ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Bencana dan Makna Hidup

 

Oleh

Arie Rihardini Sundari

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

“Ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan.”

 

Peringatan tersebut menjadi sering kita baca sejak COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi di dunia. Terjadi Lock down di beberapa negara pencetak devisa dari sektor wisata, hingga sepi turis dari mancanegara. Ruang gerak warganya dibatasi, hingga terasa bagai kota mati. Perekonomian hancur pula, hingga pemerintahnya menghadirkan kebijakan tunjangan tunai bagi warga negaranya yang berada di bawah garis kemiskinan. Teror kemiskinan membayangi teror koronavirus tanpa terduga.

 

Bagaimana di Indonesia semenjak dipublikasikan adanya pasien yang terinfeksi positif virus yang gejalanya mirip influenza tersebut? Tidak beda dengan orang-orang belahan dunia manapun. Sempat adanya panic buying sejumlah sembako, hand sanitizer dan bahkan harga masker yang melonjak tinggi di pasaran. Yang terakhir, sekelompok warga menolak daerahnya dijadikan tempat pemakaman pasien positif corona yang meninggal dunia. Ketakutan demi ketakutan, teror demi teror datang silih berganti, seiring dengan berita bertambahnya pasien yang dirawat di RS akibat virus corona. Walaupun karantina diri adalah solusi bagi yang ODP dan PDP, sementara pembatasan fisik adalah kebijakan yang wajib dipatuhi, namun bagi pejuang nafkah keluarga adalah sebuah dilema.

 

Terlebih ketika hoaks menjamur, teror yang diikuti oleh kepanikan, kecemasan, ketakutan dan ketidakpastian akan masa depan, mengancam tanpa kendali. Semakin besar ketakutan yang terjadi, semakin rendah kemampuan berpikir dan berencana dengan akal sehat, semakin tinggi keputusasaan pada keyakinan akan kekuasaan Tuhan, karena sudah terlalu lama berTuhankan karir, kekuasaan dan kekayaan. Kondisi tersebut oleh Viktor Frankl, seorang psikiater ternama dari Austria, disebut sebagai neurosis noogenik (noogenic neuroses) yang bersumber pada dimensi noogenik atau kondisi spiritual, yakni kehampaan eksistensial yang bercirikan tanpa arti, tanpa maksud, tanpa tujuan, dan hampa. Selain itu, dijumpai pula suatu fenomena yang mirip dengan kondisi neurosis, yaitu neurosis kolektif dengan gejala-gejala antara lain sikap pesimistis terhadap hidup, sikap fatal terhadap hidup, konformisme dan kolektivisme, serta fanatisme, (E. Koeswara,1987; Frankl, 1984). Kondisi neurosis tersebut akan berdampak terhadap penghayatan hidup yang tidak bermakna, yang berpotensi mengawali kondisi kesehatan yang memburuk. Sehingga, yang pada awalnya sehat bisa menjadi sakit karena tidak menjaga pola hidup disebabkan stress dan pesimistis yang parah, sehingga dapat berpengaruh pada kesehatan fisik.

 

Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapi wabah ini dengan mind-set terbaik? Sederhana sebenarnya, jika seseorang dapat memaknaai keadaan untuk menjadi tenang, sabar, dan menerima kondisi yang tidak dapat dielakkan ini. Sehingga perlahan pesimisme berubah menjadi optimisme. Walaupun untuk sebagian orang tidak semudah menjetikkan jari. Namun optimisme dan sikap positif dapat ditularkan jika kita lakukan terus menerus. Kata kuncinya tentu konsistensi. Konsisten untuk terus optimis, apapun yang terjadi dan apapun yang menghampiri. Oleh karena, keadaan ini bersifat sementara, dengan berkaca pada negara-negara yang telah melampaui krisis yang telah mendunia ini. Optimisme harus ditularkan, kian hari dan terus menerus.

 

Seligman (1991) menyatakan bahwa optimisme merupakan keyakinan individu bahwa peristiwa buruk atau kegagalan hanya bersifat sementara, tidak mempengaruhi semua aktivitas dan bukan mutlak disebabkan diri sendiri tetapi bisa situasi, nasib atau orang lain. Bahwa di dunia ini, dan dalam kehidupan, keyakinan akan harapan hidup seseorang dapat dipengaruhi hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh diri sendiri. Adapun untuk membangun optimisme dalam diri perlu diperhatikan aspek-aspek optimisme menurut Seligman (2006), sebagai berikut yaitu :

1.    Permanence, seseorang akan bersikap optimis apabila dapat melihat peristiwa berdasarkan waktu sementara. Artinya bahwa seseorang yang optimis dapat melihat kejadian buruk yakni wabah penyakit karena infeksi koronavirus bersifat sementara, sementara seseorang yang pesimis akan melihat kejadian buruk itu sebagai kejadian yang permanen atau menetap.

