ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 07 April 2020

 

 

“Yukk.. Mendongeng”:

Refleksi Pengalaman Menemani Anak Belajar dari Rumah

 

Oleh:

 

Yudho Bawono

Program Studi Psikologi Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura

 

Kejenuhan Saat WFH dan SFH

Coronavirus Disease (Covid-19) yang ditengarai berasal dari Wuhan, China sebarannya telah meluas hingga hampir ke seluruh penjuru dunia. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menetapkan status Covid-19 ini sebagai bencana nasional. Salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah adalah melakukan penjarakan sosial (social distancing) kepada masyarakat. Disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa masyarakat dihimbau untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah untuk meminimalkan aktivitas di luar rumah. (Fauzie dalam Merida, 2020). Meluasnya wabah Covid-19 ini berdampak pada sebagian besar pekerja kantoran yang akhirnya bekerja dari rumah (work from home) dan para pelajar yang belajar dari rumah (study from home).

Permasalahan muncul manakala orang tua dan anak-anak banyak menghabiskan waktu di rumah. Orang tua yang terbiasa bekerja di kantor (work at the office) dan anak-anak yang terbiasa belajar di sekolah (study at school) menjadi jenuh dengan rutinitas sehari-harinya. Menyikapi hal ini, salah satu kegiatan yang dilakukan penulis adalah dengan memberikan dongeng atau dikenal dengan istilah mendongeng pada anak-anak. Apakah dongeng itu? Mengapa mendongeng dapat dijadikan alternatif kegiatan dalam mengisi waktu antara orang tua dengan anak-anak di rumah? Apa manfaat dongeng?    

 

Manfaat Dongeng

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono, 1990) dongeng memiliki arti cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng juga diartikan sebagai cerita khayal atau fantasi yang mengisahkan tentang keanehan dan keajaiban sesuatu, seperti menceritakan  asal mula suatu tempat atau negeri, atau mengenai peristiwa-peristiwa yang aneh dan menakjubkan tentang kehidupan manusia atau binatang (Semi, 1988). Sementara yang disebut dengan mendongeng itu sendiri menurut Hana (2011) yaitu mengkomunikasikan cerita kepada anak, di mana mendongeng ini dapat dilakukan dengan menggunakan teks yaitu membacakan buku maupun tanpa membacakan buku (Bunanta, 2008). 

Berdasarkan uraian di atas, lantas manfaat apa yang bisa diambil dari dongeng? Menurut Sudarmoyo (dalam Sukada, 1987) dongeng dapat meningkatkan IQ seorang anak. Melalui dongeng, seorang anak akan dihinggapi “virus n Ach” (need for achievement) yang akan menentukan cara berpikir dan tindakannya lebih jauh secara efisien, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Anak mempunyai kebutuhan untuk selalu meraih prestasi. Dongeng juga diyakini merupakan kebiasaan yang baik untuk membangkitkan kemampuan otak kiri dan otak kanan anak sekaligus. Melalui dongeng, kemampuan bahasa, logika, mungkin juga berhitung (fungsi otak kiri) dirangsang, demikian pula imajinasi (fungsi otak kanan) anak juga sekaligus dirangsang. Bila kebiasaan untuk memacu otak kiri dan otak kanan tersebut terus dilakukan secara konsisten sesuai dengan usia anak, maka kelak dapat diharapkan anak tersebut akan mempunyai inteligensia yang tinggi, dengan kemampuan imajinasi serta daya kreativitas yang tinggi pula (Ismael dalam Setianingsih & Soedjatmiko, 1993).

