ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 15 Agustus 2020

 

Dampak Pola Kelekatan Masa Kecil dalam Pembentukan Kepribadian dan Keterampilan Individu Menjalin Hubungan Sosial Masa Mendatang

 

Oleh

Putu Ayu Cynthia Kemala Saraswati dan Luh Kadek Pande Ary Susilawati
Program Studi Sarjana Psikologi, Universitas Udayana


Sebagai seorang manusia, kita tergerak untuk terhubung dengan orang lain. Hubungan yang baik tidak hanya sebatas seberapa akrab dan ramahnya orang lain terhadap kita, namun juga adanya ikatan (bonding) yang erat dengan orang lain. Bonding dianggap sebagai strategi bertahan hidup esensial paling hakiki yang dimiliki. Manusia terlahir untuk mencari serta membentuk kontak sosial dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, kita juga mencari kedekatan fisik dan emosional dengan orang lain. Apabila berhasil menemukan sosok yang tepat maka hubungan ikatan yang terbentuk akan terasa seperti safe heaven (Johnsons, 2019). Berdasarkan teori ikatan (bonding), bila kita memiliki hubungan yang erat dengan sosok yang dipercaya maka hubungan tersebut menjadi ceruk ekologis perkembangan diri individu sebagai manusia agar dirinya dapat berevolusi menjadi diri terbaik mereka. Sepanjang kehidupan manusia, berhubungan dengan orang lain membentuk sistem susunan saraf pada dirinya, membentuk cara dirinya merespons terhadap stres, membentuk kehidupan emosional sehari-hari, dan drama maupun dilema antarpribadi yang terjadi selama kehidupannya (Johnsons, 2019). Hal ini disebabkan dalam hubungan yang sudah terbentuk, kita saling memiliki keinginan untuk terikat sehingga terdorong untuk mencari dan mendekati satu sama lain. Disamping itu, kita memandang sosok satu sama lain dapat diperhitungkan dan dipercayai sehingga kita cenderung akan merasa nyaman untuk menggantungkan diri dan menyebut sosok tersebut sebagai figur lekat karena kita merasa dilindungi, diasuh, dan diperhatikan dengan baik. Manusia menyadari akan kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain apabila dirinya merasa terancam, tengah menghadapi hal yang berisiko, merasakan sakit, atau menghadapi ketidakpastian akan suatu hal. Ancaman yang datang bisa berasal dari luar atau dalam diri indvidu (Mikulincer, Birnanbaum, Woddis, & Nachmias, 2000; Mikulincer & Florian, 2000).

 

Bila kita sadari, kemampuan dalam membangun ikatan dengan orang lain sudah kita pelajari dari kecil. Tepatnya diajari secara tidak langsung oleh sosok pengasuh, yakni sebagian besar orangtua dan mereka biasanya menjadi figur lekat yang paling penting dalam kehidupan seorang anak (Mikulincer, 2006). Gaya pengasuhan masing-masing orangtua sangat mempengaruhi bagaimana kita akan mencari sosok untuk melekat dan bagaimana cara kita untuk mempertahankan hubungan tersebut. Menurut Bowlby (1988), pengasuhan yang baik dan menjadi kunci utama kesehatan mental untuk generasi berikutnya, sehingga pengasuh sebisa mungkin perlu mengetahui tentang sifat (nature), kondisi sosial dan psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan anak untuk mampu menjadi lebih baik atau mampu menjadi lebih buruk. Pembentukan diri individu didasari atas kualitas hubungannya dengan orangtua terbentuk pada masa kecil, yang kemudian akan mengembangkan konstruksi mental anak mengenai dirinya sendiri beserta orang lain yang akan menjadi mekanisme penilaian dalam penilaian lingkungan (Bowlby dalam Pramana, 1996). Basis model hubungan yang secure meningkatkan kesadaran diri yang kuat, efikasi diri dan akan menjadi sosok yang resilien terhadap stress. Individu mampu berkembang dengan baik, mampu menghadapi stress tanpa merasa takut kehilangan kontrol diri atau merasa kewalahan menghadapi tekanan dan permasalahan (Dunham, 2011). Individu yang terbentuk dari model hubungan insecure akan merasa lebih kewalahan dalam mengatur kebutuhannya, kesulitan mengelola emosi dan mudah tertekan serta cenderung mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan atau mengabaikan orang lain (Johnsons, 2019).

 

Sebagian dari kita sangat jarang menyadari bahwa bekal pengalaman masa kecil diasuh oleh orangtua mempengaruhi bagaimana kita membawa diri sendiri di masa depan. Tidak mengherankan bagaimana bisa seseorang terjebak dalam model hubungan yang tidak sehat, segala bekal pengalaman masa kecil yang mengantarkan dirinya. Disamping dirinya menjadi korban dari hubungan yang tidak sehat, diri mereka bisa menjadi pelaku dari terbentuknya hubungan tidak sehat. Hal ini didukung oleh pernyataan Wekerle dan Wolfe (1999) menyatakan pola kelekatan yang insecure berisiko mendorong kemunculan perilaku agresif dalam menjalin hubungan asmara sebagai pelaku maupun korban.

 

Perkembangan diri indvidu yang kurang optimal terutama dalam segi kemampuan sosial tentunya akan berdampak pada diri indvidu sulit untuk membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain. Akibatnya individu yang menjadi korban ataupun pelaku hubungan yang tidak sehat akan terus menerus mengulangi permasalahan yang sama dalam berhubungan dengan satu sama lain. Hal ini disampaikan pula oleh Parish-Plass (2008), anak-anak akan menjadi tidak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan di luar keluarga, disebabkan karena anak tidak terbiasa dengan pola respon dari orang lain kecuali dari keluarganya sendiri yang melakukan kekerasan lalu bisa menjadi cenderung sulit untuk berempati dengan orang lain.

