ISSN 2477-1686

 Vol. 6 No. 24 Desember 2020

Beda Budaya, Beda Cara Pikirnya 

Oleh

Nur Cholidah

Fakultas Psikologi, Universitas Psikologi Indonesia Y.A.I

Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia memiliki budaya yang sangat beraneka ragam. Jika ditarik kesimpulan dari dimensional approachnya Hosftede (1980) melalui metode penelitian dan survey yang membandingkan Indonesia dengan Australia dari segi Individualism (IDV), Indonesia mendapat point 14, sedangkan Australia mendapat point 90. 1 Hal ini disebabkan oleh pengaruh budaya yang masuk dan mendominasi bangsa Negara tersebut. Indonesia lebih dekat dengan Social Collectivism yang dipengaruhi oleh adat Cina dan Melayu, budayanya memiliki kelebihan yang mengajarkan suatu ikatan solid, seperti jika satu bagian tubuh sakit, ya semuanya ikut sakit, sama rasa sama karsa. Sedangkan Australia, dengan paham Individualis Liberalism-nya yang didapat dari pengaruh Inggris, lebih mengarah ke individualitas yang menjunjung tinggi The Humanright. Tetapi, jika dilihat dari aspek lain, ada beberapa kekurangan dari teori, seperti Power Distance (PD) atau ketidakseimbangan kekuatan di Indonesia yang anakanaknya dididik dan diajarkan harus patuh kepada orang tua serta guru, yang kadang menjelaskan bahwa “guru atau kiayinya, jangan dibantah”. Namun, Australia yang nilai PD nya kecil, membiasakan anak-anaknya untuk memperlakukan orang tua maupun guru setara dengan dirinya, yang membuat perkembangan psikologi remaja khususnya anak-anak, dapat lebih mengekspresikan diri ketimbang remaja dari Indonesia. Selain teori Hosftede, ada teori lain yang mempunyai konsep dimensional approach lebih sederhana, yaitu Triandis dan Gelfand (1998) yang memetakan budaya dalam dua dimensi, Individualisme dan Kolektivisme, yang dibagi lagi secara vertikal dan horizontal. Berdasarkan teori ini, saya bisa melihat adanya persamaan sekaligus perbedaan terhadap sistem yang dianut antara Indonesia, Jepang, dan Amerika. Persamaannya adalah masyarakat di tiga Negara tersebut menggunakan pendekatan kolektif milik kelompok untuk menyampaikan rasa hormat dan pengakuan sosial, seperti menghargai keputusan hasil musyawarah sebagaimana yang ada dalam konsep Horizontal Kolektifisme (HK).

Sedangkan perbedaannya terletak pada cara pandang, Amerika yang menganut paham kapitalis dengan beranggapan bahwa kebebasan individu adalah yang terpenting sebagaimana konsep Vertikal Individual (VI), jika dibandingkan dengan Jepang maupun Indonesia yang mempunyai stereotype tenggang rasa. Setelah mengetahui beberapa konsep dimensional approach, apabila ada pertanyaan “apakah budaya orang Jawa dan Sumatera?” Sepertinya hampir sama, karena masih serumpun sebangsa, ditambah lagi karena banyak penduduk di Pulau Sumatera yg berasal dari Pulau Jawa (transmigrasi) ataupun sebaliknya.

Kesimpulan

Apabila mengacu pada konsep di atas, Teori Hofstede dan Triandis sama-sama memiliki kelemahan, yaitu menyederhanakan juga menyamakan bangsa dengan budaya. Kedua teori itu tentunya tidak bisa dipraktekan menyeluruh di Indonesia yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang sangat menghargai keanekaragaman budaya dan menganggap hal itu sebagai sumber kekayaan bangsa Indonesia.

Referensi:

Hofstede, G. (1980). Culture consequences, international differences In work related values. Sage Publications, London: Beverly Hills. Di akses dari https://www.hofstede-insights.com/country/indonesia/.

Triandis, H. & Gelfand, M. (1998). Converging measurement of horizontal and vertical individualism and collectivism. Journal of personality and social psychology, 74(1), 118