ISSN 2477-1686

Vol.2. No.7, April 2016

Nilai Moral: Diketahui tapi Dilanggar

Andi Tenri Faradiba

Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila

Gambaran Masalah pada Perilaku Moral

Pernahkah Anda menyaksikan pengendara motor melanggar lampu merah atau berkendara melawan arus? Pernahkah Anda melihat penyebrang jalan tidak menggunakan jembatan penyeberangan? Pernahkah Anda melihat mahasiswa yang membiarkan begitu saja sampah bekas makanan dan minumannya berserakan di lorong-lorong kampus? Atau pernahkah Anda melihat seseorang yang menyerobot antrian ketika berada di kasir?

Pada dasarnya, setiap orang mengetahui tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi-situasi tersebut. Misalnya, ketika lampu merah berhenti, membuang sampah di tempat yang telah disediakan, dan menghargai orang yang lebih dulu mengantri. Individu yang pernah bersekolah minimal tingkat Sekolah Dasar, angka partisipasi sekolah dari tahun 2011 hingga 2014 meningkat (BPS, 2014), telah mendapatkan pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan yang mengajarkan tentang berperilaku moral sehingga yang menjadi keadaan ideal adalah perilaku melanggar menurun. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa jumlah pelanggar lalu lintas mengalami peningkatan (Wiwoho, 2015).

Perilaku Moral dan Aspek Penanaman Nilai Moral

Menurut Lickona (1991), perilaku yang seharusnya dilakukan ketika berada dalam situasi tertentu disebut perilaku moral. Berkowitz dan Bier (2004) menyebutkan bahwa penanaman nilai moral dalam diri individu terjadi sepanjang masa anak-anak hingga remaja. Ketika masa anak-anak, individu belum mengetahui dengan sempurna membedakan perilaku yang baik dan yang buruk sehingga yang dilakukan adalah memberikan pemahaman. Setelah individu mulai dapat berpikir, perilaku yang baik ditanamkan melalui pembiasaan dan individu diajak megetahui sebab dan alasan berperilaku moral. Penanaman nilai moral sebaiknya mencakup tiga komponen, yaitu:

1.   Moral Knowing

Merupakan komponen yang menekankan pada penguasaan dan pemahaman tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik atau lebih mengarah pada aspek kognitif dari moral. Komponen moral knowing terdiri dari beberapa bagian, yaitu moral awareness, mampu menggunakan kecerdasannya untuk menentukan situasi apa saja yang membutuhkan pertimbangan moral; knowing moral values, memahami cara implementasi nilai moral yang diketahui dalam berbagai situasi; perspective taking, mampu melihat situasi dari sudut pandang orang lain dan hal ini menjadi syarat mutlak dalam melakukan pertimbangan moral; moral reasoning, mampu melakukan penalaran tentang makna dan alasan dalam berperilaku moral; decision making, mampu membuat keputusan ketika menghadapi permasalahan yang membutuhkan pertimbangan moral, mencakup alternatif solusi dan konsekuensinya; self-knowledge, mengetahui kelebihan dan kelemahan diri dalam memahami penyelesaian sebuah masalah.

2.   Moral Feeling,

Merupakan komponen yang menekankan pada perasaan individu atau aspek afektif mengenai apa yang seharusnya dilakukan, yang terdiri dari conscience, perasaan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan dan ketika individu tidak melakukannya, rasa bersalah akan muncul; self-esteem, rasa keberhargaan diri yang mempengaruhi bagaimana individu dapat menghargai orang lain; emphaty, merupakan sisi afektif dari perspective taking yang dapat diidentifikasi melalui pengalaman dalam hal merasakan apa yang individu lain rasakan; loving the good, bentuk tertinggi dari moral feeling sebab perilaku moral yang ditunjukkan didorong oleh kecintaannya untuk berperilaku moral; self-control, membantu individu berperilaku moral walaupun dalam situasi yang tidak mendukung perwujudan perilaku moral; humility, merupakan sisi afektif dari self-knowledge yang mencakup keterbukaan terhadap hal yang benar dan keinginan untuk memperbaiki perilaku yang salah.

3.   Moral Behavior,

Merupakan implementasi aspek kognitif dan aspek afektif yang terdiri dari competence, kemampuan untuk menunjukkan perilaku moral; will, inti dari perilaku moral berupa pengambilan keputusan untuk menunjukkan perilaku moral; dan habit, membiasakan diri untuk berperilaku moral dalam situasi apa pun.

Berdasarkan penjelasan tersebut, alasan yang dapat diberikan mengenai perilaku moral yang  belum muncul adalah bekal komponen moral yang dimiliki masih terbatas pada moral knowing. Individu selalu diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku baik dan perilaku tidak baik dalam masyarakat, tetapi individu tidak dilatih untuk memiliki rasa bersalah ketika berbuat salah, empati, dan rasa cinta terhadap perilaku moral. Komponen moral feeling belum terbentuk. Lebih lanjut, dalam hal komponen moral behavior, individu bisa saja telah memliki kemampuan untuk menunjukkan perilaku moralnya (competence), tetapi keinginan berperilaku moral dan keinginan menjadikannya sebagai kebiasaan belum terbentuk.

Referensi:

Berkowitz, M., & Bier, M. C. (2004). Research-based character education. Journal of Educational Research, 591(1), 72-85.doi: 10.1177/0002716203260082

BPS (2014). Angka Partisipasi Sekolah. Diunduh dari http://www.bps.go.id/linkTableDinamis/ view/id/1054

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. New York: Bantam Books.

Wiwoho, L. (2015, July 21). Jumlah kecelakaan mudik turun, pelanggaran lalu lintas naik. Kompas. Diunduh dari http://nasional.kompas.com/read/2015/07/21/18553171/Jumlah.Kecelakaan.Mudik.Turun.Pelanggaran.Lalu.Lintas.Naik