ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 15 Agustus 2020

Berwelas Diri dalam Kesulitan Hidup

 

Oleh

Dicky Sugianto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Hidup selalu penuh dengan permasalahan. Kesulitan hidup juga tak jarang kita alami. Masalah dan kesulitan dalam kehidupan ini tentunya membuat kita tertekan. Ketika permasalahan atau kesulitan datang, bagaimana kita meresponsnya? Apakah kita cenderung menyalahkan diri, menghakimi diri, dan hanyut dalam perasaan ketidakmampuan diri? Jika hal ini kita rasakan, tentunya kesehatan jiwa kita dapat terganggu, terutama jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama. Namun, sikap bagaimanakah yang kemudian dapat membantu kita ketika kita mengalami permasalahan dan kesulitan hidup, atau ketika kita merasa tidak mampu di tengah terpaan masalah hidup kita?

 

Sikap Berwelas Diri

Dr. Kristin D. Neff, seorang profesor psikologi di University of Texas at Austin pada tahun 2003 mencetuskan sebuah bentuk sikap yang lebih membantu kita ketika berhadapan dengan kesulitan atau penderitaan, yaitu welas diri (self-compassion). Welas diri merupakan sebuah sikap dimana kita menyadari bahwa kita sedang mengalami hal yang sulit, tidak menyenangkan, dan menderita yang diikuti dengan memberikan dukungan dan kebaikan hati pada diri untuk menghadapi kesulitan yang dialami. Welas diri juga melibatkan kesadaran dan penerimaan bahwa hidup manusia penuh dengan kesulitan dan tidak sempurna.

 

Welas diri memiki tiga wajah yang memiliki sisi yang saling berkebalikan, yaitu sikap mengasihi diri (self-kindness) yang berlawanan dengan sikap menghakimi diri (self-judgment), kesadaran akan universalitas pengalaman hidup manusia dimana hidup manusia memang penuh kesulitan (kemanusiaan universal/common humanity) yang berkebalikan dengan persepsi bahwa hanya diri yang mengalami penderitaan (isolasi/isolation), serta memerhatikan dan memahami penderitaan yang dialami diri (kewawasan (Lanin, 2018)/mindfulness)      yang berkebalikan dengan berkutat pada pikiran dan perasaan negatif ketika mengalami penderitaan (overidentifikasi/overidentification; Neff, 2003).

 

Seseorang dikatakan berwelas diri ketika ia memiliki respon diri yang penuh welas asih (compassionate self-responding) yang pada saat bersamaan diikuti dengan menurunnya respon diri yang tidak berwelas asih (reduced uncompassionate self-responding; Neff et al., 2019). Sebagai contoh, ketika berkonflik dengan pasangan, orang yang berwelas diri akan menyadari bahwa ia sedang mengalami kesulitan dan merasakan perasaan negatif. Ia mengamati perasaan tersebut dengan penerimaan dan keterbukaan (misalnya, “Saya sedih ketika dia mengatakan hal yang menyakiti hati saya”) tanpa berlarut-larut dalam perasaan tersebut (misalnya menyalahkan pasangan atau diam seribu bahasa karena terlalu terluka). Ia kemudian juga menyadari bahwa konflik yang ia alami bukan hanya terjadi pada dirinya dan pengalaman tersebut manusiawi sehingga dapat melihat pengalamannya dari banyak perspektif (“Saya terluka karena perkataannya. Mungkin dia juga terluka ya karena perlakuan saya atau dia sedang mengalami hari yang buruk. Yah, dalam hubungan pasti ada konflik ya”). Kesadaran ini diikuti dengan sikap yang hangat dan mendukung pada diri (“Pertengkaran ini menyakitkan dan membuat saya sedih. Saya akan memproses perasaan saya sejenak sebelum saya menyelesaikan masalah dengan pasangan saya”) tanpa sikap menghakimi atau dingin pada diri (“Ini semua gara-gara saya adalah pasangan yang buruk”).

 

Sulit tapi Tak Terjepit

Welas diri memampukan kita untuk menghadapi kesulitan hidup baik dari dalam (misalnya berhadapan dengan aspek diri yang tidak disukai) maupun dari luar diri (misalnya masalah dalam pekerjaan) dengan lebih sehat. Welas diri dapat membuat kita merasa lebih sejahtera menjalani kehidupan meski sedang ditimpa berbagai permasalahan (Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2006). Hal ini dapat memampukan kita belajar dari pergumulan kita agar di kemudian hari kita tidak menderita lagi (Breines & Chen, 2012; Wong & Yeung, 2017). Dengan demikian, meskipun hidup dipenuhi kesulitan, kita dapat tegar menghadapinya dan bahkan bertumbuh darinya.

 

Referensi:

 

Breines, J. G., & Chen, S. (2012). Self-compassion increases self-improvement motivation. Psychology and Social Psychology Bulletin. Advance online publication. doi: 10.1177/0146167212445599

Lanin, I. [ivanlanin]. (2018, November 24). Usul: - mindful = wawas - mindfulness = kewawasan wawas, mewawas = mengamati atau melihat (diri sendiri) [Tweet]. Retrieved from https://twitter.com/ivanlanin/status/1066500665323606017.

Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2, 85-101.

Neff, K. D., Kirkpatrick, K. L., & Rude, S. S. (2006). Self-compassion and adaptive psychological functioning. Journal of Research in Personality, 41, 139-154.

Neff, K. D., Toth-Kiraly, I., Yarnell, L. M., Arimitsu, K., Castilho, P., Mantzios, M. (2019). Examining the factor structure of the Self-Compassion Scale in 20 diverse samples: Support for use of a total score and six subscale scores. Psychological Assessment, 31(1), 27-45.

Wong, C. C. Y., & Yeung, N. C. Y. (2017). Self-compassion and post-traumatic growth: Cognitive processes as mediators. Mindfulness, 8, 1078-1087.