ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

WFH (Work From Home) : Support Pasangan dengan Kondisi LDM

 (Long Distance Married)

Oleh :

Greata Nesya Oktavrida, M.Psi., Psikolog.

(HR – PT Perkebunan Nusantara X)

 

Work From Home Selama Pandemi Covid 19

Sekitar akhir tahun 2019, dunia di gemparkan dengan berita Corona Virus – 19 (Covid-19) yang awalnya terjadi di Wuhan, Cina. Hari demi hari Covid-19 menyebar ke negara-negara lainnya. Beberapa bulan kemudian di sekitar pertengahan Maret 2020, kegemparan tersebut terjadi di Indonesia dan sampai awal April 2020 ini tampak peningkatan jumlah pasien yang terjangkit Covid-19 dengan status Positif, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP), meskipun demikian cukup banyak juga pasien yang sembuh. Beberapa perusahaan khususnya yang berada dalam wilayah red zone Pandemi Covid-19 mengeluarkan kebijakan bagi karyawannya untuk Work From Home atau yang biasa disingkat WFH.

WFH berarti bekerja dari rumah, dimana sistem kerja WFH memiliki fleksibilitas yang tinggi meski pada beberapa perusahaan menerapkan absen online guna mempertahankan kedisiplinan dan menyiapkan logbook untuk memantau pekerjaan karyawan. WFH dijadikan salah satu solusi untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 dan keselamatan karyawan utamanya di tengah pandemi ini. Selain itu masing-masing perusahaan pasti sudah melakukan analisa dan memiliki antisipasi resiko dari pelaksanaan WFH.

 

Kelebihan dan Kekurangan Work From Home

Pada dasarnya WFH ini memiliki kelebihan dan kekurangan serta berdampak bagi kehidupan seorang karyawan. Sebagai contoh kelebihan WFH adalah hemat biaya transportasi dari tempat tinggal ke kantor, memiliki waktu yang lebih bersama keluarga karena momen bersama keluarga akan didapat seiring waktu berjalan, dan waktu kerja yang fleksibel. Sebaliknya kekurangan dari WFH diantaranya jam kerja yang tidak teratur membuat seseorang memiliki kecenderugan untuk mengabaikan pekerjaan selama seharian tersebut atau bahkan mementingkan seluruh pekerjaan tanpa menentukan skala prioritas, kondisi keluarga yang terlalu ramai dapat membuat anda meninggalkan pekerjaan di hari tersebut, dan pada beberapa orang kurang termotivasi dan kurang kompetitif karena setting ruangan atau lingkungan dirumah tidak sama dengan kantor.

Dapat dibayangkan bahwa karyawan yang sehari-harinya rutin berangkat bekerja ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan sebagian besar di kantor, ketika WFH harus bekerja dirumah. Beberapa karyawan yang mungkin terbiasa dengan setting kantor dalam menyelesaikan tugas, dituntut harus beradaptasi dengan situasi lingkungan rumah untuk menyelesaikan tugas agar target kerja tetap tercapai. Pada beberapa orang kondisi ini dirasa kurang nyaman dan lama kelamaan akan menjadi bosan sehingga diperlukan beberapa cara untuk mengatasinya. Adapun beberapa tips untuk mengatasi kejenuhan diantaranya :

1.    Pilih sisi atau sudut rumah yang nyaman sebagai ruang bekerja.

2.    Tetap mengikuti jam kerja seperti biasa.

3.    Buat to do list yang harus dikerjakan, jika diperlukan buat skala prioritasnya.

4.    Berpakaian rapi akan membantu kita untuk merasakan suasana seperti bekerja di kantor.

5.    Mengenali tubuh sendiri. Posisikan tubuh pada kondisi yang membuat nyaman dan istirahat sejenak untuk menyegarkan diri.

6.    Mendapatkan dukungan keluarga dan rekan kerja. Hal ini menjadi penting karena dapat menumbuhkan motivasi diri.

 

Pasangan Long Distance Married

Pada tips di point 6 tentang pentingnya dukungan keluarga akan cukup berbeda situasinya antara seseorang yang telah menikah untuk tinggal bersama dibandingkan dengan pasangan yang berada pada situasi hubungan jarak jauh pada pernikahan atau yang biasa dikenal dengan Long Distance Married (LDM). Pada era saat ini banyak pasangan yang sama-sama memilih bekerja atau memilih LDM dengan beragam alasan yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mengejar karir, mengaplikasikan pendidikan, bahkan sampai dorongan dari orang tua. Meski demikian masing-masing pasangan pasti telah memiliki pandangan tentang konsekuensi yang dapat terjadi.

Pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial adalah individu yang tidak dapat hidup sendiri, membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan dalam berinteraksi, berkomunikasi, menyampaikan kehendak dan ide atau pendapat yang dimiliki. Menurut Maslow (Feist & Feist, 2008), kebutuhan manusia untuk dicintai dan dimiliki terwujud dalam beberapa hal seperti dorongan bersahabat, keinginan untuk memiliki pasangan dan keturunan serta kebutuhan untuk melekat pada sebuah keluarga dan lingkungan sekitar. Proses ini merupakan salah satu tahapan perkembangan yang harus dilalui manusia dewasa. Tahap ini disebut tahap intimacy (Havighurst, dalam Santrock, 2002). Intimacy adalah sebuah komitmen memilih teman hidup, belajar hidup bersama pasangan, membentuk sebuah keluarga, membesarkan anak, dan mengelola rumah tangga yang dapat terwujud dengan membina sebuah hubungan yaitu pernikahan (Hurlock, 2009).

 

Pemberian Dukungan Pada Pasangan Long Distance Married

Salah satu karakteristik dari kepuasan pernikahan adalah menikmati kebersamaan dengan pasangan. Karakteristik ini dapat terpenuhi ketika individu tinggal bersama dan menghabiskan waktu dengan pasangan. Tidaklah mudah bagi pasangan LDM untuk menjalaninya terutama pada kondisi merebaknya Pandemi Covid-19 yang sudah ditetapkan sebagai Bencana Nasional di Indonesia. Bagi pasangan LDM pasti telah memiliki cara sendiri untuk menjaga kepuasan pernikahan, misalnya terbiasa rutin pulang setiap satu bulan sekali atau 2 minggu sekali, memiliki quality time dan sebagainya. Adanya Pandemi Covid-19 ini membuat cara tersebut menjadi berubah misalnya rutinitas pulang menjadi berubah (lebih lama tidak pulang) mengikuti kondisi dan aturan yang berlaku di wilayah masing-masing. Meski pasangan tersebut sama-sama mengikuti ketetapan WFH di perusahaan masing-masing, namun banyak hal yang dialami seperti keinginan yang besar untuk pulang karena ingin bertemu dan mengetahui kondisi keluarga, bosan dengan kondisi WFH, dan sebagainya. 

Guna memberikan dukungan kepada pasangan LDM yang sedang WFH, maka berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan dengan tujuan saling menguatkan dan menjaga kepuasan pernikahan yaitu :

1.    Menanyakan kebutuhan pasangan terkait pencegahan penularan Covid-19 dengan cara mengirimkan kebutuhan yang semakin langka di pasaran seperti hand sanitizer, air disinfectan, vitamin dan lainnya yang tidak dapat pasangan peroleh di wilayah perantauan.

2.    Menjaga komunikasi melalui media online baik suara maupun video. Komunikasi tersebut dapat dirutinkan pada waktu tertentu sesuai kesepakatan bersama pasangan sebagai salah satu upaya menjaga quality time. Berbagi cerita tentang kondisi seharian, mengatakan hal-hal positif seperti “tetap sehat selalu” juga sangat diperlukan untuk saling menguatkan dan bersabar dengan kondisi ini.

3.    Memupuk rasa saling percaya dan komitmen.

4.    Mendiskusikan masalah sehingga menemukan pemecahan masalah yang terjadi ketika WFH.

5.    Mengelola keuangan bersama. Seperti diketahui bersama bahwa pada masa pandemi Covid-19 ini beberapa barang atau bahan makanan melonjak drastis, maka ada baiknya kondisi keuangan pun turut dibicarakan bersama.

6.    Meningkatkan kepercayaan terhadap Tuhan dengan cara saling mengingatkan untuk tetap beribadah agar pandemi segera berlalu dan kesehatan tetap terjaga.

7.    Simpan memori bersama pasangan. Hal ini sangat diperlukan untuk menjaga keharmonisan keluarga dan sebagai motivasi agar bekerja lebih semangat.

 

 Referensi:

Feist, J. & Feist, G, J. 2008. Teori kepribadian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hurlock, E. B. (2009). Psikologi perkembangan : Suatu perkembangan sepanjang rentan kehidupan. Jakarta : Erlangga

Santrock, J. W. (2002). Life-span Development : Perkembangan masa hidup (5th Ed.). Jakarta: Erlangga.