ISSN 2477-1686

 

Vol.2. No.6, Maret 2016

Keluarga dan Kesehatan Mental

Anna Mariani Kartasasmita

Fakultas Psikologi, Universitas Tama Jagakarsa

Fenomena Keluarga Saat Ini

Peristiwa meninggalnya generasi muda yang adalah tunas bangsa, selalu menimbulkan keresahan. Adalah A, remaja yang dikenal santun dan pendiam, tiba-tiba ditemukan mati mengenaskan karena bunuh diri. A tinggal bersama neneknya karena orang tuanya telah bercerai. Seperti kebanyakan remaja di kota besar, sehari-harinya A sibuk dengan dunia digital dan fantasi. Para pakar menyampaikan analisisnya, A memutuskan bunuh diri karena kurang kasih sayang,  dan tenggelam dalam dunia khayalan.  Remaja seperti A mudah jatuh dalam kondisi depresi dan bunuh diri yang sering kali menjadi jalan pintas mendapatkan kedamaian.

Bila beberapa negara kini mulai menyadari pentingnya merawat anak-anak dan remaja agar menjadi generasi muda yang kuat, fenomena lain kini menghantui sebagian negara. Yaitu jumlah penduduk lansia yang meningkat pada populasi warganya, sementara jumlah anak dan generasi muda makin berkurang. Di Jepang misalnya, jumlah orang berusia 65 atau lebih meningkat dari 1,1 juta hingga 31.9 juta, artinya mencapai 25,1 persen dari populasi. Perbandingan orang berusia 65 ke atas diperkirakan akan mencapai hampir 40 persen dari penduduk Jepang pada tahun 2060, pemerintah telah mendapat peringatan tentang hal ini.

Fenomena demografi yang terjadi di Jepang akan diikuti dengan problem yang terkait dengan bagaimana cara pemerintah Jepang merawat dan membiayai para lansia yang sudah tidak lagi produktif itu. Baru-baru ini Republik Rakyat China menghapus program satu anak dalam satu keluarga.

Problematika pengasuhan anak yang semakin rumit pada masa kini, sumber daya dan pembiayaan yang besar, serta  masalah-masalah yang muncul dalam perkawinan, dapat membuat orang semakin enggan untuk menikah dan memiliki keturunan.  Jika ini terus terjadi, mungkin saja akan tiba masanya sebagian besar penduduk adalah lansia, semua orang akan menjadi beban negara di hari tua mereka.

Tidak Berjalannya Fungsi Keluarga

Banyak masalah sosial, dan hukum dalam masyarakat yang berawal dari tidak berfungsinya keluarga sebagaimana yang diinginkan dalam definisi tentang fungsi keluarga menurut PBB (fungsi keluarga meliputi: pengukuhan ikatan suami istri, prokreasi dan hubungan seksual, sosialisasi dan pendidikan anak, pemberian nama dan status, perawatan dasar anak, perlindungan anggota keluarga, rekreasi dan perawatan emosi, dan pertukaran barang dan jasa). Anak terlantar, anak dan remaja yang bermasalah dengan hukum, permasalahan dalam pernikahan hingga problem yang terkait dengan kesejahteraan para lansia. Jika dilihat secara individu, masalah kesehatan mental dan fisik juga dapat  timbul karena adanya fungsi keluarga yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Peran Keluarga & Kesehatan Mental

Terapi mental yang melibatkan keluarga menjadi kembali relevan. Pada masa sebelum tahun 1950-an penganut Psikoanalisis Freud seperti Carl Rogers memiliki prinsip client-centered therapy. Pada saat itu para ahli jiwa menganggap interaksi antara pasien gangguan kejiwaan dengan keluarga hanya akan menambah masalah dan tidak membantu penyembuhan pasien. Namun belakangan ini para ahli ilmu psikologi modern mulai berubah dan berpendapat bahwa keluarga justru dapat terlibat dalam terapi dan membantu kesembuhan pasien. Keluarga dianggap sebagai bagian dari lingkungan yang menjadi variabel yang dapat menentukan kesembuhan pasien dengan gangguan kejiwaan. Fisher dan Mendel (1958, dalam Nichols, 1989) melaporkan hasil studi mereka bahwa ada perubahan positif dari pasien terhadap anggota keluarga. Selanjutnya terapi keluarga dikenal dalam bentuk terapi kelompok dimana seluruh keluarga bersama-sama menyelesaikan masalah, menentukan tujuan dan mengurangi kesulitan individu , Knoblochova dan Knobloch (1970, dalam Joanning, Quinn, Thomas, & Mullen,1992).

