I Love My Friends: Upaya Penanaman Pengetahuan Perilaku Prososial Pada Anak Usia Dini

 

Oleh

Fanny Tirmidzi Airlangga Hadi

Fakultas Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan

(Juara 2 Lomba PsychoPaper-Universitas Pelita Harapan)

 

 

 

Era globalisasi saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang dipicu oleh pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Segala hal tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited). Hal tersebut sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari salah satu contohnya dalam bidang pendidikan. Saat ini baik pendidik maupun peserta didik sudah mulai beradaptasi dengan era revolusi industri 4.0. Istilah pendidikan 4.0 yang diadaptasi dari konsep revolusi industri 4.0, memiliki ciri-ciri khusus terutama dalam pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran (Septiana, 2019). Kemudahan mencari informasi, mentransfer informasi dan membuat sesuatu yang baru dengan mudah dilakukan hanya dengan mengkoneksikan komputer dan jaringan. Perubahan cara kerja lama dengan cara kerja baru yang serba mudah secara tidak langsung memicu perubahan pola pikir, cara kerja hubungan yang harmonis antar individu atau kelompok masyarakat. Adanya perubahan tersebut jika disikapi dengan bijak akan dapat menghasilkan output yang positif, namun sebaliknya jika perubahan tersebut disikapi kurang bijak akan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Permasalahan yang muncul mengenai penggunaan teknologi dan informasi yang kurang bijak khususnya smartphone yaitu sebagaimana yang disampaikan Septiana (2019), mengenai perundungan di dunia maya (cyberbullying) dan kasus body shaming. Selain itu ada juga terdapat kasus pelecehan di dunia maya dan juga di dunia nyata yang dilaporkan dari dua aplikasi terkemuka yakni facebook dan whatapp. Kasus tersebut merupakan beberapa kasus dari banyaknya kasus akibat kurang bijak dalam penggunaan teknologi dan informasi. Oleh karenanya Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yaitu Mohammad Nasir pernah menyampaikan bahwasannya perubahan era revolusi industri 4.0 harus dibarengi dengan perubahan perilaku sosial dan perilaku budaya (Puspita, 2020).

Menurut Septiana (2019) perilaku sosial merupakan perilaku yang diperuntukkan kepada orang lain, sedangkan perilaku budaya merupakan perilaku yang berkaitan dengan akal budi dan daya manusia. Jika digabungkan perilaku sosial berbudaya yakni perilaku yang dimaksudkan untuk menjalin interaksi dengan orang lain di lingkungan sosialnya dengan menggunakan akal budi dan daya manusia. Perilaku tersebut diharapkan dapat menjalin interaksi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang berinteraksi. Perilaku menguntungkan tersebut yaitu perilaku prososial. Perilaku prososial yaitu perilaku atau tindakan yang dapat memberikan keuntungan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Perilaku prososial sangat diperlukan dalam menghadapi era teknologi informasi dan komunikasi sebagai bentuk penyesuaian di era revolusi industri 4.0 (Septiana, 2019). Menurut Jackson dan Tisak (2001), aspek-aspek perilaku prososial terdiri dari empat yaitu :

1.   Menolong adalah respon yang diberikan kepada seseorang yang mengalami hal negatif atau yang tidak diinginkan.

2.   Berbagi adalah memberikan hak miliknya untuk memberikan keuntungan pada orang lain.

3.   Menghibur adalah tindakan untuk meningkatkan mood orang lain misalnya mengibur orang yang sedang sedih.

4.   Kerjasama adalah bekerja bersama dalam tindakannya untuk mencapai tujuan yang spesifik.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi perilaku prososial secara umum adalah hasil interaksi antara karakteristik individu (adanya kebutuhan, kemampuan mengambil peran, faktor biologis), pengalaman sosialisasi dan pengaruh situasional (harapan sosial, hubungan dengan orang lain, tipe lingkungan) (Eisenberg, Fabes & Spinrad, 2006). Penelitian pendukung mengenai perilaku prososial sebagaimana yang dilakukan oleh Aknin, Vondervoort, dan Hamlin (2017), menyatakan bahwa emosi positif dan feedback positif menggambarkan perhatian yang diberikan kepada seseorang sehingga dapat meningkatkan perilaku prososial. Jika dapat diaplikasikan dalam penggunaan teknologi, maka akan sangat meminimalisisr adanya kasus-kasus yang telah disampaikan sebelumnya. Karena masing-masing orang memiliki toleransi dan motivasi untuk membantu dan menghormati orang lain. Oleh karenanya perlu adanya pembiasaan perilaku prososial pada setiap individu. Hal tersebut dapat diajarkan pada anak usia dini.

