ISSN 2477-1686

Vol.2. No.9, Mei 2016

Keluarbiasaan Ganda (Twice-Exceptionality)

 

Dian Ariyana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia

Fenomena Keluarbiasaan Ganda di Indonesia

Istilah keluarbiasaan-ganda belum banyak dikenal dan digunakan pada lingkungan masyarakat Indonesia. Keluarbiasaan ganda merupakan suatu kondisi dimana seorang anak memiliki lebih dari satu kondisi keluarbiasaan. Banyak penelitian dan pengamatan tentang beberapa kondisi yang tergolong dalam keluarbiasaan ganda misalnya, anak yang hiperaktif dan menunjukkan kondisi tidak dapat berkonsentrasi, contoh lainnya adalah anak dengan retardasi mental yang memiliki gangguan pendengaran ataupun penglihatan dan kebanyakan anak berkebutuhan khusus juga menunjukkan lebih dari satu keluarbiasaan lainnya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hanya istilahnya saja yang belum dikenal, namun dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, menunjukkan fakta bahwa fenomena tersebut termasuk umum di lingkungan masyarakat.

Suatu pengamatan di Indonesia menunjukkan bahwa diperkirakan lebih dari dua persen anak usia sekolah atau lebih dari satu juta anak merupakan anak yang berbakat (cerdas istimewa). Anak berkebutuhan khusus umumnya juga menunjukkan keluarbiasaan ganda, sehingga peran orang tua sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua antara lain adalah setiap anak, baik yang normal, berkebutuhan khusus ataupun sangat cerdas, adalah unik dan berbeda satu sama lain, orang tua tidak boleh membandingkan atau menetapkan standar yang sama pada masing-masing anak dengan kondisi yang berbeda, orang tua sebaiknya belajar untuk mengerti dan memahami setiap anak dengan kondisi keluarbiasannya tersebut, orang tua bertanggung jawab untuk mengembangkan kesukaan dan keunggulan yang positif dan produktif pada diri anak, misalnya membuat gelang dari karet, atau keterampilan lainnya dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat seperti memungkinkan belajar secara akademis, jika tidak, ajarkan keterampilan atau ajarkan memampuan menolong diri sendiri, ajarkan kemampuan berkomunikasi atau berinteraksisosial, bagaimana mengenal dan menyikapi orang lain di sekitarnya.

Menurut Semiawan & Mangunsong (2010) kesulitan pada keluarbiasaan ganda digambarkan melalui satu profil tunggal yaitu anak dengan keluarbiasaan ganda memiliki suatu rentangan ciri yang lebar dan sebagian besar diantaranya merupakan ciri keberkatan. Namun yang tampak menonjol adalah ketidaksinkronan yang tampak lebih luas dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki kemampuan rata-rata. Artinya, terdapat kesenjangan lebar antara umur mental dan umur kronologis. Misalnya ada anak yang sering mengumpulkan dan mengingat sejumlah informasi terkini, namun menunjukkan ingatan jangka pendek yang sangat terbatas.Kondisi anak dengan keluarbiasaan ganda membutuhkan peran kolaborasi dari lingkungan rumah, keluarga dan masyarakat luas untuk memberikan dukungan emosional serta mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak dengan keluarbiasaan ganda agar bermanfaat bagi orang lain.

Peran Orang Tua pada Anak dengan Keluarbiasaan Ganda

Peran keluarga sangat penting bagi perkembangan anak, terlebih bagi anak dengan keluarbiasaan ganda. Secara umum, orangtua dapat melakukan beberapa hal berikut ini untuk membantu anak menjadi lebih baik, yaitu orang tua tidak  pernah mengabaikan atau berusaha merespon anak karena keterbatasnnya, bagaimanapun kondisi anak, apapun latar belakang kelahiran anak, anak tetaplah merupakan titipan Tuhan YME kepada kita. Anak tidak ada yang meminta untuk dilahirkan, maka bagaimanapun kondisi anak, anak adalah titipan dari Tuhan YME. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kita berhak mengeluh karena dititipi amanah dengan kondisi anak berkebutuhan khusus ? jawabannya adalah meskipun anak tersebut tidak sebagaimana yang kita inginkan atau kita minta, namun Tuhan YME  memiliki hak prerogatif untuk memberikan anak yang  seperti apapun. Apapun yang orangtua lakukan kepada anak, akan membawa dampak perubahan baik bagi anak ataupun bagi orangtua yang menerima keterbatasannya dengan ikhlas. Tidak mudah bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus dapat menerima dengan ikhlas kondisi anaknya tersebut, namun keikhlasan orangtua dapat memberikan pengaruh positif bagi kemajuan anaknya, serta memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan anak. Orang tua dengan penuh keyakinan bahwa yang dilakukan untuk anaknya pasti akan mendapat balasan setimpal dari Tuhan YME, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang tepat terhadap anak dengan keluarbiasaan ganda dapat membantu anak dengan keluarbiasaan ganda untuk mengoptimalkan potensinya. Kasus Dara, gadis berbakat dengan ADHD (Attention Defisit and Hiperactivity Disorder) dalam Semiawan & Mangunsong (2010) menggambarkan bahwa ketika anak dengan keluarbiasaan ganda mendapatkan mislabelling atau kesalahan memberi label, maka anak tersebut akan mendapatkan cap sebagai trouble maker (pembuat masalah) dan anak nakal. Setelah orang tua Dara menyadari bahwa anaknnya merupakan anak dengan ADHD dan mendapatkan penanganan yang tepat maka diketahui bahwa bahwa Dara ternyata menunjukkan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi dengan nilai IQ mencapai 147.

Menurut Derni, dkk (2008) masalah dapat timbul ketika anak yang normal ataupun berkebutuhan khusus harus menghadapi tantangan dan tuntutan lingkungan yang berbeda budaya. Anak harus berhadapan dengan permasalahan dan tuntutan lingkungan yang berbeda dengan budaya asal keluarganya serta tuntutan sikap keagamaan lingkungan masyarakat yang berbeda pula.

Referensi :

Conny R. Semiawan & Frieda Mangunsong. 2010. Keluarbiasaan Ganda Edisi Pertama, Cetakan ke-1, Kencana Predana Media Group, Jakarta.

Derni, Meidya dan kawan-kawan. 2008. My Special Child.  Salamadani FLP Amerika, Bandung.