ISSN 2477-1686

 

Vol.2. No.7, April 2016

Memberikan “Pelukan” Sebagai Budaya dalam Keluarga

Sarita Candra Merida

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Jika kita mengamati ada keluarga yang membiasakan memeluk pasangan, memeluk anak, atau sebaliknya. Ada yang sudah melakukannya tetapi ada juga yang belum. Mengapa ada yang melakukannya namun ada yang belum, ditinjau dari konsep budaya yang diungkapkan oleh Matsumoto dan Juang (2004) mengenai kebiasaan memeluk dalam keluarga, terdapat penjelasan sebagai berikut:

Sejarah Memeluk

Memeluk suatu tradisi atau warisan yang diasosiasikan dengan sekelompok orang. Ada keluarga yang turun temurun dari nenek moyang, orangtua sebelumnya membiasakan memberikan sebuah pelukan kepada anak atau pun pasangannya. Ada keluarga yang tidak pernah membiasakan memberikan pelukan dengan setiap anggota keluarganya.

Memeluk dan Budaya dalam Keluarga

Ada keluarga yang menetapkan aturan untuk memeluk setiap anggota keluarga setiap ada momen penting atau setiap saat harus memeluk. Memberikan hadiah berupa pelukan setiap berhasil memberikan sesuatu atau memeluk sebelum beraktivitas. Hal-hal tersebut yang dimaksud sebagai sebuah aturan yang diasosiasikan dengan budaya. Sedangkan deskriptif disini menggambarkan aktivitas setiap anggota keluarga berbeda. Ada yang membiasakan memeluk dan ada yang tidak membiasakannya.

Memeluk dalam Tinjauan Psikologi

Seperti dijelaskan Bandura dalam Alwisol (2009) setiap orang belajar untuk mendapatkan perilaku baru. Proses belajar itu meliputi memberikan perhatian (attention) dengan melihat dan mengamati perilaku yang ada di sekelilingnya. Misalnya, anak yang mengamati perilaku orangtua yang suka memeluk dirinya di setiap pagi saat bangun tidur, anak yang melihat ayahnya selalu memeluk ibunya sebelum berangkat kerja dan pulang kerja. Setelah memperhatikan akan direseprentasi dalam ingatan bahwa di keluarganya selalu dibiasakan untuk memeluk karena dirinya juga diperlakukan hal yang sama oleh orangtuanya dan orangtuanya pun juga memperlakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.

Selanjutnya proses belajar berikutnya yang dinamakan imitasi atau meniru. Anak itu pun akhirnya akan menirukan perilaku yang sama karena di lingkungan keluarganya terutama ayah dan ibunya saling memberikan pelukan dan memeluk dirinya. Setelah itu pemberian penguatan (reinforcement). Perilaku memeluk ini akan semakin diperkuat dan dilakukan terus menerus jika ayah dan ibunya pun memberikan pujian, penghargaan yang positif karena anak tersebut sudah memeluk ayah atau ibunya bahkan mungkin saudaranya baik yang sekandung atau sepupu. Tidak heran jika ada anak atau orang di sekeliling kita ketika mendapat sebuah pelukan terasa “dingin” atau aneh karena mereka baru mendapat perilaku baru berupa memeluk saat itu, hal ini karena sebelumnya orang-orang yang berada di sekelilingnya tidak pernah memberikan sebuah pelukan.

Struktur dan Genetika

Struktur dan genetika disini adalah originalitas dari budaya memeluk sendiri. Konsep memeluk sendiri kembali pada pengertian dan pemahaman mengenai norma, etika, adat istiadat yang ditetapkan dalam suatu masyarakat atau keluarga itu sendiri.

Mengacu pada pengertian budaya yang diungkapkan oleh Shiraev & Levy dalam Sarwono (2014) memeluk dikatakan budaya jika digunakan sebagai suatu set, sikap, perilaku dan simbol yang dimiliki bersama oleh manusia dan biasanya dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akan terasa aneh ketika memeluk tidak digunakan secara bersama dalam sebuah keluarga, kemudian mengharapkan suatu pelukan atau suatu saat kita memeluk salah satu anggota keluarga kita yang sebelumnya pelukan itu tidak pernah dikomunikasikan dari generasi ke generasi.

Berdasarkan penjelasan di atas bukan tidak mungkin memulai sejak dini untuk memberikan sebuah pelukan kepada anggota keluarga kita sehingga menjadikan suatu simbol yang dimiliki bersama dalam keluarga tersebut. Apalagi jika kita mengetahui memberikan sebuah pelukan memiliki banyak keuntungan baik yang memberikan atau yang menerima pelukan.

Keuntungan Memberikan Sebuah Pelukan

Berdasarkan artikel yang dikutip dari http://www.mindbodygreen.com pada tanggal 2 Maret 2016 bahwa memeluk memiliki manfaat untuk menyembuhkan rasa sakit, kesendirian, depresi dan kecemasan. Melalui sebuah pelukan keuntungan yang diperoleh diantaranya :

1.   Memberikan rasa percaya dan nyaman sehingga mendorong untuk berkomunikasi yang jujur dan terbuka.

2.   Merangsang tubuh untuk menghasilkan hormon oksitosin sehingga menyebuhkan rasa kesepian, kesendirian dan kemarahan.

3.   Menaikkan level neurotransmitter serotonin untuk menciptakan rasa bahagia

4.   Menjaga keseimbangan tubuh

5.   Menaikkan self esteem, karena merasa diperhatikan dan diberikan kasih sayang sehingga tidak merasa sendiri.

6.   Membuat kita lebih rileks dan tenang sehingga dapat menggantikan meditasi.

7.   Belajar untuk memberi dan menerima satu sama lain

Di samping itu menurut Erikson dalam Santrock (2012) kenyamanan fisik memainkan peranan penting untuk perkembangan sejak bayi yaitu membentuk kepercayaan dasar sebagai bekal di tahap perkembangan selanjutnya. Disini memberikan pelukan dapat sebagai alternatif untuk memberikan kenyamanan fisik yang membentuk kepercayaan individu.

Mari Jadikan Pelukan Sebagai Budaya Keluarga

Bisa dibayangkan apabila sebuah pelukan dijadikan sebagai simbol yang digunakan bersama dalam keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi, rasa percaya satu sama lain antar anggota keluarga akan terbentuk, kehangatan dan rasa kasih sayang pun muncul sehingga hanya rasa bahagia yang ada dalam keluarga tersebut. Ketika memulai memberikan sebuah pelukan memang akan terasa aneh karena belum pernah dikomunikasikan dari generasi ke generasi sehingga tidak menjadi simbol bersama dalam keluarga, namun tidak ada salahnya bukan memulai mengkomunikasikan untuk memberikan sebuah “pelukan” dalam keluarga.

Referensi:

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press

Matsumoto, DR., & Juang, LP. (2004). Culture and Psychology. Edisi 3. Wadsworth Cengage Learning.

Sarwono, SW. (2014). Psikologi Lintas Budaya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Santrock, JW. (2012). Life Span Development. Edisi ketigabelas.  Jakarta : Erlangga