ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Kekuatan Pikiran dan Perasaan Positif

 

Oleh

Diany Ufieta Syafitri

Fakultas Psikologi, Universitas Islam Sultan Agung

 

Pandemik COVID 19 yang terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia membuat banyak perubahan dalam kehidupan, baik dari interaksi sosial yang dibatasi, mobilitas yang terbatas, hingga perubahan metode dalam bekerja dan sekolah. Banyak pula masyarakat yang telah berupaya mengikuti anjuran dari pemerintah untuk social distancing dan menjaga kebersihan. Namun, mengikuti anjuran tersebut tidak serta merta membuat masyarakat merasa tenang dan damai. Hal ini tidak mengherankan mengingat setiap saat kita dibanjiri oleh berbagai informasi terkait COVID 19 yang membuat hati ketar ketir.

 

Masyarakat dan beberapa instansi telah berupaya membuat bilik disinfektan dan menggunakan hand sanitizer secara maksimal. Namun hal ini ternyata tidak serta merta membuat kita 100% aman dari ancaman virus corona. Beberapa instansi lain menyebutkan bahwa penggunaan disinfektan bukan langkah yang tepat karena tidak diperuntukkan untuk manusia, tapi benda mati. Demikian pula dalam penggunaan hand sanitizer, di mana mulai muncul keluhan bahwa hand sanitizer yang mengandung alkohol membuat tangan menjadi kering dan ternyata tidak sepenuhnya dapat membunuh bakteri. Lagi-lagi kondisi-kondisi ini membuat rasa tenang kita terusik.

 

Saat terpaksa keluar rumah untuk membeli bahan makanan misalnya, mungkin tidak jarang Anda dan saya menjadi khawatir karena pada kondisi tertentu harus berdesakan dengan orang lain atau tidak bisa menjaga jarak aman 1 meter. Hal ini pun saya rasakan saat berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket dekat rumah. Setelah keluar dari supermarket tersebut saya menyemprotkan banyak-banyak hand sanitizer ke tangan dan semua belanjaan saya. Baju juga langsung saya cuci. Tapi saya tidak bisa menghilangkan pikiran “jangan-jangan” yang terus muncul yaitu jangan-jangan tadi ada barang yang sudah dipegang oleh pengunjung yang ternyata ODP, jangan-jangan ada virus yang menempel di salah satu barang yang saya beli, dan jangan-jangan yang lain. Mau seberapapun saya menggunakan hand saniziter atau mandi berapakalipun, pikiran “jangan-jangan” tadi seringkali muncul dan membebani pikiran. Bahkan saya tiba-tiba merasa pusing dan lemas setelah berbelanja. Saya rasa Anda pasti pernah merasakan yang saya alami.  

 

Tidak hanya itu, mendengar atau membaca berita-berita terkait COVID 19 baik dari media cetak, elektronik, maupun internet jika tidak disikapi dengan bijak justru seringkali memunculkan berbagai pikiran-pikiran buruk yang membuat kita merasa putus asa dalam kondisi ini. Pikiran buruk tersebut bisa berubah menjadi kecemasan, paranoia atau rasa curiga terus-menerus, dan obsesi terhadap kebersihan yang justru menjadi beban baik terhadap kondisi fisik maupun psikologis kita. Tubuh kita yang tadinya sehat bisa jadi akan sakit karena pikiran-pikiran buruk tersebut. Mengapa ini terjadi? Karena ada kaitan yang sangat kuat antara pikiran dan perasaan kita terhadap kondisi tubuh. Mari simak penjelasannya secara ilmiah berikut ini.

 

Berbagai pikiran-pikiran negatif terkait kesehatan ini dalam literasi psikologi dan kesehatan disebut sebagai perseverative thinking yaitu pikiran yang penuh kecemasan dan berulang-ulang. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pikiran buruk yang penuh stres akan meningkatkan hormon kortisol, yaitu hormon stres yang akan melemahkan daya tahan tubuh sehingga memunculkan adanya gejala-gejala penyakit fisik (Connor, Walker, Hendrickx, Talbot, & Schaefer, 2013). Jadi tidak heran jika banyak orang yang saat ini mengeluhkan tiba-tiba pusing, badan terasa tidak enak, seperti yang juga saya rasakan, sebagai akibat berbagai pikiran buruk kita sendiri. Tidak berhenti sampai di sini, pikiran-pikiran negatif justru akan meningkatkan perilaku kesehatan berisiko seperti merokok, makan tidak sehat, dan lain sebagainya (Clancy, Prestwich, Caperon, Connor, & Zawadzki, 2016). Kondisi tertekan terkadang membuat kita lapar dan ingin makan banyak makanan berkarbohidrat dan berlemak tinggi yang nantinya akan mengganggu kesehatan tubuh. Berdasarkan gambaran ini, pada akhirnya, tidak sekedar hand sanitizer, masker, dan disinfektan yang perlu kita utamakan dalam kondisi ini, tetapi ada hal lain yang juga penting yaitu: pikiran dan perasaan positif.