 

Penanaman Perilaku Prososial Pada anak Usia Dini Melalui I Love My Friends

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI beberapa tahun belakangan ini mengembangkan rumusan tentang pendidikan karakter. Menurut Lickona (2012), karakter merupakan karakteristik dalam diri seseorang yang menunjukkan adanya pengetahuan dan keinginan untuk selalu berperilaku moral. Karakter tidaklah terbentuk secara instan melainkan terdapat proses yang berkembang (Musfiroh, 2011). Karakteristik yang baik harus dikembangkan sepanjang waktu melalui proses belajar salah satunya melalui pendidikan karakter yakni dengan mengajarkan dan mempraktikkan karakter-karakter positif pada anak (Smith, 2006). Oleh karena itu diperlukan pembentukan seawal mungkin yaitu pada usia dini. Metode pembelajaran pada anak usia dini disesuaikan dengan perkembangan anak (Slenz & Krogh dalam Santrock, 2010). Berkenaan dengan karakteristik anak usia dini dimana menurut Santrock (2004) ciri khas yang sangat menonjol pada anak usia dini adalah bermain, maka guru dapat memberikan pengetahuan terhadap perilaku prososial melalui belajar sambil bermain. Penelitian yang dilakukan oleh Leiberg, Klimecki, dan Singer (2011), diperoleh informasi bahwa permainan mampu meningkatkan perilaku prososial pada anak-anak. Oleh karenanya ketika menggunakan cara belajar sambil bermain maka perlu sesuai dengan tahap perkembangan sosialnya. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan Wolfgang, Mackender dan Wolfgang (1981) dimulai dari isolated play (0-1 tahun), pararel play (1-3 tahun), cooperative play (3-4 tahun), sociodramatic play (4-6 tahun) dan games with rules (7 tahun ke atas). Maka guru yang mengajar di TK dapat menggunakan metode pengajaran yang sesuai karakteristik anak usia dini yang berada pada tahap sociodramatic play untuk membuat anak menggunakan pengalaman sebelumnya dalam berperilaku orang lain (Wolfgang, Mackender & Wolfgang, 1981). Metode yang sesuai dengan karakteristik di atas adalah bermain peran.

Bermain peran adalah metode pemecahan masalah dalam kelompok yang memungkinkan anak menggali masalah, merespon secara spontan, dan diikuti dengan diskusi terarah (Shaftel & Shaftel, 1982). Bermain peran terdiri dari kejadian atau situasi permasalahan yang melibatkan dua atau lebih orang dimana di dalamnya ada beberapa keputusan yang harus dibuat dalam menyelesaikan permasalahan. Bermain peran melibatkan interaksi antara anak dengan lingkungan sekitar dalam proses belajar. Interaksi dari faktor interpersonal (sosial), perangkat kultural dan faktor individu sebagai kunci perkembangan dan pembelajaran individu. Berdasarkan informasi yang telah dijelaskan, maka bermain peran yang diusulkan pada pembahasan ini dinamakan I Love My Friends. Hal tersebut bertujuan untuk penanaman perilaku prososial pada anak usia dini. Bermain peran I Love My Friends  dapat dilakukan oleh guru di sekolah sebagai tutor yang akan membimbing belajar sambil bermain peran pada anak. Upaya ini dapat menggunakan aspek-aspek perilaku prososial yang telah disampaikan oleh Jackson dan Tisak (2001) yang teridiri dari menolong, berbagi, menghibur dan bekerjasama.

Pengaplikasian dari bermain peran I Love My Friends di tiap sesinya bisa berkisar 30 menit. Semua siswa dapat melakukannya di depan kelas karena dibagi menjadi perkelompok. Pengelompokkan adalah strategi yang penting dalam mengorganisir anak dalam pembelajaran di sekolah dan sebagai upaya guru meningkatkan pengalaman positif anak (Blatchford dalam Rogers & Evans, 2008). Jangan lupa juga penggunaan perlengkapan media dalam bermain peran dapat mendukung dalam proses pelaksanaannya. Setiap kelompok nantinya akan bergantian bermain peran di depan kelas dan mengikuti semua tahapan. Tindakan yang dilakukan pada saat bermain peran I Love My Friends nantinya akan didiskusikan pada tahapan membicarakan isi tema dengan mendapat saran dan masukan dari siswa lainnya yang tidak maju. Pada saat membicarakan isi tema, siswa berpikir tentang tindakan yang dilakukannya. Sedangkan siswa yang lain akan mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikemukakan oleh temannya yang maju dengan bimbingan guru di depan kelas. Setelah itu diadakan bermain peran kembali untuk melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan saran sehingga siswa mengerti tindakan yang seharusnya dilakukan.  Pada proses tahapan bermain peran I Love My Friends terdapat empat sesi yang diantaranya yaitu :

1.   Sesi pertama yaitu “Menolong itu hebat”. Siswa diminta untuk memainkan peran apa yang dilakukan siswa ketika temannya jatuh dari sepeda.

2.   Sesi kedua yaitu “Berbagi itu menyenangkan”. Siswa diminta untuk memainkan peran apa yang dilakukan siswa ketika ia membawa bekal sedangkan teman-temannya tidak membawa bekal.

