ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Peran Orang Tua Memenuhi Rasa Nyaman Bagi Anak Dalam Pendemi Covid 19

Oleh:

Ostman Ardzi Pradana

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga

 

Fenomena Pandemi Covid-19

Tahun 2020 barangkali akan menjadi momen yang masuk ke dalam ingatan jangka panjang bagi banyak orang. Semua terkait dengan virus Corona yang belakangan mempunyai nama panggung  covid-19. Sejak kemunculannya pertama kali di Wuhan China, virus ini menggemparkan dunia dengan kemampuannya menyebar dengan sangat cepat (Kompas.com, 2020). Pemberitaannya di berbagai dunia sangat masif tidak terkecuali Indonesia. Semua orang “terpaksa” memantau perkembangan covid-19 dan seolah bersiap-siap menyambut tamu tidak diinginkan di Indonesia. Singkat cerita akhirnya tanggal 3 maret 2020 secara resmi diumumkan bahwa covid-19 sudah berkunjung ke Indonesia. dari situlah teror dimulai.

Pemberitaan covid-19 yang sedemikian masif lengkap dengan berbagai terornya melalui pemberitaan silih berganti mulai dari apa yang harus diwaspadai, angka kematian yang terus meningkat, isolasi, dan yang terbaru orang yang positif corona dikucilkan serta yang meninggal ditolak pemakamannya. Serta masih banyak lagi teror-teror lain yang muncul. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap kondisi psikologis setiap orang meskipun dengan kadar yang berbeda, tidak terkecuali anak-anak. Dalam kejadian ini anak-anak dengan keterbatasan pengalaman yang mereka miliki terpaksa mengamati dan mencerna hal-hal yang baru yang belum pernah mereka alami. Lebih rumit lagi ketika orang dewasa di sekitarnya seperti orang tua, kakak, paman, bibi  juga baru pertama kali mengalami hal yang serupa.

 

Memahami Logika Berfikir Anak Terhadap Covid-19

Momentum anak-anak sekolah “diliburkan” beberapa waktu untuk antisipasi penyebaran covid-19 menjadikan momen keluarga yang harus menjadi perhatian bersama khususnya orang tua anak. Momen “libur” ini tidak sekedar menjadi ajang kreatifitas orang tua mengatasi kebosanan anak dengan mengisi berbagai kegiatan yang bermanfaat, namun juga mencoba mencerna cara berfikir anak terhadap  keberadaan covid-19. Sebagaimana yang kita ketahui usia anak-anak adalah usia mengesplorasi. Salah satu karakteristik anak-anak adalah ingin mengetahui apa saja yang berada disekitarnya (Hurlock,2017). Selain itu usia anak-anak ini mereka belum bisa berfikir abstrak atau simbolis sebagaimana orang dewasa. Anak-anak berfikir kongkrit, apa yang mereka lihat itulah yang menjadi kebenaran sebagaimana yang disampaikan Jean Piaget dengan teori perkembangan kognitifnya (Gunarsa,2013)

Anak-anak yang terkarantina akibat covid-19 ini mau tidak mau saat ini waktunya habis di dalam rumah dan mungkin beberapa saat ke depan (entah kapan berakhirnya). Situasi semacam ini secara otomatis membuat anak juga mengikuti perkembangan corona sebagaimana yang dilakukan orang tua pada umumnya saat ini. Dari sinilah anak akan membentuk pemahamannya sendiri tentang keberadaaan covid-19 tentunya dengan bekal pengetahuan (terbatas) yang mereka miliki. Kendati media berupaya berimbang memberitakan keberadaan covid-19, namun secara umum covid-19 tetap menjadi teror yang menakutkan bagi kita semua tidak terkecuali anak-anak. Teror bayang-bayang virus bagi anak apabila tidak tertangani, kemungkinan terburuknya bisa menjadi gangguan psikologis yang menghambat anak berkembang serta menjalankan tugas perkembangannya. Coba kita tanyakan ke anak-anak kita bagaimana pandangannya terhadap virus corona, maka kita akan mendapati berbagai jawaban yang beragam dari anak dan cenderung negatif. Ketakutan kematian, kehilangan orang yang dicintai, ketakutan sendiri, kesepian dan lain sebagainya akan menjadikan anak memasuki fase traumatik yang bisa membuatnya terganggu di kehidupan mendatang.

