ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 09 Mei 2020

Mengenal Anak Diskalkulia

 

Oleh

Rr. Dini Diah Nurhadianti

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I

 

 

Kesulitan dalam belajar pada anak bisa meliputi pemahaman atau penggunaan bahasa lisan maupun tulisan, dimana kesulitan tersebut terlihat seperti mendengar, berpikir, membaca, menulis dan mengeja. Kesulitan belajar juga dapat mencakup kesulitan dalam mengerjakan soal matematika. Santrock (2011) mengatakan bahwa jumlah anak laki-laki yang mengalami kesulitan belajar tiga kali lipat dari jumlah anak perempuan. Perbedaan gender ini berkaitan dengan kerentanan biologis yang terdapat pada anak laki-laki serta bias rujukan (referral bias). Artinya, anak laki-laki cenderung lebih sering dirujuk oleh guru agar memperoleh penanganan karena perilaku kenakalan mereka.

 

Salah satu Diagnosis Kesulitan Belajar (DKB) adalah diskalkulia. Diskalkulia dikenal juga dengan istilah “math difficulty” karena menyangkut gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis, yang dapat ditinjau secara kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung dan mengkalkulasi. Menurut Santrock (2011) diskalkulia dikenal sebagai gangguan perkembangan aritmatika, dimana anak mengalami kesulitan belajar yang terkait dengan perhitungan matematika. Senada dengan itu, Lerner (dalam Mulyono, 2003) mengatakan bahwa diskalkulia adalah kesulitan belajar logika matematika. Anak yang mengalami diskalkulia akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis yang ditandai dengan kesulitan mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.

 

Seorang anak dikatakan mengalami diskalkulia, bila mengalami kesulitan belajar yang spesifik, dengan melihat prasyarat rata-rata normal atau sedikit di bawah rata-rata, tidak ada gangguan penglihatan atau pendengaran, tidak ada gangguan emosional primer atau lingkungan yang kurang menunjang. Masalah yang dihadapi anak diskalkulia adalah kesulitan melakukan penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang disebabkan adanya gangguan pada sistem saraf pusat pada periode perkembangan. Atmaja (2019) mengatakan anak diskalkulia bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikan dirinya tidak siap belajar. Penyebabnya adalah ketidakmampuan mereka dalam membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman, terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak diskalkulia umumnya tidak dapat mencerna sebuah fenomena yang masih abstrak. Fenomena yang abstrak tersebut harus dibuat dalam bentuk konkret agar mereka bisa mencerna fenomena tersebut.

 

Deteksi diskalkulia bisa dilakukan sejak anak kecil, tapi juga disesuaikan dengan perkembangan usia. Umumnya anak 4-5 tahun belum diwajibkan mengenal konsep menjumlah, hanya konsep hitungan sederhana yang sudah mulai dikenalkan. Namun pada anak usia 6 tahun ke atas (setingkat Sekolah Dasar) umumnya sudah mulai dikenalkan konsep penjumlahan yang menggunakan simbol-simbol seperti jumlah (+) dan kurang (-). Jika pada usia 6 tahun anak sulit mengenali konsep jumlah, maka kecenderungannya anak akan mengalami kesulitan dalam berhitung, karena dalam proses berhitung melibatkan pola pikir, kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah.

 

Faktor genetik diduga berperan pada kasus-kasus diskalkulia ini. Selain itu, faktor lingkungan dan stimulasi juga ikut menentukan pada kasus anak diskalkulia. Penggunaan alat peraga sangat bermanfaat dalam belajar matematika pada anak-anak diskalkulia ini. Simbol-simbol yang bersifat abstrak bisa dipahami dengan mudah dan menjadi lebih konkret ketika anak belajar menggunakan alat peraga. Meskipun umumnya diskalkulia dialami oleh anak-anak, tetapi ada juga yang berkembang pada usia mulai dewasa. Mereka baru menyadari mengalami kesulitan luar biasa pada saat belajar matematika di tingkat sekolah lanjutan.

 

Atmaja (2019) mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab gangguan ini, yaitu: kelemahan pada proses penglihatan atau visual, bermasalah dalam hal mengurut informasi, fobia matematika, masalah yang disebabkan fungsi fisiologis tubuh dan masalah yang terjadi pada saat masa kehamilan. Selain itu, temuan dari studi cross-sectional menunjukkan bahwa anak-anak dengan perkembangan diskalkulia mungkin memiliki perkembangan yang tertunda dalam representasi jumlah numerik mereka sebanyak lima tahun. Namun, kurangnya penelitian longitudinal masih membuat pertanyaan terbuka, apakah representasi angka numerik yang kurang adalah perkembangan yang tertunda atau penurunan.

 

Ide seseorang tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali, dan bagi. Ada yang menganggap matematika sebagai bagian dari berpikir logis sampai pada anggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan perhitungan. Oleh sebab itu, penting bagi seorang anak untuk dapat memahami konsep perhitungan, karena selain matematika merupakan sarana berpikir yang jelas dan logis, matematika juga sebagai sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam penanganan gangguan belajar diskalkulia perlu diberikan sebuah diagnosis. Diagnosis diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang kompeten dibidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid serta terpercaya. Bentuk terapi dan treatment yang akan diberikan juga harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan dari masing-masing anak.

 

 

Referensi:

 

Atmaja, J. R. (2019). Pendidikan dan anak berkebutuhan khusus. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Mulyono, A. (2003). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

 

Santrock, J.W. (2012). Life-span development terjemahan edisi ke-13. Jakarta: Penerbit Erlangga