ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 09 Mei 2020

Depresi Pada Ibu Rumah Tangga

Oleh

Dewi Syukriah

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I

 

Apakah ibu bahagia dalam berumah tangga? Jika anda mendapat pertanyaan seperti  ini, besar kemungkinan anda akan menjawab bahwa anda bahagia, dengan asumsi bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia, membesarkan dan mengasuh anak serta mendidik mereka bukanlah pekerjaan yang mudah, ditambah pekerjaan domestik lainnya yang selalu ada setiap harinya. Anda sebagai seorang ibu rumah tangga kemungkinan besar akan menjawab..”ya, saya bahagia”

Namun, tahukah anda? ternyata dibalik kebahagiaan seorang ibu, para ibu rumah tangga ini rentan terhadap stres dan depresi. Mengambil komitmen sebagai  ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang ibu rumah tangga dihadapkan dengan berbagai macam tugas dan kegiatan yang rutin secara terus menerus setiap harinya. Dimulai dari pagi hari menyiapkan sarapan untuk keluarga, mengantar anak sekolah, membersihkan rumah, menyuci, membantu anak belajar, menyiapkan malam malam, menggosok baju dan sederet pekerjaan domestik yang seperti tidak ada habisnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurhadi (2009) di Surakarta menyimpulkan bahwa pekerjaan dan tugas kerumah tanggaan tidak mempunyai nilai tukar ekonomis, oleh karena itu tugas tersebut cenderung dianggap rendah. Anggapan bahwa tugas ibu rumah tangga dianggap rendah mampu membuat para wanita yang melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga menjadi kurang berharga. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Child Health and Human Development Study of Early Child Care and Youth Development yang melibatkan 1300 perempuan menunjukkan  bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah walaupun hanya part-time memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan lebih sedikit mengalami gejala depresi dibandingkan dengan perempuan yang mencurahkan waktunya untuk mengurusi rumah dan keluarga (Indriana, 2008)

Disaat kebosanan dan keletihan melanda, akan terasa semakin berat dampaknya karena  hampir tidak adanya pengakuan ataupun penghormatan terhadap profesi ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan profesi ibu rumah tangga adalah suatu profesi yang memang jamak dan sudah berlangsung selama berabad-abad lamanya tanpa ada perubahan tugas  yang  cukup berarti. Dwijayanti (2001) dalam jurnalnya menyatakan bahwa ibu rumah tangga yang tidak bekerja memiliki pengertian sebagai wanita yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memelihara anak-anak dan mengasuh menurut pola-pola yang diberikan masyarakat. Ketika rasa bosan, capek, jenuh dan stress melanda, pasti butuh solusi. Karena jika seorang ibu mengalami kecemasan dan semakin lama bisa menjadi depresi, hal ini akan mempengaruhi keluarga secara keseluruhan. Karena pada prinsipnya keluarga adalah sebuah sistem yang saling berkesinambungan. Jika salah satu sistem rusak atau tidak berfungsi dengan baik, maka akan merusak sistem yang lain.

Banyak orang yang cenderung meremehkan profesi ibu rumah tangga, bahkan terkadang anak dan suami pun kurang menghargai usaha ibu dan istrinya. Hal ini bisa semakin membuat ibu menjadi kurang percaya diri, merasa tidak berguna, mudah marah dan menjadi depresi

Carr (2001) mengungkapkan beberapa gejala depresi ringan yang bisa dideteksi antara lain:

1. Mudah marah atau kondisi emosi tinggi.

2. Nafsu makan meningkat atau justru menurun drastis. Biasanya diikuti kenaikan atau penurunan berat badan.

3. Sering menyendiri.

4. Mudah menangis dan bersedih.

5. Mudah terserang sakit kepala dan masalah pencernaan.

6. Insomnia.

7. Konsentrasi berkurang.

8. Tertekan.

9. Pesimis dan mudah putus asa.

10. Sering sakit-sakitan karena kondisi tubuh kurang prima.

 