2.    Pervasiveness, seseorang akan bersikap optimis apabila dapat memandang peristiwa dari segi ruang lingkup yang spesifik. Artinya bahwa seseorang yang optimis dapat melihat kejadian buruk yakni menyebarnya COVID-19 secara massive ini, dari ruang lingkup yang spesifik atau khusus dimana terjadi karena hal yang khusus. sementara seseorang yang pesimis akan melihat kejadian buruk dari ruang lingkup yang universal atau secara keseluruhan dimana terjadi karena memang semua hal buruk. Sebagai contoh: orang yang optimis akan berkata “penyakit yang disebabkan virus corona dapat mematikan”, sementara orang yang pesimis akan berkata “semua penyakit memang mematikan”.

3.    Personalization, seseorang akan bersikap optimis apabila dapat melihat sumber atau penyebab dari suatu kejadian berasal dari dalam dirinya atau faktor internal. Artinya bahwa seorang yang optimis akan bertanggung jawab atas kejadian buruk yang menimpanya tanpa menyalahkan orang lain, namun sebaliknya bagi seseorang yang pesimis. Seseorang yang optimis percaya bahwa penyebab kejadian baik misalnya terhindar dari korona virus adalah dirinya dapat menjaga imunitas tubuh, bukan karena orang lain, dan hal tersebut cenderung akan membuatnya lebih menyukai diri sendiri. Artinya, bahwa tanggung jawab yang diambil, bagi seseorang yang optimis bersifat proporsional, tidak berlebihan, dan menjadi sarana untuk berubah menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

           

Hikmah akan selalu hadir di setiap kejadian yang terjadi di muka bumi ini. Bencana yang tengah kita alami sekarang ini, bergantung pada sikap kita menghadapinya sehingga akan melahirkan makna atau bahaya. Jika kita memilih makna selama karantina diri, bekerja dari rumah, atau belajar dari rumah, ada salah satu cara untuk mendapatkannya, yaitu “Panca Cara Menemukan Makna Hidup” (Bastaman, 1995) :

1.    Pemahaman diri, yakni mengenali secara obyektif kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri sendiri, baik yang masih merupakan potensi maupun yang sudah teraktualisasi, untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan ditingkatkan serta kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi.

2.    Bertindak positif, yaitu mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari hal-hal yang dianggap baik dan bermanfaat.

3.    Pengakraban hubungan, yakni meningkatkan hubungan baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, rekan sekerja), sehingga masing-masing saling mempercayai, saling memerlukan satu dengan lainnya, serta saling membantu.

4.    Pendalaman dan penerapan tri nilai, yaitu berusaha untuk memahami dan memenuhi tiga macam nilai yang dianggap merupakan sumber makna hidup, antara lain: nilai kreatif (kerja, karya); nilai penghayatan (kebenaran, keindahan, kasih, iman), dan nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat terhadap derita yang tidak dapat dihindari).

5.    Ibadah, yakni berusaha melaksanakan apa yang diperintahkan Tuhan dan mencegah diri dari apa yang dilarang-Nya. Ibadah yang khusyuk sering mendatangkan perasaan tenteram, mantap, dan tabah, serta tidak jarang pula menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dan petunjuk-Nya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.

 

Bencana wabah COVID-19 akan berlalu, jika kita bersatu melawannya. Melawan dengan sikap terbaik dan aktivitas terbaik, maka kehadiran makna hidup bagi kita untuk menjadi insan Tuhan, khalifah Allah yang menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama adalah sebuah keniscayaan. Aamiin. Maka, Aman di rumah saja. Salam semangat.

 

Referensi:

 

Engkus Koeswara, (1987). Psikologi eksistensial, suatu pengantar. PT.      Eresco.

 

Frankl, Viktor. E. (1984). Man’s searching for meaning. Beacon Press.

 

Hanna Djumhana Bastaman. (1995). Integritas psikologi dengan islam, menuju   psikologi islami. Pustaka Pelajar Offset.

 

Seligman, M. (1991). Learned optimism. A.A knopt. Inc.

 

Seligman, M. (2006). Learned optimism: How to change your mind and your life. Vintage books.