ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 16 Agustus 2020

 

Kepo Banget Deh

 

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Salah seorang kawan (Ibu A) menceritakan pengalamannya dalam berelasi dengan orang lain (Ibu B). Pada mulanya relasi ini terjalin sebagai hubungan kerja yang biasa saja. Hingga suatu hari, ibu A mengalami bahwa hampir tiap hari Ibu B mengirimkan pesan teks yang menanyakan mengenai kegiatan Ibu A. Waktu memberikan pertanyaan pun acak,  kadang pagi hari, kadang di sore hari, mulai dari pertanyaan ‘lagi ngapain?’ hingga pernyataan ‘kok hari ini ngga ada kabar ya’. Respon ibu A yang tadinya biasa saja, lama-lama mulai merasa tidak nyaman. Ketika ditanyakan kembali kepada ibu B misalnya dengan ‘ada apa ya?’, respon ibu B hanya ‘oh ngga papa, cuma tanya aja.’

 

Berbagai pertanyaan muncul di benak ibu A, mulai dari ‘Kenapa ya harus menanyakan kabar terus-menerus?’ ‘Apakah ada hal yang serius ingin dibahas’ hingga asumsi bahwa ibu X ini terlalu kepo untuk tahu urusan orang lain. Lalu, apa dampaknya jika seseorang kepo dengan urusan orang lain?

 

Kepo

Kata kepo menjadi kata yang populer belakangan ini. Kata kepo didefinisikan dalam kamus daring Bahasa Indonesia (2016) sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan mengenai kepentingan atau urusan orang lain.  Febrianto (2019) mendefinisikan kepo sebagai ingin tahu urusan orang lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa kepo adalah rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan orang  lain.  Hal inilah yang dirasakan oleh Ibu A ketika  Ibu B terus menerus menanyakan pertanyaan ‘lagi apa?’ selama berhari-hari. Wima (2018) menyebutkan beberapa ciri orang yang kepo, yaitu selalu ingin memiliki kabar terbaru tentang kehidupan seseorang, menanyakan hal dengan rinci atau kadang hal yang tidak pantas untuk ditanyakan, kurang menunjukan simpati ketika lawan bicara bercerita asalkan bisa mengorek informasi sebanyak-banyaknya, hingga bertanya tanpa ada keinginan untuk membantu. Individu yang kepo juga mungkin saja untuk menyebarluaskan informasi yang diperoleh dari orang yang dijadikan korban kepo kepada orang lain.

 

Lalu, mengapa ada orang yang bersikap kepo terhadap urusan orang lain? Apa sih motifnya? Mungkin sebenarnya ibu X bermaksud untuk peduli?  .

 

Inferiority complexes & Striving for Superiority

Adler (dalam Feist, Feist & Roberts, 2013) menggambarkan bahwa ada sekian banyak individu yang memiliki inferiority complexes yang berlebih dalam hidupnya. Kekurangan tidak pernah lepas dari kehidupan manusia karena manusia sebenarnya lahir dengan kekurangan. Untuk menyikapi kekurangan yang ada pada manusia, mereka memilih dengan melakukan dua cara yaitu dengan striving for superiority atau striving for success.

 

Striving for superiority dilakukan dengan menunjukan keunggulannya dibanding dengan yang lain (personal superiority) dan lebih berorientasi self-centeredness (minat yang berlebih pada diri sendiri). Individu yang melakukan striving for superiority, secara sadar atau tidak sadar, berusaha menyamarkan kekurangannya, menutupi perasaan inferiornya (inferiority complexes) dengan seolah-olah memiliki kepedulian pada orang lain (Feist, Feist, & Roberts, 2013), Pada konteks ilustrasi ibu B dan ibu A, hal tersebut dilakukan oleh ibu B dengan menghujani pertanyaan yang berisi keingintahuan setiap hari. Tentu saja kepo sangatlah berbeda dengan peduli, yang paling membedakan adalah perilaku menolong yang muncul pada kepedulian, sedangkan perilaku kepo adalah perilaku menggali sedemikian banyak informasi yang akan digunakan keuntungan  dirinya. Kepo terlihat berusaha untuk mencampuri urusan orang lain demi maksud tertentu (Wima, 2019). Maksud tertentu yang mungkin saja untuk membuat individu merasa lebih superior karena lebih informatif dibandingkan orang-orang yang tidak memiliki informasi.

 

Pada konteks ibu B, perasaan inferior dan tidak aman yang dimiliki membuat ia menjadi kepo, memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan kepada ibu A. Dengan menggunakan teori Adler, bisa saja kepo tersebut diasumsikan sebagai upaya untuk menutupi kelemahan diri/mengkompensasi kekurangannya dengan mendapatkan sedemikian banyak informasi yang digunakan untuk keuntungan dirinya, misalnya merasa lebih eksis.

 

Boleh atau tidak boleh?

Kita sudah memahami bahwa perilaku kepo cenderung sebagai usaha untuk menutupi kelemahan diri dengan mencoba mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari orang lain yang akan digunakan untuk membuat dirinya terlihat lebih unggul atau lebih baik dari orang lain.

 

Jadi, kepo sebenarnya boleh atau tidak boleh? Jika yang dilakukan pada akhirnya membuat orang lain menjadi tidak nyaman dan berakhir dengan merugikan diri sendiri dan juga orang lain, sebaiknya hal ini tidak dilakukan. Biasanya orang yang kepo akan merasa terancam merasa cemas dan makin merasa tidak aman ketika mengetahui pribadi tertentu sudah melakukan lebih banyak usaha dibandingkan dirinya.

 

Sebagai penutup, Overholser (2010) mengingatkan individu untuk lebih berorientasi terhadap orang lain atau sosial—melakukan striving for success—misalnya dengan melakukan aksi peduli dan mengembangkan orang lain dibandingkan dengan berfokus pada keuntungan diri sendiri.

 

One who has an inferiority complex can never be really humble, but can only have false modesty or false humility.

-Sri Chinmoy

 

 

 

 

 

Referensi:

 

Febrianto, N. (2019, April 22). Apa arti kata kepo? Tagar.id. https://www.tagar.id/apa-arti-kata-kepo

 

Feist, J., Feist, G.J., & Roberts, T. (2013). Theories of personality (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2016). Kepo.  https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kepo

 

Overholser, J. C. (2010). Psychotherapy that strives to encourage social interest: A simulated interview with Alfred Adler. Journal of Psychotherapy Integration, 20(4), 347–363.

 

Wima, P. (2018, Mar 27). Harus dihindari, 7 tanda seseorang terlalu kepo dengan hidupmu. IDN Times https://www.idntimes.com/life/inspiration/pinka-wima/tanda-orang-terlalu-kepo-dengan-hidupmu/7

 

Wima, P. (2018, Des 22). Waspada, ini 7 ciri bedanya orang yang peduli vs cuma kepo. IDN Times. https://www.idntimes.com/life/inspiration/pinka-wima/bedanya-orang-yang-peduli-vs-cuma-kepo-1/7