 

Hasil penelitian (Naseem & Khalid, 2010) menunjukkan bahwa tidak seperti pikiran negatif, pikiran-pikiran yang positif membantu kita melihat bahwa tekanan yang ada tidak semenakutan yang kita kira sehingga meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapinya secara afektif. Tidak hanya itu, emosi-emosi positif seperti kebahagiaan, minat, dan kepuasan dapat meningkatkan kemampuan berpikir seseorang sehingga meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi hambatan (Fredrickson, 2000). Hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa emosi positif seperti kebahagiaan dan optimisme mampu meningkatkan kesembuhan penderita penyakit jantung (Middleton & Byrd, 1996; Carver & Scheier, 2002). Secara umum semakin seseorang sering mengalami emosi positif maka kesehatannya akan semakin meningkat.

 

Berdasarkan pemaparan di atas dapat kita lihat bahwa baik pikiran maupun emosi positif dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan Anda secara umum. Oleh karena itu, mari tarik nafas Anda dalam-dalam. Lalu, katakan hal-hal positif pada diri Anda setiap saat Anda merasa pikiran atau perasaan buruk seperti takut, cemas, gelisah, sedih melanda. Beberapa kalimat positif yang dapat Anda katakan pada diri sendiri yaitu:

·                     “Aku sehat dan akan tetap sehat”

·                     “Keluargaku baik-baik saja”

·                     “Aku bisa melewati kondisi ini dengan baik”

·                     “Kondisi fisikku sehat”

·                     “Semua akan baik-baik saja”

 

Selain itu, lakukan berbagai hal yang dapat membuat Anda merasakan berbagai emosi positif seperti senang, puas, bersyukur, dan bergembira. Hal ini dapat Anda lakukan dengan melakukan hobi Anda mungkin memasak, menggambar, menonton film, melakukan video call dengan teman atau keluarga, dan lain sebagainya. Berolahraga ringan di dalam rumah seperti senam juga akan meningkatkan perasaan positif Anda karena berolahraga menghasilkan hormon kebahagiaan. Fokuskan pikiran dan perasaan Anda pada hal positif dan cobalah untuk menghindari berbagai informasi negatif yang membuat Anda merasa terbebani.

 

Mungkin tidak mudah menjaga pikiran dan perasaan tetap positif dalam kondisi seperti ini, terlebih saat kita dibanjiri berbagai informasi terkait pendemik ini. Tetapi perlu Anda ingat bahwa selain mengikuti anjuran kebersihan dan social distance, hal lain yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh Anda adalah pikiran dan perasaan yang sehat pula.

 

Referensi:

 

Carver, C. S., & Scheier, M. F. (2002a). Optimism. In C. R. Snyder & S. J. Lopez (Eds.). Handbook of positive psychology (pp. 231–243). Oxford University Press.

 

Clancy, F., Prestwich, A., Caperon, L., Connor, D. B. O., & Zawadzki, M. J. (2016). Perseverative Cognition and Health Behaviors : A Systematic Review and. Frontiers in Human Neurosciences, 10(534). http://doi.org/10.3389/fnhum.2016.00534

 

Connor, D. B. O., Walker, S., Hendrickx, H., Talbot, D., & Schaefer, A. (2013). Stress-related thinking predicts the cortisol awakening response and somatic symptoms in healthy adults. Psychoneuroendocrinology, 38(3), 438–446. http://doi.org/10.1016/j.psyneuen.2012.07.004

 

Fredrickson, B. L. (2000). Cultivating Positive Emotions to Optimize Health and Well-Being. Prevention and Treatment, 3.

 

Middleton RA, Byrd EK. (1996). Psychosocial factors and hospital readmission status of older persons with cardiovascular disease. Journal of Applied Rehabilitation Counseling, 27, 3–10.

 

Naseem, Z., & Khalid, R. (2010). Positive Thinking in Coping with Stress and Health outcomes : Literature Review. Journal of Research and Reflection in Education, 4(1), 42–61.