ISSN 2477-1686

Vol.2. No.8, April 2016

Pemaknaan Konsep Moral Pada Generasi Kini

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Pergeseran Makna Moral di Indonesia

Moral merupakan kata sederhana yang mempunyai arti mendalam bagi kehidupan manusia terkait dengan baik buruknya manusia itu sendiri. Namun demikian, berbagai peristiwa yang kian marak terjadi khususnya di Indonesia, seperti korupsi, pembunuhan, penipuan lewat media sosial dan lain-lain yang membuat seseorang melakukan berbagai perbuatan yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain dan saat ini menjadi sesuatu yang biasa terjadi, sehingga pemahaman yang dalam mengenai moral kian lama kian bergeser. Berbagai penelitian telah mencermati permasalahan moral dari berbagai sudut pandang dan belum dapat menjawab masalah tersebut seutuhnya. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti moral, karena permasalahan moral bukan hanya bersifat konkret tetapi juga rumit, kompleks dan banyak terjadi dimana-mana, sehingga rasanya tidak pernah habis untuk dibicarakan maupun diteliti. Secara pribadi, penulis bersyukur karena berkesempatan mengkaji secara khusus terkait topik rumit, kompleks, namun menarik.

Merujuk pada hal tersebut, Suseno (1987) berpendapat bahwa kata moral mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Pada hal ini, moral tidak hanya dilihat dari kedudukan seseorang sebagai pejabat, dosen, pemuka agama dan publik figur, melainkan sebagai manusia. Berdasarkan pendapat tersebut, bila direlevansikan dengan permasalahan moral yang banyak terjadi saat ini, maka seseorang bisa saja memegang kedudukan penting dan ternama, tetapi baik-buruk perilakunya sebagai manusia yang menentukan moral orang tersebut. Artinya, ada banyak hal yang bisa saja diduga berpengaruh terhadap moral seseorang, tetapi pada akhirnya manusia tersebut yang menentukan baik-buruk perilakunya.

Moral Berdasarkan Sudut Pandang Budaya dan Universal

Pada paparan tentang moral secara khusus, penulis merasa mengalami rumitnya kajian mengenai moral terkait dengan berbagai variabel yang secara teoritis diduga berpengaruh terhadap perilaku moral seseorang. Selain itu, arti moral sulit didefinisikan secara universal dikarenakan banyaknya pandangan mengenai baik atau buruk dan semakin bergesernya nilai dan norma yang menjadi pegangan baik bagi individu, masyarakat bahkan suatu bangsa. Sebagai contoh, kaum LGBT di Indonesia bukan hanya masalah penyimpangan seksual dan menyimpang dari ajaran agama, tetapi dapat pula dinilai bahwa orang-orang tersebut tidak bermoral karena menyukai sesama jenis bahkan sampai ada yang mengubah jenis kelaminnya (transgender), tetapi dibeberapa negara seperti Belanda, Argentina dan Perancis (www.kompasiana.com/14negara, 2013) hal tersebut dinilai biasa saja, bahkan sudah disahkan dalam undang-undangya untuk menikah dengan sesama jenis. Hal ini tentu saja menjadi konflik tersendiri untuk menilai suatu hal yang dipandang baik dan buruk, dikarenakan penilaiannya terkait dengan budaya, aturan dan kebiasaan yang terjadi pada masyarakat disuatu tempat. Namun demikian, Bertens (2011) menjelaskan bahwa ada hal tertentu yang dapat mendeskripsikan moral secara universal. Misalnya, kejujuran, tanggung jawab dan kesetiaan tidak hanya berlaku ditempat tertentu saja, tetapi juga dapat diterima disemua tempat.

Selain itu, dari berbagai literatur yang terkait ditemukan bahwa konstruk-kontsruk dalam penelitian moral tampak saling berdekatan. Misalnya, orang yang bermoral cenderung berempati, tetapi apakah empati tersebut merupakan suatu konstruk yang berdiri sendiri. Belum lagi dengan banyaknya istilah moral (penalaran moral, identitas moral, perilaku moral, dan lain-lain) yang secara teoritis tampak mirip-mirip pengertiannya. Nah, rumitnya mengkaji masalah moral ini dapat dilihat dengan kian maraknya masalah moral yang semakin banyak terjadi dengan berbagai kompleksitas permasalahannya pro dan kontra dari berbagai pihak dengan berbagai pandangan, sehingga tidak mudah untuk mencermati permasalahan moral hanya dari satu sudut pandang.

 

Moral Menurut Pandangan Pribadi

Ceranic dan Reynolds (2007) yang telah banyak meneliti masalah moral berpendapat bahwa moral merupakan suatu fenomena rumit yang menunjukkan varians karena berbagai macam faktor. Artinya, sesuatu yang baik atau buruk dapat dilihat dari berbagai sudut pandang tergantung pada konteksnya maupun pandangan masing-masing orang. Namun demikian, inti dari kerumitan itu adalah kemampuan seseorang untuk memahami dunianya, sejauh orang tersebut dapat melakukan hal-hal yang mendatangkan kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain. Dengan kata lain, seseorang dapat melakukan apapun yang dia sukai sejauh hal tersebut tidak merugikan dirinya maupun orang lain, sejauh hal itu bernilai positif, bernilai dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Berdasarkan paparan tersebut, kiranya bahasan mengenai moral dalam setiap titik permasalahannya dapat membuka wawasan untuk dapat bercermin dalam berperilaku khususnya dalam mendidik moral pada generasi kini.

Referensi:

Bertens, K. (2011). Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Ceranic, T. L.,& Reynolds, S. J. (2007). The effects of moral judgment and moral identity on moral behavior: An empirical examination of the moral individual. Journal of Applied Psychology, 92, 1610-1624.

 

King, P.E.,& Furrow, J. L. (2004). Religion as a resource for positive youth development: Religion, social capital, and moral outcomes. Developmental Psychology, 40, 703-713.

Negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. (2013). Diakses dari www.kompasiana.com/14 negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis/html.

 

Suseno, Frans. M. (1987). Etika dasar masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.