ISSN 2477-1686

 

Vol.2. No.10, Mei 2016

Tumbuh Dan Berkembangnya Intelektualitas Mahasiswa

Mira Sekar Arumi

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta

 

Intelektualitas dan Mahasiswa

Masalah intelektualitas merupakan permasalahan yang tidak hentinya dibahas di kalangan akademisi maupun praktisi pendidikan di Indonesia. Perkembangan zaman dan kemudahan akses untuk memperoleh informasi, tak pelak mempengaruhi gambaran umum mengenai orang intelek dan penggunaan istilah intelektual di berbagai bidang. Secara umum, intelektualitas lebih diartikan sebagai simbol yang sudah melekat pada diri seorang insan akademisi, karena mereka sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu. Hal ini sejalan dengan pengertian intelek secara bahasa, yaitu proses pemikiran yang lebih tinggi, yang berkenaan dengan pengetahuan; daya akal budi; terpelajar; cendekia (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008).

Pemahaman di atas menyatakan bahwa dengan menempuh pendidikan yang cukup panjang, apalagi sampai ke jenjang seorang ‘mahanya’ siswa, maka seseorang sudah dapat dikategorikan sebagai insan yang intelek. Intelektual dalam konteks ini, dipandang sebagai kata benda yang sifatnya lahiriah. Hal ini kemudian mengantarkan kita pada pertanyaan, “Benarkah mahasiswa identik dengan kata intelektual? Apa ciri-ciri mahasiswa sehingga bisa dinyatakan termasuk ke dalam kaum intelektual?”.

Hal ini menjadi menarik, karena pada kenyataannya, mahasiswa saat ini banyak dianggap telah mengalami degradasi intelektualitas. Salah satu penyebabnya adalah akses informasi yang sangat terbuka, yang memudahkan mahasiswa untuk mencari informasi yang berkenaan dengan tugas-tugas kuliah, tanpa perlu membaca dari referensi utamanya, yaitu buku teks perguruan tinggi. Akses internet gratis, yang tadinya ditujukan untuk memudahkan mencari referensi atau bahan bacaan, malah menjadi ‘distraktor’, dimana mahasiswa lebih memilih untuk berselancar atau ‘curhat’ di dunia maya daripada berdiskusi dengan sesamanya atau ‘curhat’ dengan dosen. Lebih parahnya lagi, kemudahan akses informasi ini membuat mahasiswa (dan terkadang juga dosen) menjadi lebih kreatif dalam melakukan plagiasi. Slogan mahasiswa yang mengatakan “sendiri membaca, berdua berdiskusi, bertiga aksi” nampaknya sudah semakin sulit ditemukan pada diri mahasiswa generasi sekarang.

Aspek Intelektualitas

Berdasarkan uraian di atas, ada baiknya kita mencoba menelaah aspek intelektual dari sudut pandang yang berbeda. Ilmu Psikologi misalnya. Dari sudut pandang psikologis, intelektual lebih dilihat dalam konteks kemampuan mental atau intelegensi, yang merupakan representasi dari proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, aspek menilai dan kemampuan mempertimbangkan (Chaplin, 1988).

Aspek intelektualitas seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa jauh seseorang telah menempuh pendidikan, akan tetapi lebih dilihat dari kemampuannya dalam mencerna informasi dan menghubungkannya menjadi sebuah sebab akibat yang logis. Hubungan tersebut kemudian akan dijadikan sumber pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah. Sudut pandang ini tentunya berdampak pada siapa yang pantas dilabeli sebagai individu yang intelek. Jenjang pendidikan tidak lagi dipandang sebagai suatu titik tolak, tapi juga harus memperhitungkan aspek cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah, dan tentunya efektifitas dalam pengambilan keputusan.

Pertumbuhan dan Perkembangan Intelektualitas Mahasiswa

Karena kita sudah mulai mengambil sudut pandang psikologi, tidak ada salahnya jika kita mencoba menelaah lebih dalam mengenai individu yang dianggap sebagai ‘maha’nya siswa ini. Mahasiswa, dari pandangan umum, merupakan sekelompok individu yang telah menyelesaikan masa SMU dan memasuki perguruan tinggi. Ada yang beranggapan jika sudah menjadi mahasiswa mereka sudah dapat dianggap sebagai individu yang dewasa. Dewasa ini dalam pengertian seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya (Elizabeth Hurlock, 2009). Hal ini tidak dapat dikatakan salah. Jika ditilik dari usia perkembangan berdasarkan teori psikologi perkembangan manusia, mahasiswa dapat dikatakan telah memasuki usia dewasa awal (early adulthood). Secara umum, mereka yang tergolong dewasa awal (18 –35 tahun) telah memasuki masa transisi, baik secara fisik, secara intelektual, serta transisi secara peran sosial (Santrock, 2002).

Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Hurlock (2009) mengemukakan bahwa karakteristik dewasa awal yang paling menonjol adalah proses penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dengan memahami konsep usia perkembangannya, kita sepatutnya lebih memahami aspek kebutuhan dan tuntutan yang dihadapi mahasiswa saat ini. Lebih jauh, kita perlu lebih memahami bahwa masa transisi yang dialami seorang mahasiswa, tidak hanya masa transisi jenjang pendidikan, tapi juga masa transisi dari remaja akhir ke dewasa pertengahan atau dewasa madya (35-60 tahun).

Kembali ke aspek intelektualitas, pengertian intelektualitas yang lebih mengarah ke proses kognitif dalam memecahkan masalah, memberikan pemahaman bahwa untuk mendapatkan individu dengan intelektualitas tinggi, terlebih dahulu harus disesuaikan proses berpikirnya dengan tuntutan yang ada. Sementara itu, pengetahuan mengenai masa transisi yang dialami mahasiswa, memberikan pemahaman bahwa proses perubahan cara berpikir ini, tidak lagi dapat dicapai dengan konsep pengajaran klasik yang bersifat satu arah, dan sentralisasi sebagaimana terjadi di bangku sekolah. Hal ini tentunya menjadi misi dari perguruan tinggi, dimana tidak lagi hanya berfungsi sebagai pencetak tenaga kerja, namun juga diharapkan menjadi tempat mendidik dan mengubah cara berpikir manusia dewasa awal yang bernaung di dalamnya menjadi seorang yang terpelajar, dalam arti, mampu menangani permasalahan mental, dalam bentuk yang kompleks dan menjunjung kreativitas.

Metode SCL sebagai Salah Satu Metode Pembelajaran Aktif

Dengan kebutuhan pengajaran untuk mendidik dan mengubah cara berpikir manusia dewasa awal maka salah satu metode yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan metode SCL (Student Centered Learning). SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan  mahasiswa sebagai peserta didik (subyek) aktif dan mandiri, dengan kondisi psikologik sebagai adult  learner, bertanggung  jawab  sepenuhnya  atas  pembelajarannya, serta mampu belajar beyond the classroom.

Metode ini menggaris bawahi pentingnya mendorong mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman menyeluruh atas suatu materi ajar, mendukung keingintahuan dan semangat untuk memperluas pemahaman, merekomendasikan kemampuan untuk menterjemahkan ide-ide yang kompleks ke dalam suatu konteks yang lebih mudah dipahami. Di sisi lain metode ini bermaksud melibatkan, serta mempromosikan pemahaman akan pentingnya kolaborasi sebagai cara untuk mempertajam ide dan pengalaman kelompok. Dengan metode ini diharapkan maha-nya siswa dapat memenuhi harapan yang pernah dilontarkan oleh Mantan Wakil Presiden Kita, Mohammad Hatta dalam pidatonya pada hari alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957. Beliau menyatakan bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab intelektual dan moral. Beliau juga menyatakan bahwa kaum intelektual adalah adalah kaum intelegensi yang tidak boleh bersifat pasif, namun sebagai entitas yang diharapkan mampu berperan aktif dalam memberikan pengembangan peranan Negara, dalam pengelolaan politik, ekonomi dan sosial.

Referensi

Burton, L (1993). The Constructivist Classroom Education in Profile. Perth: Edith Cowan University.

 

Conceptions of states and traits: Dimensional attributes with ideals as prototypes.Chaplin, William F.; John, Oliver P.; Goldberg, Lewis R. Journal of Personality and Social Psychology, Vol 54(4), Apr 1988, 541-557.

 

Harsono, (2004),  Kearifan dalam transformasi pembelajaran: dari teacher-centered ke student-centered learning, Makalah Seminar Implementasi nilai kearifan  dalam  proses pembelajaran berorientasi student-centered learning UGM

 

Hurlock, E. B. 2009. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2013. Edisike-empat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

 

Santrock, J. W. 2002. Life Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga