ISSN 2477-1686

Vol.2. No.10, Mei 2016

Lindungi Anak dari Bahaya Kejahatan Seksual

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia (UPI) YAI

           

Kejahatan Seksual pada Anak di Indonesia

Kasus kejahatan seksual khususnya pada anak dibawah umur kian hari kian marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Setelah kasus kejahatan seksual di Jakarta International School (JIS) dan kasus Emon di Sukabumi mengemuka, maka semakin  banyak kasus yang  terjadi di sejumlah tempat lainnya juga menjadi perhatian. Menurut data yang dikumpulkan oleh Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia dari tahun 2010 hingga tahun 2014 tercatat sebanyak 21.869.797 kasus pelanggaran hak anak, yang tersebar di 34 provinsi, dan 179 kabupaten dan kota. Sebesar 42-58% dari pelanggaran hak anak itu, merupakan kejahatan seksual terhadap anak. Selebihnya adalah kasus kekerasan fisik, dan penelantaran anak. Data dan korban kejahatan seksual terhadap anak setiap tahun terjadi peningkatan. Pada 2010, ada 2.046 kasus, diantaranya 42% kejahatan seksual. Pada 2011 terjadi 2.426 kasus (58% kejahatan seksual), dan 2012 ada 2.637 kasus (62% kejahatan seksual). Pada 2013, terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu 3.339 kasus, dengan kejahatan seksual sebesar 62%. Sedangkan pada 2014 (Januari-April), terjadi sebanyak 600 kasus atau 876 korban, diantaranya 137 kasus adalah pelaku anak (Wikipedia, tanpa tahun)

Dampak Psikologis dan Tantangan Penanganan Kekerasan pada Anak

Bukan perkara mudah untuk mengentaskan kejahatan seksual pada anak di Indonesia. Apalagi para pelaku kejahatan seksual tidak lain adalah orang-orang terdekat korban yang seharusnya dapat melindungi dan mendidik anak dalam masa perkembangannya. Oleh karena itu, perlu keterlibatan berbagai elemen untuk menangani dan mengantisipasi kasus ini. Berdasarkan data di atas, kasus kejahatan seksual yang banyak terjadi di Indonesia sangat perlu mendapatkan perhatian khusus dari berbagai elemen terkait, sebab kejahatan tersebut dapat membuat anak-anak merasa tertekan dan trauma. Berdasarkan berbagai kasus yang penulis temukan, banyak anak-anak yang tidak berani mengadu karena mendapat ancaman dari pelaku kejahatan seksual tersebut, terlebih bila pelakunya adalah orang terdekat dengan korban (orang tua, saudara, guru, tetangga atau teman). Kemudian anak korban kekerasan seksual tersebut hanya diam, namun jauh dilubuk hatinya, anak merasa sedih, minder, menarik diri dan tertekan. Arist Merdeka Sirait (Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak) menyatakan bahwa orang terdekat (orang tua, guru dan lingkungan masyarakat) harus tanggap dengan gerak-gerik anak. Pada situasi seperti sekarang ini, orang tua dihimbau untuk memperhatikan perubahan tingkah laku anak. Biasanya, perilaku anak yang menjadi korban kejahatan seksual akan mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa perasaan takut, gelisah, cemas, murung, menarik diri dan menjadi lebih tertutup (Setyawan, 2015). Karena hal tersebut maka menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, guru dan pemerintah untuk melindungi anak-anak yang merupakan aset bagi masa depan bangsa agar dapat terlindungi dari bahaya kejahatan seksual yang dapat menggangu kondisi fisik dan psikologisnya, serta dapat mengambil sikap tegas dan hukuman yang maksimal bagi para pelakunya.

Pendidikan Seksual pada Anak

Pendidikan seksual merupakan suatu upaya mendidik dan mengarahkan perilaku seksual secara baik dan benar (Widjanarko, 1994). Lebih lanjut, Masters & Johnson (1992) menyatakan bahwa orang tua merupakan sumber informasi yang paling baik bagi anak terutama yang berkaitan dengan pengetahuan seks. Pada hal ini, orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak agar memiliki pengetahuan yang benar dan menjaga diri bila ada orang sekitar yang hendak melakukan kejahatan seksual pada anak. Helmi dan Paramastri (1998) dalam penelitiannya mengenai efektivitas pendidikan seksual dini dalam meningkatkan pengetahuan perilaku seksual sehat, menjelaskan beberapa pendekatan pendidikan seksual, antara lain:

a.   Pendekatan biologi tentang seks menyatakan bahwa faktor biologis bertugas mengendalikan perkembangan seks, mulai dari pembuahan sampai kelahiran, dan kemampuan reproduksi sesudah pubertas. Seks mempengaruhi gairah seksual, fungsi seksual, dan secara tidak langsung mempengaruhi kepuasan seksual manusia.

b.  Pendekatan psikososial tentang seks lebih menekankan bahwa faktor psikologi (emosi, fikiran, dan kepribadian) dan faktor sosial (bagaimana manusia berinteraksi). Pada hal ini identitas gender (pria/wanita) terbentuk oleh kekuatan psikososial. Sikap terhadap seks sebagian besar ditentukan oleh orang tua, kelompok, dan guru.

c.   Pendekatan klinis lebih menekankan seks sebagai fungsi natural. Masalah fisik (sakit, infeksi, atau obat) dapat mempengaruhi pola respon seksual. Demikian juga masalah psikis (cemas, berdosa, malu, depresi, atau konflik) dapat menganggu seksualitas.

d. Pendekatan budaya tentang seks kadang menimbulkan pertentangan, namun relatif tergantung waktu, tempat dan keadaan. Moral dan hak sangat berbeda dari latar belakang budaya. Demikian juga mitos bahwa wanita serba pasif dan menerima, sedangkan pria lebih aktif dan agresif.

Selanjutnya, penting juga bagi orang tua untuk memperkenalkan kepada anak berupa pengenalan organ tubuh intim anak dan bagaimana cara menjaganya, serta mengingatkan anak untuk tidak segan-segan berteriak dan mengadu kepada orang tua atau guru bila ada orang melakukan sesuatu yang membuat anak merasa tidak nyaman, misalnya memegang/menyentuh organ intimnya dengan sengaja.  

Referensi:

Helmi, Avin., & Paramastri, Ira. (1998). Efektivitas pendidikan seksual dini dalam meningkatkan pengetahuan perilaku seksual sehat. Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada, 2, 25 – 34.

 

Wikipedia.(Tanpa tahun). Kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia. Diakses 27 Maret 2016 dari,https://id.wikipedia.org/wiki/Kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia

 

Marters, W. H.. & Johnson, V. E. (1992). Human Sexuality. New York: Harper Collins Publisher.

 

Setyawan, David. (14 Juni 2015). Data kasus kejahatan seksual di Indonesia. Diakses 10 Maret 2016 dari, http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku-kekerasan-terhadap-anak-tiap-tahun meningkat.

 

Widjanarko, A. (1994). Pendidikan seks dalam pandangan islam. Jakarta: Palinggam.