 

Peran Orang Tua : Memberikan Rasa Nyaman

Dari sinilah orang tua wajib berperan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Selain orang tua ikut membantu anak belajar dan bermain di rumah pada momen “dirumah saja” ini, orang tua wajib mencoba memahami pandangan anak khususnya terhadap keberadaan virus corona. Apabila anak tidak bertanya atau menceritakan maka orang tua yang wajib proaktif bertanya kepada anak. Hal ini tentunya bertujuan mengidentifikasi apa yang dibayangkan anak terhadap keberadaan virus corona. Kenapa orang tua perlu mengetahui itu, harapannya orang tua dengan pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas daripada anak bisa memberikan bimbingan terhadap anak supaya anak terhindar dari gangguan psikologis. Langkah kongkritnya adalah orang tua bisa melakukan “counter” terhadap informasi menakutkan yang diterima anak dengan informasi yang memunculkan optimisme (tentunya bukan informasi hoax), misalnya : 

Ø  Memberikan gambaran kepada anak bahwa covid-19 ini meskipun menyebar dengan cepat tetapi bisa disembuhkan,

Ø  Covid-19 bisa di cegah dengan hidup bersih, dengan mengajarkan kepada anak bagaimana cara mencuci tangan dengan sabun, fungsi hand sanitizer, masker dan lain sebagainya,

Ø  Menceritakan kepada anak jangan berkumpul dengan banyak orang serta apa fungsi dari “libur” ini sekaligus menjawab keluhan anak yang bosan ingin segera masuk sekolah bertemu dengan teman-teman sekolah.

Ø  Di Wuhan China tempat awal corona lahir ini keadaannya sudah semakin baik, semoga di tempat lain termasuk ditempat kita segera menyusul.

Ø  Berbagai variasi jawaban orang tua yang lain supaya memunculkan optimisme dan rasa nyaman bagi anak.

 

Mari Tumbuhkan Optimisme

Pemberitaan yang sedemikian masif terkait keberadaan virus corona ini tentunya secara global tidak terkecuali di Indonesia memunculkan kekawatiran yang beragam di berbagai lapisan masyarakat. Tidak terkecuali anak-anak kita. Tentu di tengah kondisi ketidak pastian semacam ini tentunya membutuhkan upaya saling mendukung dengan berbagai cara untuk memunculkan rasa nyaman. Setidaknya dengan kita memberi bimbingan dan optimisme kita berharap bisa menghindarkan anak-anak kita mengalami episode traumatik dalam dirinya dan bisa tumbuh dan berkembang mengaktualisasikan dirinya. Dengan ini berarti menyelamatkan satu generasi yang akan datang.

Dengan ihtiar di tengah ketidakpastian kita juga wajib optimis bahwa anak-anak akan tumbuh dan dewasa dengan rasa nyaman. Suatu saat kelak, anak-anak ketika dewasa akan menceritakan apa yang dialami dan di lakukan pendahulunya dalan berjuang melawan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul akibat pandemic Covid-19 bagaimana menyikapinya. 

 

Referensi:

Gunarsa, S.D.(2013). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta : Gunung Mulia

 

Hurlock, E.B.(2017).Perkembangan anak (6 th Ed.). Jakarta : Erlangga

 

Kompas.com. (2020, Februari 1). Pertama kali ditemukan, kasus virus corona menular sebelum gejalanya muncul. Kompas. Diunduh dari https://sains.kompas.com/read/2020/02/01/200500923/pertama-kali-ditemukan-kasus-virus-corona-menular-sebelum-gejalanya-muncul

 

Kompas.com. (2020, Maret 15). Begitu mudah menyebar, ini yang dilakukan virus corona pada tubuh pasien. Kompas. Diunduh dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/15/130100565/begitu-mudah-menyebar-ini-yang-dilakukan-virus-corona-pada-tubuh-pasien