ISSN 2477-1686

Vol.2. No.8, April 2016

Waspada Kekerasan pada Anak!

Rika Fitriyana

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Kasus Kekerasan pada Anak

Beberapa tahun belakang, kita sering kali mendapati berbagai pemberitaan di media terkait dengan maraknya kekerasan yang terjadi terhadap anak. Sebut saja kasus Engeline di Bali, seorang anak perempuan yang belum genap berusia 8 tahun ditemukan terkubur di dekat kandang ayam milik ibu angkatnya. Bukti-bukti kuat mengungkapkan bahwa Engeline mengalami kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh ibu angkatnya sendiri. Meski menyangkal, namun polisi tetap memproses dan hingga saat ini kasusnya masih bergulir di pengadilan[1]. Di Pangkal Pinang, seorang ayah tega memperkosa dan membunuh anak kandungnya sendiri, diduga sang ayah mengalami kelainan seksual. Di Sukabumi, KPAI menetapkan sebagai darurat kekerasan seksual terkait ditemukannya kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang guru kepada anak didiknya[2], dan masih banyak lagi berbagai kasus kekerasan anak yang hampir setiap hari muncul dalam pemberitaan.

Data Statistik Kekerasan pada Anak

Berdasarkan data yang dilansir oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), di kurun waktu Januari–April 2014 terdapat 622 laporan kekerasan pada anak yang terjadi[3]. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP PA) di tahun 2008 bekerjasama dengan BPS menemukan prevalensi kekerasan pada anak di Indonesia sebesar 3,02%. Artinya di antara 100 anak, terdapat 3 anak yang mengalami kekerasan dalam berbagai macam bentuk[4]. Statistik menunjukkan, semakin hari jumlah kekerasan yang terjadi pada anak terus meningkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan keresahan pada diri sebagian besar masyarakat yang menaruh perhatian terhadap perlindungan anak di Indonesia.

Kekerasan pada Anak

Kekerasan pada anak diartikan sebagai tindakan atau kegagalan orangtua atau pengasuh yang berdampak pada kematian, cedera fisik atau emosional yang serius; atau tindakan atau kegagalan bertindak yang menimbulkan resiko timbulnya cedera serius (CAPTA Reauthorization Act, 2010). Berdasar definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orangtua atau pengasuhlah yang bertanggungjawab terhadap perlindungan anak. Adapun yang termasuk dalam jenis kekerasan pada anak adalah kekerasan fisik; pengabaian; kekerasan seksual; kekerasan emosional atau psikis; dan penyalahgunaan obat-obatan (Child Welfare, 2013).

Ciri Anak yang Menjadi Korban Kekerasan

Kenali berbagai jenis kekerasan pada anak yang terjadi di sekitar anda. Ada beberapa gejala yang umumnya timbul pada anak korban kekerasan, yaitu:

1. Menunjukkan perubahan perilaku atau prestasi belajar yang menurun secara tiba-tiba.

2. Belum pernah mendapatkan pertolongan dari orangtua ketika mengalami masalah kesehatan atau luka fisik.

3. Mengalami masalah di sekolah atau sulit berkonsentrasi yang tidak berkaitan dengan sebab fisik.

4. Bersikap waspada, seolah hal buruk akan terjadi padanya.

5. Kurang mendapatkan pengawasan dari orang dewasa di sekitarnya.

6. Sikap patuh yang berlebihan atau menarik diri dari lingkungan.

7. Datang ke sekolah lebih awal dan enggan pulang ke rumah.

8. Enggan berdekatan dengan orang tertentu.

9. Bersikap sangat tertutup yang tidak biasa.

Jika salah satu hal tersebut anda temui pada anak-anak yang anda kenal, maka ada baiknya anda mendiskusikan dengan orangtua ataupun orang lain yang bertanggungjawab terhadap anak tersebut.

