ISSN 2477-1686

Vol.2. No.9, Mei 2016

Mengembangkan Identitas Androgyny Dalam Perkembangan Anak

Nurwahyuni Nasir

Fakultas  Psikologi, Universitas Bhayangkara Jaya

Maraknya kasus LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) di Indonesia beberapa bulan terakhir, membuat masyarakat semakin peduli dengan lingkungan anaknya. Kasus ini membuka mata masyarakat, khususnya pada orangtua dan pemerhati anak bahwa butuh pengawasan yang ekstra mengenai pergaulan pada masa sekarang.

Pandangan dalam masyarakat Indonesia telah mematokkan bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan itu sangat berbeda. Kedua jenis kelamin tersebut dilihat sebagai dua kutub yang berlawanan, kebanyakan laki-laki seharusnya berperilaku maskulin dan perempuan berperilaku feminim. Lalu bagaimana dalam konsep androgyny?

Definisi Androgyny

Secara psikologi, individu dapat diklasifikasikan dalam hal kepemilikan satu dari empat orientasi tipe peran gender, yaitu maskulin, feminin, androgyny dan undifferentiared. Maskulin adalah ciri-ciri yang berkaitan dengan gender yang lebih umum terdapat pada laki-laki, sedangkan feminin adalah ciri-ciri yang berkaitan dengan gender yang lebih umum terdapat pada perempuan.

Istilah androgyny berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata andro yang berarti laki-laki dan gyny yang berarti perempuan. Individu androgyny adalah memiliki paduan karakteristik laki-laki dan perempuan, sehingga ia dapat berperilaku fleksibel dengan situasi di mana dia berada. Seseorang dapat bertingkah laku feminin atau ekspresif seperti lembut, sensitif, hangat dan penuh pengertian namun di saat lain ia dapat bertingkah laku maskulin seperti mandiri, tegas dan agresif (Akbar dan Hawadi, 2008).

Menurut Christine (2012), androgyny adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Sandra Bem, seorang psikolog Universitas Stanford pada tahun 1974. Pada tahun 1977, Sandra mengeluarkan sebuah inventory pengukuran gender yang menghasilkan data bahwa individu androgyny adalah laki-laki atau perempuan yang memiliki angka tinggi pada sifat maskulin dan feminin. Menurut Sandra Bem (1988), individu yang memiliki identitas androgyny memiliki gaya lebih fleksibel dan lebih secara mental apabila dibandingkan dengan gaya individu yang memiliki identitas feminin atau maskulin. Pada tahun 1990an, identitas androgyny populer dituangkan dalam konsep fashion di dunia.

Androgyny adalah tingginya kehadiran karakteristik maskulin dan feminin yang diinginkan pada satu individu pada saat bersamaan (Bem, Spence & Helmrich, dalam Santrok, 2003). Individu yang androgyny adalah seorang laki-laki yang asertif (sifat maskulin) dan mengasihi (sifat feminin), atau seorang perempuan yang dominan (sifat maskulin) dan sensitif terhadap perasaan orang lain (sifat feminin). Beberapa penelitian menemukan bahwa androgyny berhubungan dengan berbagai atribut yang sifatnya positif, seperti self-esteem yang tinggi, kecemasan rendah, kreativitas, kemampuan parenting yang efektif.

Menurut para ahli, dalam diri laki-laki memang memiliki aspek yang disebut anima yakni feminin, sedangkan pada perempuan ada aspek yang disebut animus yaitu aspek maskulin. Adanya aspek animus dan anima ini memberi kemungkinan pada laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan kedua aspek tersebut (Akbar dan Hawadi, 2008).

Mengembangkan Identitas Androgyny Dalam Perkembangan Anak

Identitas gender sebagai laki-laki atau perempuan biasanya dicapai ketika anak menginjak usia 3 tahun. Sedangkan adanya aturan-aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat, yang menggambarkan dan menegaskan bagaimana anak laki-laki dan anak perempuan bertindak, berfikir, dan merasa disebut  sebagai peran gender.

Sastrodwiryo (2014) menjelaskan bahwa terdapat dua teori psikologi yang menjelaskan tentang gender, yaitu teori psikoanalisa dan teori kognitif sosial. Teori psikoanalisa menyatakan bahwa anak dalam usia prasekolah cenderung mengalami ketertarikan pada orangtua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Namun pada usia 5-6 tahun, anak tidak lagi tertarik pada orangtua yang berlawanan jenis kelamin dengannya, sebaliknya ia akan mengidentifikasi dirinya dengan orangtua yang berjenis kelamin sama. Sehingga secara tidak langsung, ia akan memiliki perilaku gender yang sama dengan orangtua yang berjenis kelamin sama dengannya.

Sedangkan teori kognitif sosial menjelaskan bahwa perkembangan gender dapat didapatkan anak dari hasil observasi dan imitasi dari perilaku gender yang dilihatnya. Namun, peran reward dan punishment tidak boleh lepas dari perkembangan gender anak, sehingga anak dapat mengerti dan menentukan mana perilaku yang pantas dan sesuai dengan jenis kelaminnya (Sastrodwiryo, 2014).

Perkembangan gender tidak lepas dari pola asuh orangtua. Anak yang memiliki peran gender yang baik adalah anak yang memiliki identitas androgyny, dimana anak lebih fleksibel, sehat mental, dan lebih kompeten daripada anak yang maskulin atau feminin. Identitas androgyny bukan berarti bahwa adanya perubahan peran gender dalam diri seseorang, namun merupakan sikap yang dapat ditonjolkan pada situasi tertentu. Seperti ketika kakak (anak laki-laki) harus menjaga adiknya ketika ibu harus memasak di dapur, maka kakak akan menjaga adiknya dengan lemah lembut dan mengajaknya bermain. Sedangkan ketika anak perempuan dijahili temannya, maka ia akan melawan dan bersikap tegas agar tidak menjadi sasaran kejahilan temannya tersebut.

Mengembangkan pribadi androgyny pada anak dirasa perlu sebagai bekal dalam bersosialisasi di masyarakat. Stimulasi yang tepat akan membuat anak menampilkan pribadi pada situasi yang sesuai.

Referensi:

Akbar, R., & Hawadi. (2008). Psikologi Perkembangan Anak: Mengenal sifat, bakat dan kemampuan anak. Jakarta, Grasindo.

Christine, M. (2012). Androgyny vs Transgender. Diakses tanggal 14 September 2012, dari http://11054mcs.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Sastrodwiryo, M. (2014). Psikologi: Perkembangan Gender. Diakses tanggal 18 Maret 2016 dari mitrasastrodwiryo.blogspot.co.id/2014/08/psikologi-perkembangan-gender.html?m=1

­____. (2012). Peran Gender. Diakses tanggal 17 Maret 2016. Dari kumpulan-materi.blogspot.co.id./2012/02/peran-gender.html?m=1