ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 13 Juli 2020

Mempersiapkan Orangtua dan Anak Guna Memasuki Sekolah pada Fase the New Normal

 

Oleh

Penny Handayani

Fakultas Psikologi, UNIKA Atma Jaya, Jakarta

 

Situasi pandemi membuat semua orang tetap berada di rumah guna memutus rantai penyebaran COVID-19 memaksa kita beradaptasi dengan hal-hal baru dalam hidup. Istilah WFH, SFH dan LFH muncul sebagai hal yang normal dilakukan oleh semua orang pada berbagai aspek dalam kehidupan. Apakah kita dapat melaluinya? Apakah kita menemukan zona nyaman baru? Apakah kita berhasil menyesuaikan diri?

Setelah sekian lama, aspek kehidupan kita berubah kembali. Ketika kita sudah mampu beradaptasi dengan situasi tetap di rumah, PSBB mulai dilonggarkan. Lalu apa yang terjadi? Semua orang yang sudah mulai terbiasa merasa lebih aman di rumah, mulai merasakan kenyamanan dengan situasi baru, diarahkan untuk mulai beraktivitas kembali seperti sebelum masa pandemi. Meskipun tidak se-normal seperti dulu, namun the new normal mulai berjalan. Ketika new normal mulai menjadi wacana dan dapat terjadi pada area pendidikan, semua menyambutnya dengan reaksi yang beragam. Bagi anak-anak, terutama usia dini, tentu saja sangat senang. Bertemu dengan teman-teman kembali. Belajar bersama bu guru tersayang. Bermain di playground favorit di sekolah. Pada saat yang sama, guru merasa lega karena dapat bersekolah seperti sediakala dan menuntaskan beban kurikulum yang terhutang selama pandemi. Namun pada sisi lain, hal yang berbeda bagi para orang tua yang melepaskan buah hatinya ke luar rumah. Meskipun beberapa orang tua merasa lega karena anak-anak kembali bersekolah dan dapat diajar kembali oleh para guru yang lebih kompeten untuk mengejar tuntutan kurikulum yang harus dituntaskan, para orangtua juga merasa cemas dengan keselamatan anak-anaknya di sekolah terhadap ancaman COVID-19.

Lalu apa yang harus dilakukan guna membuat situasi the new normal pendidikan ini menjadi lebih nyaman dan lancar bagi semua pihak? Salah satu hal yang harus dilakukan adalah menerima fakta bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan. Perubahan besar dan mendadak pada kehidupan akan membuat stress. Menurut Sarafino (1994) stress adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stress adalah tekanan internal maupun eksternal serta kondisi bermasalah lainnya dalam kehidupan (an internal and eksternal pressure and other troublesome condition in life). Ardani dkk (2007) mendefinisikan stress merupakan suatu keadaan tertekan baik itu secara fisik maupun psikologis. Biasanya stressfull live event terjadi pada area yang penting dalam kehidupan seseorang, seperti: ekonomi, pendidikan, agama, interaksi sosial dan agama.

 

Ketika kita sudah dapat menerima dengan hati lapang, maka stress akan berkurang dan proses lanjutan dapat berjalan, yang adalah adaptasi, kematian orang terdekat atau perpisahan, terkena penyakit berat, diberhentikan dari pekerjaan, perubahan kondisi keuangan, penyesuaian sekolah, dan bencana alam adalah beberapa hal yang membutuhkan daya adaptasi tinggi. Teori Darwin mengatakan bahwa hanya dengan beradaptasi kita dapat bertahan hidup dan manusia adalah mahluk yang paling dapat beradapatasi. Apa itu adaptasi? Adaptasi adalah kemampuan untuk mengubah reaksi dan interaksi agar sesuai dengan situasi baru. Ketika adaptasi tidak berhasil dilakukan, maka stress dan kecemasan sangat mungkin muncul. Seperti hasil penelitian dari beberapa ahli kesehatan seputar COVID-19 bahwa ketika pikiran dipenuhi dengan hal negatif yang menjadikan stress dan cemas, maka imunitas tubuh juga akan menurun dan virus mungkin akan masuk karena sistem kekebalan tubuh kita lemah. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Lyubomirsky dkk (2005) yang mengatakan bahwa emosi negatif mengantarkan peningkatan gangguan pada irama jantung dan system syaraf otonom yang akhirnya membuat sistem imun tubuh menurun.

