ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 09 Mei 2020

Tiga Mitos Seputar Bunuh Diri: Benarkah?

 

Oleh

Dicky Sugianto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

 

Bunuh diri merupakan permasalahan kesehatan jiwa serius yang perlu untuk mendapatkan perhatian dari para pemangku kepentingan. World Health Organization (2014) mencatat bahwa sebanyak 800.000 orang di berbagai penjuru dunia meninggal karena bunuh diri. Pada tahun 2017, di Indonesia tercatat 0,5% individu meninggal karena bunuh diri (Ritchie, Roser, Ortiz-Ospina, 2020). Meskipun angka tersebut tampak rendah, bunuh diri merupakan fenomena kesehatan jiwa yang memprihatinkan. Hal ini dikarenakan bunuh diri merupakan kematian yang dapat dicegah, tetapi adanya banyak mitos seputar bunuh diri menimbulkan stigma yang menghalangi seseorang dengan perilaku bunuh diri mendapatkan bantuan yang dibutuhkan (Reynders, Kerkhof, Molenberghs, & Van Audenhove, 2013).

 

Mitos seputar bunuh diri perlu untuk ditinjau apakah memang benar adanya. Artikel ini bermaksud untuk mengkaji hasil tinjauan teoritik mengenai mitos-mitos tersebut. Berikut adalah tiga mitos dan bagaimana penelitian psikologis meninjau hal tersebut.

1.    Bunuh diri disebabkan oleh satu hal/faktor saja, seperti putus cinta, kebangkrutan, atau depresi saja.

Kematian akibat bunuh diri merupakan hasil dari penderitaan psikologis yang dipengaruhi oleh banyak faktor dan melalui proses yang kompleks (O’Connor & Nock, 2014). Perilaku bunuh diri (pemikiran, percobaan, dan kematian bunuh diri) merupakan kombinasi dari adanya kerentanan bawaan seseorang terhadap masalah kesehatan jiwa dengan faktor lingkungan dan juga kejadian hidup yang menekan. Seseorang yang mengalami kejadian hidup yang melukai, seperti putus cinta atau kebangkrutan, belum tentu memiliki pemikiran bunuh diri. Apabila seseorang memiliki pemikiran bunuh diri pun, belum tentu ia melakukan percobaan bunuh diri.

Depresi memang dapat memunculkan pemikiran bunuh diri dan bahkan percobaan bunuh diri (Ribeiro, Huang, Fox, & Franklin, 2018). Meskipun demikian, dampak dari depresi terhadap perilaku bunuh diri mungkin tidak sebesar yang dibayangkan. Seseorang yang mengalami depresi dapat merasa kehilangan energi dan hanya ingin tidur, sehingga meskipun ia memiliki pemikiran bunuh diri, ia tidak punya cukup energi untuk melakukannya. Selain itu, ada banyak gangguan kesehatan jiwa lainnya yang membuat seseorang rentan terhadap bunuh diri, seperti skizofrenia, penyalahgunaan zat, dan lain sebagainya (Chesney, Goodwin, & Fazel, 2014). Bahkan, kematian akibat bunuh diri dapat terjadi tanpa adanya diagnosis gangguan jiwa tertentu (Milner, Sveticic, & De Leo, 2012).

2.    Orang yang bunuh diri kurang beriman atau sudah bulat tekadnya untuk bunuh diri

Religiositas dapat berperan sebagai cara kita untuk menghadapi banyak tekanan hidup, yang mungkin dapat melindungi seseorang dari percobaan dan kematian akibat bunuh diri. Namun, penting untuk diingat sekali lagi bahwa orang yang mengalami keinginan bahkan meninggal karena bunuh diri mengalami penderitaan jiwa yang mendalam, serta bahwa tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan bunuh diri. Orang yang memiliki pemikiran bunuh diri merasa terjebak dan tidak ada jalan keluar dari derita psikologis yang dialaminya (O’Connor & Nock, 2014), sehingga ia merasa bunuh diri merupakan jalan keluar. Dengan demikian, hal ini bukan indikasi kurang iman, atau ia bulat memutuskan ingin bunuh diri hingga tidak ada hal yang dapat menghentikannya, yang sering menjadi mitos terhadap bunuh diri.

           

Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat diketahui bahwa ada kesimpulan-kesimpulan yang keliru mengenai bunuh diri. Edukasi mengenai bunuh diri menjadi penting untuk mengurangi stigma bunuh diri dan mendorong orang yang menderita jiwanya untuk mencari bantuan. Jika pemikiran bunuh diri dapat ditangani sebelum berkembang, niscaya kematian akibat bunuh diri dapat dicegah.

 

Referensi:

Chesney, E., Goodwin, G. M., & Fazel, S. (2014). Risks of all-cause and suicide mortality in mental disorders: a meta-review. World Psychiatry, 13(2). Advance online publication. doi: 10.1002/wps.20128.

Milner, A., Sveticic, J., & De Leo, D. (2012). Suicide in the absence of mental disorder? A review of psychological autopsy studies across countries. International Journal of Social Psychiatry, 59(6), 545–554. doi:10.1177/0020764012444259 

O’Connor, R., & Nock, M. (2014). The psychology of suicidal behavior. Lancet Psychiatry, 1, 73-85. doi: 10.1016/ S2215-0366(14)70222-6.

Reynders, A., Kerkhof, A. J. F. M., Molenberghs, G., & Van Audenhove, C. (2013). Attitudes and stigma in relation to help-seeking intentions for psychological problems in low and high suicide rate regions. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. Advance online publication. doi: 10.1007/s00127-013-0745-4.

Ribeiro, J. D., Huang, X., Fox, K. R., & Franklin, J. C. (2018). Depression and hopelessness as risk factors for suicide ideation, attempts, and death: meta-analysis of longitudinal studies. The British Journal of Psychiatry, 212, 279-286. doi: 10.1192/bjp.2018.27.

Ritchie, H., Roser, M., Ortiz-Ospina, E. (2020). Suicide. Retrieved from https://ourworldindata.org/suicide#citation.

World Health Organization. (2014). Preventing suicide: A global imperative. Switzerland: Author.