ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 18 September 2020

Hal Sederhana yang Berdampak Luar Biasa: Mengekspresikan Rasa Syukur (Gratitude) Untuk Meningkatkan Perilaku Prososial

 

Oleh

Tiffani Amalia Rahman

Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran

(Juara 3 Lomba PsychoPaper-Universitas Pelita Harapan)

 

 

Eksperimen Sosial: Periaku Menolong di Tempat Umum

Dalam salah satu mata kuliah, penulis dan rekan-rekan penulis melakukan eksperimen sosial mengenai intensi perilaku menolong di tempat umum. Pada eksperimen ini, salah satu dari kami berperan menjadi seorang agent yang sedang kesulitan membawa banyak barang dan membutuhkan bantuan. Hasilnya, sebagian besar orang-orang yang ada di tempat publik tersebut mengabaikan kesulitan yang dialami oleh agent. Berikutnya kami mewawancarai orang-orang yang berada di tempat tersebut untuk mengetahui alasannya. Sebagian besar partisipan berpendapat bahwa menolong orang lain ini tidak akan memberikan keuntungan langsung bagi dirinya. Beberapa partisipan juga mengatakan mereka merasa tidak aman untuk menolong karena takut menjadi sasaran penipuan. Hal ini menunjukkan adanya penurunan intensi dan perilaku prososial di masyarakat sekitar.

Beberapa penjelasan mengenai bagaimana penurunan intensi dan perilaku prososial di masyarakat diantaranya karena merasa bahwa perilaku prososial tersebut dirasa tidak berdampak dan tidak dihargai. Hal ini karena individu mempersepsikan bahwa bantuannya tidak dihargai, maka kebutuhan untuk dihargai tersebut tidak terpenuhi sehingga intensi individu untuk membantu lagi di masa depan akan berkurang. Hal ini dapat membuat individu mempersepsikan bahwa menolong tidak membawa konsekuensi yang menyenangkan bagi dirinya.

 

Penurunan Motivasi Berperilaku Prososial

Alasan penurunan motivasi untuk melakukan perilaku prososial seperti menolong orang lain karena konsekuensi yang mengikutinya, dapat dijelaskan berdasarkan prinsip learning, yaitu operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu bentuk pembelajaran dimana jika seseorang melakukan perilaku tertentu, konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut dapat meningkatkan atau mengurangi kemungkinan orang tersebut akan kembali melakukan perilaku yang sama (Plotnik & Koyoumidjian, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi yang mengikuti suatu perilaku dapat menentukan perilaku tersebut akan diulangi kembali atau tidak.

Dalam operant conditioning, konsekuensi yang mengikuti perilaku terdiri dari dua yaitu reinforcement dan punishment. Reinforcement adalah konsekuensi yang meningkatkan peluang perilaku tersebut untuk diulangi kembali. Sedangkan punishment adalah konsekuensi yang menurunkan kemungkinan perilaku tersebut untuk dilakukan kembali. Berdasarkan prinsip ini, jika perilaku prososial tersebut diikuti oleh konsekuensi yang tidak menyenangkan (punishing) seperti merasa dirugikan, maka perilaku prososial tersebut cenderung tidak diulangi kembali.

 

Gratitude Meningkatkan Perilaku Prososial

Jika kita ingin membuat perilaku prososial di masyarakat meningkat, kita dapat mempertimbangkan konsekuensi yang mengikuti perilaku prososial tersebut agar diperkuat atau terulang. Dalam mencapai tujuan tersebut, dapat dilakukan dengan membuat perilaku prososial tersebut menjadi rewarding. Lalu bagaimana kita bisa membuat perilaku prososial menjadi rewarding bagi pelakunya? Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengekspresikan gratitude kepada pelaku prososial. Menurut Tsang (2006), gratitude merupakan reaksi emosional yang positif terhadap penerimaan manfaat dan kebaikan yang dipersepsi berasal dari niat baik orang lain. McCullough, dkk (2001) mengemukakan bahwa mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih (gratitude) dapat meningkatkan dan mendorong individu untuk melakukan perilaku prososial.

Ada beberapa penjelasan mengapa mengekspresikan rasa syukur kepada pemberi bantuan (helper) dapat meningkatkan perilaku prososial bagi  helper tersebut. Menerima ekspresi gratitude dari orang lain menimbulkan emosi positif yang rewarding bagi pelaku prososial (Isen, 1999). Efek emosi positif yang dirasakan ini menjelaskan bagaimana gratitude atau ekspresi syukur meningkatkan perilaku prososial. Berdasarkan penjelasan ini, individu akan melakukan perilaku prososial karena rasa syukur yang dirasakannya membuat suasana hati mereka menjadi positif (Tsang, 2006).

