ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 07 April 2020

Mengatasi Psikosomatis Akibat Covid-19

Oleh

Cyntia Dewayani Hernawan & Sri Lestari

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Saat ini, di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia tengah dilanda pandemi karena kemunculan sebuah virus baru yang bernama Corona atau COVID-19. Pada awalnya banyak masyarakat yang menganggap enteng Corona bahkan ada yang menjadikan virus ini sebagai bahan candaan seperti “Orang Indonesia tidak mungkin kena Corona, lha wong udah kuat”. Tetapi semenjak diumumukan bahwa dua WNI yang merupakan seorang ibu (64 tahun) dan putrinya (31 tahun) positif corona keadaan berubah. Keadaan yang pada mulanya tenang dan biasa saja berubah menjadi kepanikan massal.

Jumlah orang yang positif terinfeksi virus Corona di Indonesia pun makin meningkat. Pemerintah pun menyerukan beberapa seruan dan anjuran kepada masyarakat seperti kebijakan physical distancing dan sosial distancing. Seruan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak berpergian. Kalaupun terpaksa keluar rumah wajib memakai masker. Masyarakat dianjurkan pula agar rajin mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menjauhi kerumunan, serta seruan untuk bekerja dari rumah (Work From Home) bagi para pegawai kantor. Lembaga pendidikan pun dianjurkan agar melakukan pembelajaran secara daring. Semua seruan dan anjuran pemerintah ini dilakukan dengan tujuan agar rantai penyebaran dari virus Corona dapat  diputus.

Jumlah angka penderita Corona dari hari ke hari menunjukkan kenaikan yang pasti, informasi mengenai Corona selalu menjadi topik utama dalam pembicaraan  ditambah lagi dengan adanya beberapa informasi hoax terkait Corona yang menyebar di media social seperti WA membuat masyarakat merasa cemas dan banyak menimbulkan respon negatif seperti terobsesi untuk menimbun alat kesehatan hingga dapat berdampak psikosomatis (Zulva, 2019).

Gangguan psikosomatik dan cara mengatasinya

Gangguan psikosomatis dapat diartikan  sebagai penyakit fisik yang dipengaruhi oleh faktor psikologis. Gangguan psikosomatis sebenarnya tidak termasuk faktor psikologis yang terlalu berat untuk digolongkan ke dalam gangguan mental tetapi gangguan ini sangat berperan mempengaruhi gangguan medis (Sarnoto, 2016). Tidak ada penyebab tunggal untuk menjelaskan gangguan psikosomatis. Berbagai mekanisme psikologis, sosial, patofisiologis, keluarga, dan genetik telah diusulkan untuk menjelaskan asal gangguan psikosomatis (Colak dalam Apriyani, 2018). Maramis (dalam Apriyani, 2018) mengungkapkan bahwa hasil penelitian Strecter pada 239 penderita dengan gangguan psikogenik, ditemukan gejala yang paling sering didapati yaitu 89 persen terlalu memperhatikan gejala-gejala pada badannya dan 45 persen merasa kecemasan. Oleh karena itu pada pasien psikosomatis perlu ditanyakan beberapa faktor yaitu:

 

1. Faktor sosial dan ekonomi

2. Faktor perkawinan atau keluarga

3. Faktor kesehatan

4. Faktor psikologis.

 

Gejala dari kecemasan akan diikuti oleh perubahan-perubahan fisik, seperti perubahan detak jantung, tekanan darah, hilangnya selera makan, gangguan pernafasan, keringat dingin, terganggunya kualitas tidur dan gangguan fisik lainnya. (Fitriani & Rois, 2014). Jika dilihat dari keadaan sekarang faktor sosial dan ekonomi, kesehatan, dan psikologis adalah penyebab utama terjadinya gangguan psikosomatik.  Dari faktor sosial dan ekonomi, peningkatan angka dari jumlah orang yang positif terinfeksi virus Corona, membuat orang merasa was-was. Apalagi ditambah pemerintah mengeluarkan anjuran untuk karantina di rumah sehingga banyak orang berpikir jika mereka harus memiliki stok kebutuhan sehari-hari dalam jumlah yang banyak. Akibatnya terjadilah panic buying, penimbunan masker dan hand sanitizer. ditambah dengan harga dari masker dan hand sanitaizer yang sangat mahal padahal keberadaan dari masker dan hand sanitaizer sendiri sangat langka belakangan ini.