Bagaimana menangani depresi ringan

Penanganan depresi ringan, cenderung lebih mudah dilakukan. Bahkan, dapat melakukannya tanpa bantuan tenaga ahli atau terapis. Ketika kondisi fisik dan jiwa telah menunjukkan alarm negatif, segeralah tenangkan diri. Berdoa dan lakukan komunikasi dengan Sang Pencipta. Dalam ketenangan, pikiran akan lebih jernih dan fokus mencari solusi dari permasalahan yang ada. Selain itu, beberapa hal berikut dapat dilakukan  seperti yang dilansir di .dosenpsikologi.com (2020):

1. Menekuni suatu hobi. Temukanlah kegiatan apapun yang dapat bekerja untuk menenangkan mentak dan dapat memberikan anda suasana yang berbeda untuk mengatasi rasa penat pada ibu rumah tangga

2. Mengenail pemicu stress anda. Pikirkanlah kegiatan yang anda lakukan dalam satu, apakah ada waktu tertntu yang membuat anda merasa menjadi stress? Jika anda telah menmukan situasi yang membuat anda stress, maka hal tersebut akan lebih memudahkan anda untuk mencari solusi yang terbaik supaya stress ini tidak berkembang lebih jauh menjadi depresi.

3. Refreshing. Refreshing bukan berarti anda harus mengeluarkan banyak uang untuk keluar negri atau ke tempat wisata. Refreshing bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, seperti mendengarkan music, meluangkan waktu sendiri untuk membaca buku kesukaan, keluar rumah dan jalan-jalan di sekitar rumah pun akan membuat anda sejenak melupakan penat.

4. Sempatkan olahraga. Meluangkan waktu untuk melakukan gerak tubuh dalam satu hari akan membawa dampak positif pada tubuh dan pikiran.

5. Libatkan anak dan suami. Ketika seorang ibu rumah tangga merasa bahwa mereka harus mengurus semuanya sendiri, maka mulailah untuk melibatkan anak dan suami untuk membantu anda, disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Dengan hal ini, anda bisa mengajari anak untuk mulai melakukan pekerjaan rumah tangga secara perlahan.

6. Menghilangkan pikiran negatif. Belajar untuk mengekang pikiran-pikiran negatif yang muncul dalam diri anda, biasakan berpikir positif dan bersyukur atas apa yang telah anda dapatkan sampai saat ini.

7. Lebih fleksibel. Berusahalah untuk tidak terlalu kaku dalam menerapkan target kegiatan sehari-hari. Beradaptasi dengan berbagai macam situasi yang terjadi dalam rumah dan bersikap lebih fleksibel akan membantu anda ketika menghadapi masalah.

Faktor kelelahan fisik cenderung menjadi pemicu utama gejala depresi pada ibu rumah tangga. Maka dari itu, istirahat yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan segala hal, dan jangan lupa, stay happy and beauty!

 

Referensi:

Carr, A. (2001). Abnormal psychology. Sussex : Psychology Press.

Dwijayanti, J. E. (2001). Perbedaan motif antara ibu rumah tangga yang bekerja dan yang tidak bekerja dalam mengikuti sekolah pengembangan pribadi dari John Robert powers. Media Psikologi Indonesia, 14, 72-80.

Indriana, Y., Kristiana, I.F., Sonda, A.A., & Intanirian, A. (2008). Tingkat stress lansia dipanti werdha “pucang gading” Semarang. Jurnal Psikologi UNDIP, 8.

Nurhadi , M (2009). Perubahan peran ibu rumah tangga dan pengaruhnya terhadap harmonisasi rumah tangga. Jurnal Sosiologi DiLeMa, 21.

Dosenpsikologi.com (2020, April 20). 16 Cara mengatasi stress pada ibu rumah tangga secara efektif. Di akses dari www.dosenpsikologi.com>Psikologi sosial.