3.   Sesi ketiga yaitu “Ceria denganku”. Siswa diminta untuk memainkan peran apa yang dilakukan siswa ketika melihat temannya tidak sengaja mematahkan pensil teman maupun tidak sengaja merusak mainan teman yaitu dengan menghiburnya dan mengajak teman minta maaf.

4.   Sesi keempat yaitu “Kerjasama membuat mudah”. Siswa diminta memainkan peran apa yang dilakukan siswa ketika mendapat tugas kelompok dari guru.

 

Beberapa perintah yang telah disampaikan merupakan beberapa contoh yang bisa digunakan oleh guru dalam bermain peran I Love My Friend. Pada tahap akhir di tiap sesinya, siswa dengan arahan guru dapat berbagi pengalaman dan melakukan generalisasi dari kegiatan bermain peran yang telah diikuti. Pada tahapan ini, siswa diajak oleh guru untuk berbagi tentang pengalaman dan apa yang dapat mereka pahami selama bermain bersama teman-teman, serta menggeneralisasikan kejadian lain yang serupa dengan tema bermain peran yang sudah dilakukan. Kegiatan ini secara tidak langsung akan membawa siswa pada pemahaman dirinya dalam interaksi sosial dan mengkonstruksikan pengetahuan dengan mengintegrasikan pemahaman yang mereka miliki dengan pengalaman yang di dapatnya ketika berinteraksi sosial (Schunk, 2008). Upaya yang telah disampaikan karena menurut Lickona (2012), dalam membangun suatu karakter yang baik terdiri dari tiga hal yaitu pengetahuan moral, perasaan moral dan perilaku moral. Stimulus yang diberikan kepada siswa adalah dengan menanamkan pengetahuan tentang perilaku prososial. Pengetahuan tentang perilaku prososial yang dimiliki siswa akan mampu membuat siswa memahami situasi dan bagaimana caranya menerapkan nilai prososial yaitu menolong, berbagi, menghibur, dan bekerjasama. Pengetahuan perilaku prososial tersebut diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk mencintai melakukan tindakan yang memberikan kebaikan kepada orang lain dan selanjutnya dapat diterapkan dalam penggunaan teknologi dan informasi nantinya. Ketika hal tersebut dapat terwujud maka bukan tidak mungkin akan meminimalisir kasus-kasus yang telah disampaikan di awal pembahasan.   


Referensi

 

Aknin, L. B. Vondervoort, J. W. V. & Hamlin, J. K. (2017). Positive feelings reward and promote prosocial behavior. Journal of Current Opinion in Psychology, 20, 55-59. DOI: 10.1016/j.copsy.2017.08.017

Eisenberg, N., Fabes, R. A., & Spinrad, T. (2006). Prosocial development. In N. Eisenberg, W. Damon, & R. M. Lerner (Series Eds.). Handbook of  child psychology: Social, emotional, and personality development (6th ed., pp. 646-718). New Jersey: John Willey & Sons, Inc.

Jackson, M. & Tisak, M. S. (2001). Is prosocial behavior a good thing? Developmental changes in children’s evaluations of helping, sharing, cooperating, and comforting. British Journal of Developmental Psychology, 19(3), 349-367. https://doi.org/10.1348/026151001166146

Leiberg, S., Klimecki, O., & Singer, T. (2011). Short-term compassion training increases prosocial behavior in a newly developed prosocial game. Plos One, 6(3), 1-10. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0017798

Lickona, T. (2012). Mendidik untuk membentuk karakter: Bagaimana sekolah dapat memberikan pendidikan tentang sikap hormat dan bertanggung jawab. Edisi Pertama. Alih Bahasa: Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Musfiroh, T. (2011). Karakter sebagai saripati tumbuh kembang anak usia dini. Yogyakarta: Inti Media

Puspita. R. (2020, Februari 14). Menristekdikti: Revolusi 4.0 harus dibarengi ubah perilaku. Republika. co. id. Republika. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/12/03/pj5he4428-menristekdikti-revolusi-40-harus-dibarengi-ubah-perilaku

Rogers, S., & Evans, J. (2008). Inside role-play in early childhood education. New York: Routledge

Santrock, J. W. (2004). Life-span development. New York: McGraw-Hill

Santrock, J. W. (2010). Psikologi Pendidikan. Alih Bahasa: Tri Wibowo. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup

Schunk, D. H. (2008). Learning theories: An educational perspective. New Jersey: Pearson Education, Inc

Septiana, N. Z. (2019). Perilaku prososial siswa SMP di era revolusi industri 4.0 (Kolaborasi guru dan konselor). Prosiding Seminar Nasional & Call Paper. 111-122

Shaftel, F., & Shaftel, G. (1982). Role playing in the curriculum. USA: Prentice-Hall, Inc.

Smith, M. R. (2006). Contemporary character education: Developing good character. Principal Leadership, 6(5), 16-20

Wolfgang, C. H., Mackender, B., & Wolfgang, M. E. (1981). Growing and learning throught play. New York: Instructo