ISSN 2477-1686

Vol.2. No.7, April 2016

Ayah Ada, Ayah Tiada – Peran Ayah dan Fenomena LGBT

Sri W Rahmawati

Fakultas Psikologi, Universitas Tama Jagakarsa

 

Ayah Kemana?

Kantukku telah tiba

Ayah dan bunda ada dimana

Aku ingin kita bertatap muka

Kenapa setiap hari begini saja

Kantukku telah tiba

Tempat tidur sepi tanpa cinta

Selimut dingin tanpa kata-kata

Bantal dan guling tak bisa bicara

Ayah bunda entah kemana 

(Irwan Rinaldi, 2011. Pengagas gerakan Ayah untuk Semua).

Peran pengasuhan orang tua yang dilandasi kasih sayang, kelekatan hubungan orang tua dan anak, serta kehangatan keluarga, akan menumbuhkan sikap positif pada anak, demikian kata para ahli (Mikulinar, Shaver, Gillath dan Nitzberg, dalam Rahmawati, 2015). Hanya saja yang sering dilupakan orang tua adalah, pengasuhan anak ternyata tidak hanya berlangsung secara instinktif. Pengasuhan anak merupakan proses berkelanjutkan sepanjang usia anak (Vassi, Veltsista dan Bakula, dalam Krause dan Dailey, 2009). Artinya, fenomena yang terjadi sepanjang rentang usia anak, berikut perubahan sosial, budaya dan kebiasaan, adalah info penting bagi para orang tua dalam menjalankan peran pengasuhannya.

Kasih Sayang Ayah= Fasilitas?

Hari ini lazim kita melihat orang tua memberikan curahan kasih sayang pada anak-anaknya dalam bentuk limpahan materi. Memilihkan sekolah terbaik, diukur dengan mahalnya biaya masuk serta sulitnya proses seleksi yang harus dilalui. Memenuhi kebutuhan gizi anak, artinya adalah menyajikan makanan sehat plus uang jajan berkecukupan. Mengisi waktu bersama anak, artinya adalah menyediakan paket-paket liburan yang eksotik pada destinasi dalam negeri, maupun kunjungan ke luar negeri. Menjaga komunikasi dengan anak, artinya adalah membekali anak gagdet terbaru yang setiap tiga bulan berganti model, dengan alasan: memutakhirkan kemudahan komunikasi.

Semua keriuhan di atas tentu tidak diperoleh dengan mudah. Konsekuensinya, para kepala keluarga, yaitu ayah, akan membanting tulang siang malam demi tercapainya impian membagiakan keluarga. Ayah pergi dini hari, kala kabut masih pekat, dan selimut masih membungkus tubuh si kecil. Ayah pulang larut malam, saat anak-anak tertidur pulas setelah lelah beraktivitas. Lalu, kapan anak-anak ini merasakan kasih sayang dan keberadaan ayah? Limpahan materi kah jawabannya?

Erik Erikson: Krisis Identitas

Setiap anak dalam tahap perkembangannya menghadapi dilema antara elemen sintonik (harmonis) dan elemen distonik (disharmonis). Erik Erikson (1968, dalam Feist and Feist, 2008) menggagas delapan tahap perkembangan manusia yang berbasis pada prinsip epigenetik. Setiap bagian komponen dalam tahap perkembangan tumbuh dari komponen lain, dan memiliki pengaruh waktu tersendiri; namun tidak menggantikan komponen sebelumnya. Erikson dengan sistematis memetakan setiap tahap perkembangan yang saling berhadapan antara elemen sintonik dan distonik, dimana konflik keduanya akan menghasilkan kualitas ego yang disebutnya sebagai kekuatan dasar (basic strength). Seorang bayi akan menghadapi konflik antara rasa percaya dasar (basic trust) dan rasa tidak percaya dasar (basic mistrust). Bayi yang dibesarkan dalam lingkungan dengan pemenuhan kebutuhan psikologis akan mengembangankan rasa percaya dasar; demikian pula sebaliknya. Konflik ini akan memunculkan kualitas ego yang disebut dengan harapan.  Pada masa remaja, individu memasuki tahapan yang membuatnya berhadapan dengan konflik antara identitas dan kebingungan identitas. Dari sekian tahap perkembangan, Erikson menggarisbawahi pentingnya tahapan masa remaja, karena akan menghasilkan kualitas diri yang disebut dengan kesetiaan. Erikson menyebutkan bila pada  masa ini individu tidak menemukan jati dirinya, maka ia akan mengalami kebingungan peran.