Dampak Kekerasan pada Anak

Ada banyak hal yang terjadi pada diri anak pasca kekerasan yang dialaminya. Dampak tersebut ada yang bersifat jangka pendek ataupun jangka panjang (Corby, 2006). Dampak jangka pendek, biasanya anak akan menarik diri, mudah marah atau merasa sedih, dan takut berhadapan dengan sosok yang mengingatkan dia pada pelaku kekerasan. Secara jangka panjang, anak dapat tumbuh dengan depresi dan menjadi individu dengan rasa insecure yang tinggi. Rendahnya harga diri juga merupakan salah satu dampak jangka panjang yang umumnya terjadi pada anak korban kekerasan.

Pada anak korban kekerasan seksual yang tidak mendapatkan penanganan optimal akan mengembangkan kegamangan identitas diri, mudah stress, dan kurang mampu mengatasi masalah secara mandiri. Ketika menjalin hubungan dengan lawan jenis, ia kurang mampu mempertahankan hubungan yang sehat, depresi, melakukan perbuatan melawan hukum dan cenderung menjadi masochisme. Banyak riset yang menunjukkan korelasi positif antara kekerasan pada anak dengan berbagai emosi negatif (harga diri rendah, perilaku menarik diri, kurang inisiatif).

Mari Mencegah Kekerasan pada Anak

Dengan munculnya berbagai kasus kekerasan pada anak, muncul pertanyaan: Bagaimana cara mencegah terjadinya kekerasan pada anak? Apa yang harus dilakukan orangtua? Siapa yang bertanggungjawab untuk melindungi anak dari kekerasan?

Cara pencegahan yang sejauh ini sudah dilaksanakan antara lain adalah melalui penyuluhan kepada orangtua mengenai kekerasan pada anak. Selain itu advokasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga perlindungan anak juga cukup mampu menumbuhkan kesadaran pada diri masyarakat mengenai pentingnya perlindungan anak. Aparat hukum yang bersikap proaktif juga turut andil memberikan keadilan bagi para korban kekerasan. Diharapkan dengan proses hukum yang diterapkan bagi para pelaku kekerasan pada anak dapat mencegah hal tersebut terjadi di masa yang akan datang.


[1]http://regional.kompas.com/read/2015/06/29/0230014/Ini.Kesaksian.yang.Membuat.Margriet.Jadi.Tersangka.Pembunuhan.Engeline

[2] http://galamedianews.com/daerah/73852/kpai-sukabumi-berstatus-darurat-kekerasan-seksual-anak.html

[3] http://www.kpai.go.id/berita/kpai-2014-ada-622-kasus-kekerasan-anak/

[4] http://www.depkes.go.id/article/view/201408140003/tingkatkan-kerjasama-dan-kewaspadaan-kekerasan-pada-anak.html

 

Referensi

Corby, Brian. (2006). Child Abuse: Toward a Knowledge Base. McGraw – Hill.

Child Welfare. (2013). What Is Child Abuse and Neglect? Recognizing the Signs and Symptoms. Children’s Berau, Washington DC.

Kompas. (2015). Kesaksian yang Membuat Margriet Jadi Tersangka Pembunuhan Engeleine. Diambil dari http://regional.kompas.com/read/2015/06/29/0230014/Ini.Kesaksian.yang.Membuat.Margriet.Jadi.Tersangka.Pembunuhan.Engeline pada tanggal 20 Pebruari 2016.

Galamedia. (2016). Sukabumi Berstatus Darurat Kekerasan Seksual Anak. Diambil dari http://galamedianews.com/daerah/73852/kpai-sukabumi-berstatus-darurat-kekerasan-seksual-anak.html pada tanggal 22 Pebruari 2016.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2014). Jumlah Kasus Kekerasan Anak. Diambil dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-2014-ada-622-kasus-kekerasan-anak/ pada 21 Pebruari 2016.

Departemen Kesehatan RI. (2014). Tingkatkan Kerjasama dan Kewaspadaan Kekerasan Pada Anak. Diambil dari http://www.depkes.go.id/article/view/201408140003/tingkatkan-kerjasama-dan-kewaspadaan-kekerasan-pada-anak.html pada 16 Pebruari 2016.