Dari segi sosial, banyak orang yang merasa bosan berada di rumah karena seruan pemerintah untuk mengkarantina diri sendiri. Dari segi kesehatan, saat ini jumlah orang yang positif terinfeksi virus Corona makin bertambah sehingga banyak orang yang merasa panic banyak orang berlomba- lomba untuk meningkatkan imunitas mereka agar mereka tidak sakit dengan cara banyak berolahraga, berjemur sinar matahari di pagi hari, serta mengonsumsi vitamin karena banyak masyarakat yang takut jika mereka tidak fit maka bisa terkena Corona.

Dari segi psikologis, karena jumlah orang yang terinfeksi virus Corona makin bertambah, banyak orang yang merasa curiga jika mereka ikut terkena virus Corona. Semisal jika seseorang merasa batuk dan hidungnya berair, maka dia akan langsung merasa ketakutan dan berpikir dia terkena Corona. Padahal dia hanya menderita flu biasa begitu pula ketika seseorang sedang berada di luar, dan ada orang lain yang bersin atau batuk maka orang tersebut akan langsung dianggap menyebarkan virus corona meskipun realitasnya belum tentu demikian.

Gangguan Psikosomatik ini tentunya perlu diatasi karena bisa saja orang- orang akan semakin menjadi ketakutan dengan keadaan yang terjadi dan berpikir yang tidak-tidak. Ada beberapa cara  untuk mengurangi kemungkinan terjadinya psikosomatis selama pandemik virus Corona ini masih berlangsung seperti:

1.    Usahakan untuk tidak panik terhadap keadaan, jika panik maka kita akan berasumsi yang tidak- tidak semisal jika kita merasa batuk atau hidung tersumbat kita langsung menjudge kalau kita terkena Corona padahal ternyata terkena flu

2.    Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

3.    Makan  makanan bergizi, lengkap dengan buah dan sayur setiap hari

4.    Melakukan aktifitas fisik setiap hari

5.    Menjauhi keramaian

6.    Ketika melihat orang lain batuk atau bersin atau mungkin sesak jangan langsung berasumsi jika orang tersebut terinfeksi Corona, padahal bisa saja orang tersebut terkena penyakit yang lain misal flu biasa

7.    Mencari informasi terkait Corona pada sumber yang tepat

8.    Apabila merasakan tidak enak pada tubuh, jangan langsung berasumsi terkena Corona

9.    Selalu memantau informasi terkini terkait Corona, dari sumber terpercaya.

Dengan cara di atas, diharapkan kecenderungan orang mengalami psikosomatik selama pandemi COVID 19 terjadi dapat diminimalkan. Pandemi COVID 19 yang melanda Indonesia, semoga dapat kita lawa bersama, sehingga kehidupan dapat berjalan normal kembali seperti sedia kala.

 

Referensi:

Apriyani SP, R. (2018). Faktor - faktor penyebab psikosomatis pada orang dengan kecenderungan psikosomatis di Samarinda. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6 (3), 609-617.

Fitriani , A., & Rois, A. M. M. (2014). Studi kasus kecenderungan psikosomatis dan kaitannya dengan sistem budaya. Proyeksi, 9 (2) 38-48.

Nurhajati, N. (2015). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Masyarakat Desa Samir dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Publiciana, 8 (1), 1-18.

Sarnoto, A. Z. (2016). Psikosomatis dan pendekatan psikologi berbasis Al-Qur’an. Statement, 6 (2),  111-117.

Zulva, T. N. I. (2019). COVID-19 dan kecenderungan psikosomatis. Makalah. Diunduh darihttps://www.academia.edu/42352261/COVID19_dan_Kecenderungan_Psikosomatis