 

Banyak faktor yang menyebabkan seorang anak tidak memiliki hubungan yang erat dan akrab dengan orangtuanya, bukan berarti mereka memiliki orangtua yang buruk, namun bisa jadi mereka merasa dikecewakan oleh orangtua mereka sehingga muncul trauma yang belum pulih. Hal ini disebabkan orangtua mereka dulunya adalah anak-anak yang juga tidak pernah mendapatkan hubungan yang erat dengan orangtuanya (Johnsons, 2019). Sehingga apabila kita perhatikan, pola kelekatan insecure ini akan menjadi siklus yang tiada hentinya berkelanjutan dari generasi ke generasi keluarga. Tumbuh dengan pola kelekatan ini membuat remaja yang akan beranjak dewasa memiliki integritas diri yang lebih baik, seperti memiliki kepercayaan diri, penerimaan diri, dan efikasi diri yang baik serta mampu mengelola emosi, lebih optimis, dan resilien (Santrock, 2007). Saat beranjak menjadi dewasa muda, mereka cenderung merasa puas dengan hubungan dekat yang telah dijalin.

 

Hubungan tersebut dipenuhi dengan kepercayaan, komitmen, serta menumbuhkan rasa sabar (Feeny & Collins, 2007). Mereka cenderung akan menyediakan dukungan atau bantuan ketika dirinya ataupun pasangannya sedang mengalami stress, serta lebih membayangkan hubungan romantis penuh dengan kehangatan, kedekatan dan keakraban (Rholes & Simpson, 2007; Santrock, 2007). Remaja dengan pola kelekatan insecure justru membayangkan hal sebaliknya mengenai hubungan romantis. Mereka cenderung berpikir bahwa pasangan tidak responsif dan tidak akan ada untuk mereka, sehingga mereka lebih memilih menggambil jarak dan menjauhkan diri dari pasangan (Santrock, 2007). Pola kelekatan insecure ini rentan meningkatkan perasaan rapuh dalam diri sendiri. Menurut para peneliti teori pola kelekatan, indvidu menjadi rentan mengalami gangguan mental disebabkan oleh sebaik apa kemampuan regulasi emosi yang dimiliki. Individu dengan pola kelekatan insecure rentan terkena depresi, berbagai macam bentuk stress, dan gangguan kecemasan utamanya seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), obsessive–compulsive disorder (OCD), dan generalized anxiety disorder (GAD) (Ein-Dor & Doron, 2015) rentan mengalami gangguan kepribadian, serta dikaitkan dengan gangguan eksternalisasi seperti conduct disorder, memiliki tendensi menjadi antisosial dan adiksi pada usia dewasa (Krueger & Markon, 2011; Landau-North, Johnson, & Dalgleish, 2011).

 

Individu dengan pola hubungan insecure selama ia tumbuh dewasa akan terus dihantui oleh kekecewaan terhadap masa kecil dan orangtuanya. Upaya berhubungan dalam asmara dengan menggunakan bekal ingatan hubungan masa kecil yang buruk, justru sering berujung dengan permasalahan. Walaupun begitu, hubungan asmara di usia dewasa lebih menyuguhkan peluang untuk menguji serta memperbaiki cara pandang atas diri sendiri, hubungan asmara yang dimiliki dan dunia yang lebih luas, tidak seperti hubungan orangtua dengan anak di masa lalu (Holmes, 1993). Apabila dua orang memiliki pola kelekatan insecure saling berpasangan, maka hubungan tersebut menjadi beresiko dan bermasalah (Mikulancer & Shaver, 2007).   

 

Referensi:

 

Bretherton, I. (1992). The origins of attachment theory: John Bowlby and Mary Ainsworth. Developmental psychology, 28(5), 759.

Collins, N. L., & Feeney, B. C. (2000). A safe haven: An attachment theory perspective on support seeking and caregiving in intimate relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 78(6), 1053–1073. doi:10.1037/0022-3514.78.6.1053.

Gillath, O., Karantzas, G. C., & Fraley, R. C. (2016). Adult attachment: A concise introduction to theory and research. Academic Press.

Hepper, Erica & Carnelley, Katherine. (2012). Attachment and romantic relationships: The roles of working models of self and other.

Holmes, Jeremy. (1993). John Bowlby and Attachment. New York: Routledge Publisher

Hornor, G. (2019). Attachment Disorders. Journal of Pediatric Health Care, 33(5), 612–622. doi:10.1016/j.pedhc.2019.04.017


Levy, T. M., & Orlans, M. (1998). Attachment, Trauma, and Healing: Understanding and Treating Attachment Disorder in Children and Families. Child Welfare League of America, c/o PMDS, 9050 Junction Drive, PO Box 2019, Annapolis Junction, MD 20701-2019.

Johnsons, M. S. (2019). Attachment Theory in Practice: Emotionally Focused Therapy (EFT) With Individuals, Couples, And Families. New York: The Guilford Press. 

Olson, D., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2010). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths. McGraw Hill.

Shea M. Dunham, dkk (2011). Poisonous Parenting: Toxic Relationship between Parents and Their Adult Children. New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Wennitte, Petra dan Jonathan Baylin (2017). Working with Traumatic Memories to Heal Adults with Unresolved Childhood Trauma: Neuroscience, Attachment Theory and Pesso Boyden System Psychomotor Psychotherapy. USA: Jessica Kingsley Publishers.