ISSN 2477-1686

Vol.2. No.7, April 2016

Ini Kursiku, Mana Kursimu?

Yuarini Wahyu Pertiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta

Trend Commuter Line (CL) Saat ini

Kereta Api Listrik (KRL) yang biasa dikenal dengan sebutan Commuter Line (CL) kini telah menjadi salah satu moda transportasi andalan bagi masyarakat di jantung Ibukota Jakarta, serta kota penyanggahnya yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Antusiasme masyarakat yang relatif tinggi untuk menjadi pengguna setia KRL-CL ini dikarenakan tarif yang relatif murah, jarak tempuh yang cepat dan mampu menghindari pengguna dari kemacetan jalan yang semakin ganas. Terdapat sebutan khusus bagi mereka yang selalu menggunakan transportasi ini mulai dari anker (anak kereta), rocker (rombongan kereta) dan sebagainya.

Seiring bertambahnya volume penumpang yang makin pesat, saat ini PT KAI Jabodetabek masih merasa kesulitan untuk menambah frekuensi perjalanan KR-CL disebabkan oleh jalur kereta yang terbatas, sehingga sementara ini hanya dapat meningkatkan kapasitas angkut dengan cara memperpanjang rangkaian, yang sebelumnya rata-rata 8 gerbong menjadi 12 gerbong pada 2015 ini (kompasiana.com).

Perebutan Kursi Prioritas Pada KRL-CL

Masalah yang paling sering ditemui dari moda transportasi ini adalah keterlambatan kedatangan kereta yang berimbas pada menumpuknya jumlah penumpang baik di peron maupun di gerbongnya. Kondisi seperti ini otomatis mengurangi kenyamanan para penumpang. Mulai dari berdiri berdesakan di peron karena menunggu kedatangan kereta, berebut untuk masuk kedalam kereta, kesulitan untuk berdiri secara aman dan nyaman di dalam gerbong, sampai dengan berusaha mencari tempat duduk yang memang terbatas, diantara kursi-kursi prioritas.

Terkait dengan kursi prioritas, fasilitas  ini disediakan di  dalam setiap gerbong sebanyak 12 kursi, yaitu untuk wanita yang sedang hamil, penumpang yang membawa bayi/ anak kecil, lansia serta penyandang disabilitas. Karena begitu banyaknya penumpang di dalam suatu rangkaian kereta, maka tidak heran muncul fenomena kursi prioritas yang diduduki oleh penumpang yang tidak dikategorikan prioritas. Malah seringkali tampak penumpang tersebut tetap duduk meski melihat penumpang prioritas yang baru naik sampai benar-benar diminta untuk berdiri oleh petugas. Tidak jarang juga, penumpang yang secara fisik nampak kuat untuk berdiri pun ketika mendapatkan duduk di kursi nonprioritas akan memilih tidur atau malah berpura-pura tidur karena menuntut kenyamanan yang menjadi hak mereka. Nah lalu bagaimana dengan mereka yang bukan penumpang prioritas tetapi menduduki kursi prioritas?

Kursi Prioritas Ditinjau Dari Perspektif Psikologi

Bila ditinjau dari perspektif psikologi, dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan dari segi tingkatan kepentingannya mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan & keselamatan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri (Maslow dalam Feist, 2015). Mengungkap fenomena orang-orang yang berusaha duduk di kursi nonprioritas adalah bahwa penumpang tersebut memiliki kebutuhan akan rasa nyaman yang dalam teori hirarki Maslow berada di tingkat ke 4, yaitu mereka yang merasa lelah karena aktivitas dan emosi yang muncul disebabkan oleh begitu sesaknya keadaan kereta disertai dengan timing kereta yang masih belum konsisten terhadap jadwal. Selain itu, dari teori sosial dapat kita simpulkan bahwa penumpang tersebut kurang memiliki empati terhadap orang lain. Menurut Stein dan Howard (2002) empati adalah kemampuan untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan dan pikiran  orang lain. Serupa dengan fenomena kursi prioritas yang diduduki oleh mereka yang bukan penumpang prioritas, ini mereka lakukan didasari oleh pemenuhan kebutuhan, akan tetapi pemenuhannya dilakukan dengan berbagai cara yang dapat dikatakan memaksa. Hal ini disebabkan oleh lunturnya empati sehingga tidak lagi memahami mana yang hak dan mana kesadaran/tanggung jawab.

Mengapa orang-orang tersebut rela berebut demi mendapatkan tempat duduk? apakah kepentingan/kebutuhan diri sendiri saat ini adalah segalanya yang tidak bisa ditawar lagi sehingga menolong orang lain atau minimal memberikan haknya menjadi hal yang sulit, bahkan mustahil untuk dilakukan. Berdasar teori psikologi dapat dijelaskan, tampaknya urban-overload hyptothesis mempengaruhi tingkat pro-sosial seseorang karena tingkat kesibukan menimbulkan beban yang berlebih sehingga seseoang harus selektif dalam memberikan respon terhadap stimulus lingkungan agar dapat tetap menjalankan perannya dengan lebih baik (Steblay, 1987, dalam Widyarini). Dengan kondisi tersebut, sepertinya tepat apabila kita mulai menerapkan prinsip “pay it forward” yaitu jika ada orang yang berbuat baik kepada kita, balasannya tidak harus langsung kepada orang itu tetapi kita bisa meneruskan berbuat baik kepada orang lain.

Mari Kita Tingkatkan Sikap Prososial

Miris rasanya ketika perilaku prososial hilang hanya karena pemenuhan kebutuhan pribadi, memang kita tidak dapat menggeneralisir seluruh penumpang memiliki sikap prososial yang memudar, karena nyatanya masih ada segelintir orang yang rela memberikan kursinya atau sekedar menegur orang lain untuk memberikan kursinya kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Sudah saatnya kita sebagai makhluk sosial untuk bisa bersikap prososial khususnya di dalam KRL-CL, apabila dirasa sulit untuk memberikan kursi kita kepada orang lain, minimal kita memiliki kesadaran untuk tidak menduduki kursi prioritas.

Referensi: 

Jess Feist, Gregory J. Feist. 2010. Teori Kepribadian Buku1 (edisi 7). Jakarta: Salemba Humanika.

Stein, Steven J, dan Book, Howard E. 2002. Ledakan EQ: 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Alih Bahasa : Trinada Rainy Januarsari. Bandung: Kaifa

Widyarini, MM. Nilam. (Tanpa tahun). Handout Psi Sosial II: Perilaku Prososial. Jakarta: Universitad Gunadarma.

Akhmad Sujadi. 2015. Commuter Line Volume Tumbuh Kenyamanan Berkurang. http://www.kompasiana.com/sujadi/commuter-line-volume-tumbuh-kenyamanan-berkurang, 31Desember 2015.