Penelitian juga mengemukakan bahwa dengan menunjukkan rasa terima kasih kepada pemberi bantuan, hal tersebut dapat meningkatkan self-efficacy dan social worth pemberi bantuan (Grants & Gino, 2010). Manusia memiliki motivasi dasar yaitu untuk motivasi agentic ─ merasa kompeten dan mampu, dan motivasi communal ─ yaitu motivasi agar dihargai dan terhubung dengan orang-orang di sekitarnya (Bakan, 1966). Dengan mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu, hal tersebut dapat membuat helper merasa bahwa dirinya bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi orang lain. Hal ini meningkatkan self-efficacy yaitu perasaan dan kepercayaan individu untuk melakukan perilaku prososial tersebut (Bandura, 1977). Mengekspresikan rasa terima kasih juga membuat pelaku prososial merasa bahwa dirinya dihargai oleh lingkungannya, khususnya dari penerima bantuan. Hal ini memenuhi kebutuhan individu akan dihargai oleh lingkungan sekitarnya sehingga meningkatkan social worth pelaku prososial.

Perasaan syukur (gratitude) juga meningkatkan perilaku prososial bagi helpee atau penerima bantuan. Saat individu menerima bantuan dan merasa bersyukur, ia cenderung akan mengikuti norma resiprositas yang ada di masyarakat. Norma resiprositas mengisyaratkan bahwa saat menerima bantuan, kita diharuskan untuk membayar kembali bantuan tersebut (Cialdini, 1993). Norma resiprositas ini juga mengharuskan helpee untuk membalas bantuan kepada helper-nya (Gouldner, 1960). Saat individu menerima bantuan dari orang lain, ia cenderung akan membalas kebaikan tersebut, sehingga perilaku prososial juga meningkat bagi helpee.

Berdasar penjelasan di atas, diketahui bahwa mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemberi bantuan dapat meningkatkan perilaku prososial di masyarakat. Rasa syukur juga mendorong penerima bantuan untuk melakukan perilaku prososial sebagai bentuk balas budi. Hal ini menunjukkan bahwa gratitude atau rasa syukur mendorong perilaku prososial baik bagi penerima bantuan (helpee) maupun kepada pemberi bantuan (helper). Kita dapat terus mendorong perilaku prososial ini tetap ada di masyarakat dengan bersyukur atas bantuan yang kita terima, maupun dengan mengekspresikan rasa syukur terhadap orang yang telah memberikan kita bantuan sebagai bentuk apresiasi. Hal ini membuat kebaikan tidak terputus di tangan kita, melainkan menjadi rantai yang akan terus menerus terjadi di masyarakat.


 

Referensi:

 

Bakan, D. (1966). The duality of human existence: Isolation and communion in Western man. Boston, MA: Beacon Press.

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84, 191–215.

Cialdini, R. B., & Cialdini, R. B. (1993). Influence: The psychology of persuasion. Newyork: Collins Business.

Gouldner, A. W. (1960). The norm of reciprocity: A preliminary statement. American Sociological Review, 25, 161-178.

Grants, A. M., & Gino, F. (2010). A little thanks goes a long way: Explaining why gratitude expression motivate prosocial behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 98(6), 946-955.

Isen, A. M. (1999). Positive affect. Dalam Dalgleish & M. Power (Eds.), Handbook of cognition and emotion. New York: Wiley.

McAdams, D. P., & de St. Aubin, E. (1992). A theory of generativity and its assessment through self-report, behavioral acts, and narrative themes in autobiography. Journal of Personality and Social Psychology, 62, 1003–1015.

McCullough, M. E., Kilpatrick, S. D., Emmons, R. A., & Larson, D. B. (2001). Is gratitude a moral affect? Psychological Bulletin, 127, 249-266.

Plotnik, R., & Koyoumidjian, H. (2011). Introduction to psychology 9th edition. Cengage Learning

Salovey, P., Mayer, J. D., & Rosenhan, D. L. (1991). Mood and helping: Mood as a motivator of helping and helping as a regulator of mood. In M. S. Clark (Ed.), Prosocial behavior: Review of Personality and Social Psychology, (pp. 215-237). Newbury Park, CA: Sage.

Tsang, J. (2006). Gratitude and prosocial behavior: An experimental test of gratitude. Cognition and Emotion, 20(1), 138-148.

Wiggins, J. S. (1979). A psychological taxonomy of trait-descriptive terms: The interpersonal domain. Journal of Personality and Social Psychology, 37, 395–412.