Namun, keluarga juga harus memiliki pengetahuan dan kompetensi tentang kesehatan mental. Dalam banyak kasus, deteksi dini terhadap gangguan perkembangan anak seperti autisme, ADHD, dan gangguan lainnya akan sangat membantu meringankan bahkan mengoreksi gangguan. Indikasi depresi, neurotic dan beberapa gangguan dapat mudah dideteksi oleh anggota keluarga (Schnurr, Friedman, Foy, Shea, Hsieh,  Lavori, Glynn, Wattenberg, & Bernardy, 2003).

Pentingnya Program Edukasi Kepada Keluarga

Di Indonesia, peran keluarga dalam menghadapi problem kesehatan jiwa dan fisik sangat penting. Peran keluarga inti mau pun keluarga besar dalam mendampingi pasien melalui saat-saat sulit dan kritis sangat membantu secara positif dan signifikan. Tradisi agama yang kuat, seperti pengaruh ajaran Islam yang menjadi mayoritas agama di Indonesia meletakkan keluarga sebagai basis penting dalam membangun pola interaksi dalam keluarga. Keluarga Indonesia terbiasa hidup dalam jalinan kekerabatan yang kuat dan erat, kesulitan dan masalah dapat membuat ikatan ini manjadi semakin kuat. Semangat kekerabatan yang kuat ini akan semakin bermanfaat jika mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tepat dalam menghadapi masalah-masalah kesehatan jiwa dan fisik tadi. Masyarakat tradisional Indonesia juga terbiasa menangani masalah kesehatan jiwa dan fisik anggotanya dengan kearifan lokalnya. Keterbatasan fasilitas kesehatan, teknologi dan transportasi sering menjadi faktor yang membuat masyarakat melakukan banyak hal kreatif dan tepat guna. Dengan keterbatasan fasilitas kesehatan jiwa yang ada, terlepas dari kondisi keluarga yang masih harus mendapatkan edukasi tentang kesehatan jiwa dan perdebatan etik yang muncul kemudian. Program edukasi kepada keluarga dan masyarakat tentang penyakit gangguan jiwa masih sangat jarang padahal akan sangat membantu.

Jika keluarga memiliki kompetensi memberikan nutrisi yang baik untuk anak-anak, menjaga kesehatan mereka, mencegah penyakit menular, melakukan terapi berbasis keluarga, merawat para lansia di rumah, melaksanakan perawatan paliatif mandiri, maka betapa banyak uang negara dapat dihemat dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi, dan dimanfaatkan untuk program lain yang lebih bermakna

Referensi:

 

Joanning, H.,  Quinn, W., Thomas, F., & Mullen, R. (1992). Treating Adolescent Drug Abuse: A Comparison Of Family System Therapy, Group Therapy, And Family Drug Education. Journal of Marital and Family Therapy, Vol. 18, No. 4, 345-356

Nichols, M. (1989). Family Therapy Concept and Methods. Allyn and Bacon.

Schnurr, P., Friedman, M.J,  Foy, D., Shea, M.T., Hsieh, F.Y.,  Lavori, P.,  Glynn,S.M, , Wattenberg, M., Bernardy, N. Randomized Trial of Trauma-Focused Group Therapy for Posttraumatic Stress DisorderResults From a Department of Veterans Affairs Cooperative Study. Arch Gen Psychiatry. 2003;60(5):481-489. doi:10.1001/archpsyc.60.5.481.

http://www.japantimes.co.jp/news/2014/04/15/national/japans-population-drops-for-third-straight-year-25-are-elderly/#.VLzEXy4nLJQ

http://www.voaindonesia.com/content/china-hapuskan-kebijakan-satu-anak-/3029268.html

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/10/173613434/Penderita-Gangguan-Jiwa-Masih-Banyak-Dipasung