Memang sangat mudah mengatakan bahwa menerima dan beradaptasi adalah kunci dari transisi the new normal. Namun bagaimanakah hal tersebut dapat dilakukan? Salah satu prinsip yang dapat dilakukan guna beradaptasi adalah A-B-C (Afektif-Behavioral-Cognitif). Walgito (2007) menjelaskan ada beberapa komponen di diri manusia yang mempengaruhi dan membentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari, berkaitan dengan dinamika psikologis. Kognitif (perseptual) dikaitkan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan yang berhubungan dengan cara seseorang membuat persepsi terhadap perilaku atau kejadian yang sedang dialami. Afektif (komponen emosional) berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek perilaku. Behavior (komponen perilaku atau action component) berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek. Komponen ini menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku dan komponen ini juga menunjukkan bagaimana perilaku manusia terhadap lingkungan sekitar (Ellis, 2007).

Berikut adalah beberapa tips and trick dari sisi Psikologi Pendidikan mempersiapkan anak sekolah untuk anak dan orang tua pada situasi the new normal dengan pendekatan A – B – C (Spiegler & Guevremont, 2003):

 

Mempersiapkan Anak untuk Sekolah.

Hal yang utama perlu dilakukan adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi hal yang baru, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada ritual sekolah lama. Suatu yang baru bisa menjadi hal yang menyenangkan, bisa juga menjadi hal yang menyeramkan, semua tergantung bagaimana cara kita menerima dan menghadapinya. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan:

1.    Afektif (sisi emosi):

Siapkan mental anak

Menanyakan kondisi emosi anak tentang kembali ke sekolah. Agar orang tua bisa menguatkan hal yang membuat anak cemas, sehingga anak menjadi seimbang kondisi emosionalnya. Gali juga hal yang menyenangkan dari kembali ke sekolah dan kuatkan kembali, keluarkan emosi positifnya, lalu didik menjadi lebih kuat.

 

2.    Kognitif (sisi pikiran):

a.    Pelajari kembali peraturan sekolah yang ada, lalu komunikasikan dan jelaskan dengan anak sebagai persiapan beradaptasi kembali bersekolah.

b.    Briefing hal yang harus di lakukan dan tidak boleh dilakukan. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia dan pemahaman anak, terutama karena orangtua menjelaskan tentang COVID-19 yang abstrak dan tidak terlihat kasat mata. Hal ini mungkin akan sulit dimengerti bagi anak dengan usia yang lebih rendah.

c.    Cari contoh video dari sekolah di luar negri yang sudah bersekolah kembali terlebih dahulu daripada sekolah di Indonesia. Video tersebut dapat digunakan sebagai media diskusi dan belajar agar sebagai persiapan bersekolah nanti, agar anak terbayang secara visual dan auditori, dan tidak kaget dengan situasi belajar yang berbeda.

3.    Behavional (sisi perilaku):

a.    Latihan protokol kesehatan COVID-19.

Lakukan simulasi di rumah, biasakan untuk menjaga jarak, sering cuci tangan, dan buang sampah hasil bersin. Buat anak dapat tetap disiplin melakukan kegiatan bersih diri secara mandiri, tanpa merasa terpaksa.

 

Mempersiapkan Orangtua yang Mempersiapkan Anak Sekolah.

1.    Afektif (sisi emosi):

Kurangi kecemasan anda, lakukan regulasi diri.

