ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

 

Karena Covid -19 Orang Tua jadi Guru

 

Oleh:

Hefrida Situmorang

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Perubahan Situasi Selama Pandemi Covid-19

Kondisi yang sedang jaga jarak ini membuat banyak sekali perubahan dari yang besar hingga hal – hal yang rasa nya mudah. Perubahan kategori mudah ini antaranya adalah anak – anak dari belajar di sekolah berubah menjadi belajar di rumah. Awalnya semua orangtua menyambut ini dengan senang hati, termasuk saya sebagai orang tua dari dua orang putri yang sedang bersekolah di sekolah dasar.

Keputusan semua sekolah bahwa anak – anak diliburkan sampai batas waktu yang belum ditetapkan dikarenakan pandemik virus corona ini dengan perasaan senang dan hangat disambut para orang tua. Ada perasaan bahwa anak – anak akan lebih aman di rumah sambil membayangkan kedekatan yang akan tercipta sepanjang hari, sangat menyenangkan. Suasana rumah dengan anggota keluarga yang lengkap dan pastilah itu menjadi sausana langka sebelum wabah corona ini. Namun hari berjalan dan tak ada yang tahu kapan wabah ini akan berlalu. Kejenuhanpun menjadi sangat mungkin terjadi.

 

Orang tua Belajar Menjadi Guru

Menjaga keharmonisan dari kebersamaan yang sedang dijalankan dimasa karantina ini ternyata tidak mudah, apa lagi bila itu terjadi dalam waktu yang lama. Hal tersulit adalah mengendalikan emosi. Menurut Robbins (20016) emosi muncul merupakan reaksi dari suatu kejadian, dan bagaimana kita merespon adalah pilihan kita sendiri memilih emosi negatif atau emosi positif demikian halnya untuk kegiatan belajar yang dilakukan anak – anak dirumah menjadi peluang para orangtua memberi emosi negatif. Tidak mudah untuk beradaptasi menjadi guru bagi anak – anak dirumah, para orangtua akhirnya harus belajar kembali mengikuti materi  dan mempelajari karakter dan cara belajar anak – anaknya kembali, dan ini benar – benar tidak mudah. Ada begitu banyak peluang konflik yang akan terjadi dalam kegiatan ini. Saya sendiri baru menyadari bahwa cara belajar anak saya sangatlah santai, dia tidak mudah larut dan terpicu dalam kompetisi, dia akan melanjutkan belajar bila sudah paham dengan bahasan sebelumnya dan kerap kali saya mengeluarkan emosi negatif karna hal ini.

Belajar dirumah adalah jalan yang dipilih sekolah untuk melawan wabah virus corona, pihak sekolahpun sebenarnya tidak memiliki persiapan yang memadai dalam menghadapi perubahan ini, baik dari tata cara tekniks yang akan diterapkan juga efisiensi penyampaian materi. Sekolah tidak bisa disalahkan juga karena bencana ini tidak ada yang menduga akan sepanjang ini. Namun siap tidak siap mau tidak mau kita harus bisa menghadapinya, menerima kondisi ini dan menjalaninya. Disatu sisi orang tua mungkin tidak berbakat menjadi guru atau tidak menguasai bahan ajar yang disajikan. Disisi lain para orang tua memiliki kecemasan tersendiri dalam menatap masa yang sedang terjadi, maka peluang yang akan terjadi adalah pelimpahan seluruh kegundahan ini adalah menggunakan energi emosi negatif. Sayangnya anak – anak  bisa jadi akan menjadi korbannya.

Peran baru menjadi guru adalah salah satu sumber emosi terbesar. Bayangkan, materi yang disampaikan pihak sekolah tentunya sangat singkat dan tidak dapat menjelaskan sampai anak – anak paham, karena media yang digunakan juga terbatas dan orangtualah yang akan berperan dominan. Namun bila saja melihat kondisi ini dari sisi yang berbeda, ini adalah saat yang paling tepat untuk membangun ulang kedekatan dan keintiman anak dan orang tua. Saat yang tepat untuk orang tua mengetahui materi pelajaran  dan bagaimana kondisi disekolah, dan apa yang anak – anak rasakan selama. Membangun pembicaraan tentang sekolah juga akan mampu membuat para orang tua bisa bernostalgia dengan masa dulu. Saat yang tepat untuk mengenang masa lalu dengan segala ceritanya,  waktu – waktu yang indah bukan?

 

Hikmah Pandemi Covid 19 Bagi Orang Tua

Pada akhirnya para orang tua akan menyadari betapa pentingnya peran guru dan sekolah dalam tumbuh kembang anak seperti yang dibahas dalam buku Roberta (Berns, 2013.) dibutuhkan begitu banyak kompenen dalam membesarkan seorang anak. Jika selama ini kita para orang tua hanya sekedar melakukan kewajiban antar anak ke sekolah dan membayar biaya sekolah tanpa pernah berpikir bahwa apa yang kita lakukan harusnya lebih dari itu, ini saat yang paling tepat untuk berkaca pada diri kita, betapa hebatnya para guru, betapa pentingnya mereka untuk dihargai. Peran mereka menjadi sama pentingnya dengan peran kita para orang tua dalam membangun karakter anak – anak kita. Ada banyak alasan emosi negatif yang akan kita gunakan untuk merespon pandemik saat ini. Namun juga ada banyak alasan penting untuk memberi emosi positif untuk bisa merenung sejenak, bahwa banyak hal yang harus kita perbaiki.

Bila saatnya tiba, badai virus corona ini berlalu dan berakhir, mari memiliki tekad lebih besar untuk menghargai para guru dan menggandeng mereka dengan perasaan hangat untuk membangun karakter anak – anak kita. Biarlah pandemik corona ini menjadi alasan kita hening sejenak sebelum melangkah kembali dengan tekad yang berbeda.

 

 

Referensi:

Berns, R. M. (2016). Child, family, school,comunity socialization and support. Standford: Cangage Learning.

 

Robbins,  S.P. (2013). Organization behavior. London: Pearson