Selain itu, dongeng juga diyakini bisa secara sehat mengembangkan emosinya (Sukardi, 1987). Pada saat mendengarkan dongeng, emosi anak akan tergerak dan terpengaruh oleh tema dongeng. Misalnya ketika pendongeng mengisahkan cerita-cerita yang didukung oleh kelucuan si pendongeng, maka emosi anak akan merasa senang, yang keluar dari wajahnya adalah wajah yang riang. Sebaliknya, ketika pendongeng mengisahkan hal-hal yang sedih dan menakutkan, emosi anak akan terlihat ketakutan cemas (Sugihastuti, 1996). Bahkan menurut Handayu (2001) melalui dongeng, selain emosi anak perlu disalurkan juga perlu dilatih untuk dapat diajak mengarungi berbagai perasaan manusia. Anak dapat dididik untuk menghayati kesedihan, kemalangan, derita, dan nestapa. Anak dapat pula diajak untuk berbagi kegembiraan, kebahagiaan, keberuntungan, dan keceriaan. Melalui dongeng, perasaan atau emosi anak dapat dilatih untuk merasakan dan menghayati berbagai lakon kehidupan manusia.

 

Tips Dalam Mendongeng

Mengingat manfaat dongeng yang penting pada masa tumbuh kembang anak (Bawono, 2016; Davies, 2010) maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mendongeng (Bawono, 2020) antara lain:

1.    Sesuaikan dongeng dengan usia anak agar anak mudah memahami cerita yang diberikan. Semakin muda usia anak, maka cerita dibuat sesederhana mungkin dengan tokoh cerita yang tidak terlalu banyak, misalnya: 2 atau 3 tokoh cerita saja.

2.    Berikan tema yang mengandung unsur edukasi, misalnya: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Dengan kondisi Corona Virus Disease (Covid-19) yang semakin luas sebarannya, tema tentang PHBS ini adalah pilihan yang tepat.

3.    Berikan dongeng dalam kondisi relax dan tidak ada keterpaksaan, misalnya: saat bangun tidur siang. Setelah anak selesai belajar dari rumah (study from home) dan tidur siang, anak yang masih dalam kondisi relax sehingga bisa didongengi.

4.    Agar anak tertarik, usahakan dongeng diberikan seekspresif mungkin, baik dari gerak maupun suara pendongeng. Orang tua perlu “menghidupkan” dongeng dengan suara dan gerakan yang ekspresif agar anak tertarik dengan dongeng yang diberikan.

 

Referensi

 

Bawono, Y. (2016). Dongeng: Tinjauan dalam perspektif psikologi perkembangan anak usia dini. Yogyakarta: Penerbit Elmatera

Bawono, Y. (2020, Maret 24). Mendongeng: Kegiatan alternatif saat work from homeDiunduh dari: Instagram himpsi.ippi

Bunanta, M. (2008). Buku, mendongeng dan minat membaca. Jakarta: Kelompok Pencinta Bacaan Anak

Davies, A. R. (2010). Mendongeng untuk buah hati. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer

Hana, J. (2011). Terapi kecerdasan anak dengan dongeng. Yogyakarta: Berlian media

Handayu, T. (2001). Memaknai cerita, mengasah jiwa. panduan menanamkan nilai moral pada anak melalui cerita. Solo : Era Intermedia

Merida, S. C. (2020, Maret 5). Memberikan edukasi mengenai coronavirus disease 19 (Covid 19) kepada anak-anak melalui pesan positif dan edukatif. Buletin KPIN. 6(5). Diunduh dari https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/559-memberikan-edukasi-mengenai-coronavirus-disease-19-covid-19-kepada-anak-anak-melalui-pesan-positif-dan-edukatif

Moeliono, A. M. (1990). Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Semi, M. A. (1988). Anatomi sastra. Padang : Angkasa Raya

Soetjiningsih dan Gde Ranuh, IG.N. (1995). Tumbuh kembang anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Sugihastuti. (1996). Serba-serbi cerita anak-anak. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sukada. M. (1987). Beberapa aspek tentang sastra. Denpasar : Penerbit Kayu Mas dan Yayasan Ilmu dan Seni Lesiba

Sukardi, D. K. (1987). Bimbingan perkembangan jiwa anak. Jakarta : Ghalia Indonesia