Kecemasan terjadi karena adanya kekhawatiran mengenai sesuai yang belum terjadi. Identifikasi pikiran-pikiran yang menjadi sumber kecemasan dan imbangi dengan pikiran yang positif. Kondisi emosional sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik, kondisi emosi positif dapat meningkatkan kondisi fisik Anda, sebaliknya kondisi emosi negatif akan berpengaruh dalam menurunkan kondisi fisik Anda.

 

2.    Kognitif (sisi pikiran):

a.    Kontrol pikiran Anda.

Kita punya kontrol atas pikiran kita, sebagaimana kita memiliki kontrol atas badan kita. Pikiran yang tidak memberadayakan akan mengarahkan kita pada perilaku yang tidak berguna, dan sebaliknya.

b.    Imbangi antara asumsi dan fakta

Asumsi seringkali menguasai kita dibandingkan fakta-fakta yang sebenarnya, maka carilah fakta-fakta untuk mengimbangi asumsi-asumsi, sehingga Anda bisa menjaga emosi dengan lebih baik. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mencari informasi yang sahih tentang protokol kesehatan yang dilakukan di sekolah nantinya. Hubungi pihak sekolah untuk mendapatkan informasi selengkap mungkin, agar anda juga dapat menjelaskan dengan lebih baik kepada anak.

 

3.    Behavional (sisi perilaku):

a.    Anda adalah contoh bagi anak Anda.

Orang tua mau tidak mau adalah role model untuk anak-anaknya. Mereka akan melihat bagaimana cara kita meregulasi diri selama pandemi. Hal yang sama yang juga berlaku pada anak adalah emosi. Orang tua sebaiknya menyelesaikan dulu kecemasan emosionalnya agar anak tidak tertular dan menjadi lebih siap bersekolah dengan suasan hati yang senang dan positif.

b.    Lakukan penyesuaian yang dibutuhkan.

Mungkin Anda perlu melakukan berbagai penyesuaian tentang cara menuju sekolah, cara belajar di sekolah, cara ke toliet, cara istirahat atau makan siang, cara ikut kegiatan olah raga, cara ikut ekskul, cara upacara dan cara pulang. Lakukan penyesuaian yang dibutuhkan, tanpa berlebihan agar tidak membuat anak merasa ringkuh dengan peraturan yang  diberikan kepada anak anda.

Dengan melakukan adaptasi, akan menjadi lebih mampu berpikir positif, harapannya kita sebagai orangtua yang mempersiapkan anak sekolah di situasi the new normal bisa lebih kreatif dan produktif bagi anak-anak kita (Isen, 1999; Cohn dkk, 2009). Dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan COVID-19, semoga situasi the new normal menjadi aman dan nyaman untuk kita semua. Insyaallah amin…

 

Referensi:

Ardani, Tristiardi A., Sholichatun, Yulia., Rahayu, Iin Tri. (2007). Psikologi klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Cohn, Michael A., Fredrickson, Barbara L., Brown, Stephanie L., Mikels, Joseph A., and Conway, Anne M. (2009). Happiness unpacked: Positive emotions increase life satisfaction by building resilience. Journal of Emotion. Diakses 28 Mei 2020 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3126102/.

Ellis. A. (2007). Terapi R-E-B rational emotive behavior agar hidup bebas derita. Yogyakarta: B-first

Isen, A. M. (1999). Positive affect. In T. Dalgleish & M. J. Power (Eds.), Handbook of cognition and emotion (volume 20, p. 521–539). John Wiley & Sons. Diakses 28 Mei 2020 dari Ltd. https://doi.org/10.1002/0470013494.ch25.

Sarafino,E.P. (1994). Health psychology (2.Ed). New York; Willey.

Spiegler & Guevremont. (2003). Contemporary behavior therapy. (4th edition). USA: Thomson Wadsworth

Lyubomirsky, Sonja., Sheldon, Kennon M., Schkade, David. (2005) Pursuing happiness: The Architecture of sustainable change. Diakses 29 Mei dari https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1037/1089-2680.9.2.111.

Walgito, B. (2007). Psikologi sosial: Suatu pengantar. Yogyakarta: Andi Offset.