensi:

Acronyms, initialisms & abbreviations dictionary, Volume 1, Part 1 Gale Research Co., 1985, ISBN 978-0-8103-0683-7Factsheet five, Issues 32-36, Mike Gunderloy, 1989

Alexander, Jonathan; Karen Yescavage (2004). Bisexuality and Transgenderism: InterSEXions of The Others. Haworth Press

American Psychiatric Association. (1987). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (3rd ed., Revised).

Fenomena LGBT, Menag: Lebih Bijak Mereka Tidak Dijauhi, Tapi Dirangkul” Harian Terbit 5 Juli2015. (http://nasional.harianterbit.com/nasional/2015/07/05/34279//25/Fenomena-LGBT-Menag-Lebih-            Bijak-Mereka-Tidak-Dijauhi-Tapi-Dirangkul-) viewed Agust 2015

https://id.wikipedia.org/wiki/Portal:LGBT, viewed July 2015.

http://jacquitomlins.com/2013/06/01/straight-talk-about-gay-marriage-bishop-gene-robinson/     viewed July24 2015

https://id-id.facebook.com/notes/muslimah-muda-unj/lgbt-fitrah-manusia-ataukah-          konspirasi-penghancur-generasi-terbaik/273286716147317 viwed July24 2015

http://lifeisachoice2012.blogspot.com/2012/11/homoseksual-psikologi-versus-     agama.html,viwed July24 2015

Kennedy, Hubert C. (1980) “The "third sex" theory of Karl Heinrich Ulrichs”, Journal of   Homosexuality. 1980–1981 Fall–Winter; 6(1–2): pp. 103–1

Research, policy and practice: Annual meeting, American Educational Research Association Verlag AERA, 1988.

Same-Sex Marriage: Supreme Court Rules in Favor, President Obama Calls It 'Victory for         America'”  Good Morning America, WASHINGTON  Jun 26, 2015, 11:37 (http://abcnews.go.com/Politics/supreme-court-ends-sex-marriage-ban-nationwide/story?id=31924524)

Zondervan NIV Study Bible. Full ref. ed. Kenneth L. Barker, gen. ed. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2002. Print. ( Gen 1:26-28)