Konsekuensi Ketidakhadiran Sosok Ayah

Kehadiran sosok ayah yang minim dalam pengasuhan anak akan membuat anak laki-laki kurang mampu mengembangkan kekuatan otak kirinya. Otak kiri anak laki-laki diyakini lebih kuat dari otak kiri anak perempuan, namun anak perempuan memiliki sambungan otak kiri dan otak kanan yang lebih baik. Itu sebabnya perempuan lebih mampu memikirkan banyak hal dalam satu waktu; sementara laki-laki lebih mampu berpikir fokus pada suatu hal (Elly Risman, www.kitadanbuahhati.foundation).  Sayangnya banyak orang tua yang mencukupkan peran pengasuhan anak  pada sosok ibu, termasuk dalam pengasuhan anak laki-laki. Akibat ayah yang tidak hadir, maka anak laki-laki lebih lekat dengan ibunya. Ketika memasuki masa pencarian identitas diri, dan peran ayah tidak juga signifikan, maka anak akan kekurangan model identifikasi untuk menjadi lelaki. Bagaimana dengan anak perempuan? Kehangatan kasih sayang ayah yang kurang nyata akan membuat anak-anak perempuan ini merasakan kurangnya kasih sayang lawan jenis, khususnya dari sang ayah. Anak akan kehausan rasa kasih sayang. Anak kemudian mudah merasa depresi; mudah jatuh cinta pada laki-laki lain yang belum tentu memiliki niat baik ketika memasuki usia remaja; atau kedekatan yang selama ini terjalin dengan sosok ibu akan membuat anak perempuan merasa asing dengan sosok lak-laki dan merasa lebih nyaman berinteraksi dengan sesama jenis.

Jamaklah bila kemudian di usia remaja anak mengalami krisis identitias diri, termasuk krisis gender (jenis kelamin) bila dibesarkan dalam pola asuh yang timpang ini. Anak laki-laki tidak merasakan bangganya menjadi seorang ksatria yang mewarisi semangat pahlawan. Anak perempuan bersikap dingin kepada laki-laki, karena sentuhan kasih sayang minim dari sang ayah selama ini. Fenomena yang menyesakkan. Dan menjadi mengerikan, manakala hanya dalam satu langkah saja jeratan LGBT akan dengan mudah memangsa anak-anak manis ini.

Wahai para ayah, peluklah anak-anakmu. Bermain-mainlah dengannya, hadirlah di setiap saat pada masa-masa penting mereka. Hingga puisi pilu ini, tidak perlu terlantun: 

Aku kehilangan

Tapi tidak tahu apa yang hilang

Aku kehilangan

di setiap berangkat sekolah

mungkin inilah kiranya

apa yang dikatakan bunda

ayah ada ayah tiada

(Irwan Rinaldi, 2011)

 *************************

Referensi:

Krause, H.K., & Dailey, T.M. (Ed). (2009). Handbook of Parenting: Style, Stresses and Strategies. Families Issues in the 21st Century Series. ISBN: 978-1-60741-8.

Rinaldi, Irwan (Penyunting).(2011). Ayah ada ayah tiada. Depok: Ayah Press

Rahmawati, S.W. (2015). Contribute Islamic Parenting to Improve Well being. Proceeding of 1st Al Azhar International Seminar on Islamic Psychology. Jakarta: Faculty of Psychology and Education, Al Azhar Indonesia University. ISBN: 978-602-7 3615-0-8.

Feist, J., & Feist, G. (2008). Theories of Personality (7th ed.). USA: Mc Graw Hill Company

www.kitadanbuahhati.foundation.