ISSN 2477-1686

 Vol. 6 No. 22 November 2020

Teman Setia di Setiap Situasi

 

Oleh

Maria Jane Tienoviani Simanjuntak

Program Studi Psikologi, Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

 

 

Makhluk sosial adalah salah satu sebutan untuk manusia. Menjalin hubungan dengan manusia lain menjadi hal yang selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Meskipun demikian tidak selamanya menjalin hubungan dengan sesama manusia membuat kita merasa nyaman dan bahagia. Ada kalanya saat berkomunikasi dan berhubungan dengan manusia lain justru semakin membuat kita lelah dan tertekan.

 

Berbagai perbedaan akan selalu ada pada masing-masing manusia, sehingga tidak jarang seringkali kita salah paham dan kurang lengkap menangkap informasi, ekspresi, bahkan gestur dari manusia lain. Beberapa manusia memilih untuk mengalihkan kebutuhan sosialnya kepada mahkluk yang lain. Contohnya, hewan.

 

Hubungan dan interaksi antara manusia dengan hewan sudah menjadi salah satu isu yang lama dibahas oleh para filsuf senior dan para ilmuwan sejak berabad-abad lalu. Beberapa ilmuwan (Fine, 2015) menemukan bahwa ikatan antara manusia dan hewan sudah dijelaskan dalam literatur kuno, fiksi modern, bahkan di dalam laporan penelitian  profesional. American Veterinary Medical Association’s Committee on the Human–Animal Bond mendefinisikan ikatan antara manusia dengan hewan (human-animal bond) sebagai hubungan dinamis dalam aspek emosional, psikologis, fisik, dan perilaku keduanya yang saling menguntungkan satu sama lain, karena penting untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi keduanya.

 

Sejak Levinson (Fine, 2015) mengajak anjingnya, Jingle untuk membantunya dalam terapinya dengan seorang anak yang kesulitan berbicara, ia pun menciptakan istilah  pet therapy”. Pet therapy (Sapkota & Shrestha, 2018) adalah suatu bentuk interaksi aktif yang terjadi antara manusia dan hewan terlatih serta pelatihnya yang memanfaatkan anjing atau hewan peliharaan lainnya yang dilatih untuk menjadi patuh, peduli, dan menghibur.

 

Pet therapy ini selanjutnya sering disebut sebagai animal assisted-therapy (AAT) dan dipraktikkan ke dalam beberapa kasus. Weston-Thompson (2012) menerapkan animal assisted-therapy (AAT) untuk menurunkan kecemasan yang dialami anak-anak dan orang dewasa yang memiliki ADHD dan gangguan kecemasan. Selain itu, animal assisted-therapy (AAT) juga dijelaskan meningkatkan kesejahteraan psikologis para lansia yang ditinggalkan di panti jompo (Elliott, 2015). Animal-assisted therapy (AAT) juga menjadi salah satu alternatif program yang diterapkan bagi para narapidana di dalam penjara. Altschiller (2011) menjelaskan bahwa terdapat perubahan sikap dan perilaku pada narapidana yang merawat seekor burung yang terluka sayapnya. Pet therapy atau animal assisted-therapy telah membantu banyak terapis dan pasien yang kesulitan berhubungan dengan manusia lain.

 

Ada beberapa keuntungan dari pet-therapy atau animal-assisted therapy ini. Seorang terapis anak berkebutuhan khusus dengan gangguan spektrum autis menjelaskan bahwa hewan bisa menjadi agen perubahan yang baik bagi perkembangan terapi anak autis (Budahn, 2013). Hewan terlatih dalam animal-assited therapy menjadi teman yang menyenangkan untuk stimulasi mental sampai kemampuan membaca dari seorang anak autis. Keuntungan lain dari animal-assited interventions (Koukourikos et al., 2019) antara lain  adalah memberikan dukungan emosi yang baik, melepas ketegangan/stres, meningkatkan aktivitas fisik, mengembangkan kemampuan merawat diri, meningkatkan harga-diri, dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Lebih dalam dijelaskan bahwa kehadiran hewan dalam animal-assited therapy dapat membantu proses adaptasi pada penderita gangguan mental seperti depresi, demensia, bahkan schizophrenia.

 

Manusia dan hewan diciptakan baik adanya oleh Sang Pencipta. Interaksi antara keduanya dapat menjadi hubungan positif yang semakin meningkatkan kesehatan mental dalam keseharian kita. Oleh karena itu, mulailah menyayangi hewan yang pasti akan selalu menjadi teman setia di setiap situasi.

 

 

Referensi:

Altschiller, D. (2011). Animal Assisted Therapy. Greenwood ABC-CLIO LLC.

Budahn, N. M. (2013). Effectiveness of Animal-Assisted Therapy : Therapists ’ Perspectives Effectiveness of Animal-Assisted Therapy : Therapists ’ Perspectives.

Elliott, S. M. (2015). The Psychological Benefits of Animal Assisted Therapy on Elderly Nursing Home Patients.

Fine, A. H. (2015). Handbook on Animal – Assisted Therapy Theoretical Foundations and Guidelines for Practice Third edition Edited by. In North.

Koukourikos, K., Georgopoulou, A., Kourkouta, L., & Tsaloglidou, A. (2019). Benefits of Animal Assisted Therapy in Mental Health. International Journal of Caring Sciences, 12(3), 1898–1905.

Sapkota, D., & Shrestha, S. P. (2018). Pet Therapy : Simple Resolve for Depression and Mental Illness. https://www.researchgate.net/publication/335564067_Pet_Therapy_Simple_Resolve_for_Depression_and_Mental_Illness

Weston-Thompson, J. (2012). Therapeutic trail riding for children and adults with ADHD and anxiety disorders. In Harnessing the Power of Equine Assisted Counseling: Adding Animal Assisted Therapy to Your Practice. https://doi.org/10.4324/9780203802038