ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

Mencermati Kecemasan dalam Menghadapi Wabah COVID-19

Oleh

Devi Jatmika

Universitas Bunda Mulia

 

Corona atau Covid-19 menjadi fenomena paling serius untuk seluruh masyarakat dunia hingga saat ini. Ketakutan mulai merebak hari yang mana Presiden Joko Widodo mengumukan dua orang penderita dua orang warga Depok yang dinyatakan positif COVID-19. Warga Jakarta segera melakukan panic buying di berbaagai supermarket di Jakarta. Padahal, di awal virus Corona merebak di China, warga Indonesia dari berbagai media sosial berkomentar “Virus tersebut takut masuk ke Indonesia!”, “Orang Indonesia kebal memiliki imum yang kuat karena sudah terbiasa makan kaki lima juga tidak sakit!” dan komentar-komentar lainnya. Tentunya, komentar dan pendapat sebelum Corona masuk ke Indonesia sempat membuat kita percaya diri ditambah Indonesia dengan negara tropis dimana virus takut dengan panas. Tentu saja, hal ini perlu diteliti kembali karena Singapura dan Malaysia juga tergolong negara dengan cuaca yang panas dan terkena penyebaran virus lebih awal daripada Indonesia. Melihat hal ini, warga Indonesia tergolong santai tanpa persiapan apapun karena pendapat-pendapat umum yang beredar, tetapi akhirnya Corona pun menghampiri Indonesia.

Kita pahami terlebih dahulu tentang rasa takut dan cemas. Kecemasan adalah sebuh emosi yang dikarakteristikkan dengan perasaan tegang, pikiran-pikiran yang membuat kuatir dan perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah. Seseorang dengan kecemasan sering memiliki pikiran-pikiran yang mengganggu dan juga mengalami symptom-simptom seperti berkerigat, bergetar, pusing dan detak jantung yang cepat (Encyclopedia of Psychology dalam American Pyschological Association, 2000). Ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang membuat stress atau tertekan, maka individu tersebut akan merespon apakah stress itu adalah sesuatu yang alami atau mengancam? Kecemasan terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif, emosional dan psikologis. Komponen emosional adalah perasaan takut. Ketika merasakan sensasi fisik seperti berkeringat, jantung berdetak kencang maka itu adalah komponen psikologis. Rasa kuatir dan pemikiran-pemikiran negatif adalah komponen kognitif dari kecemasan (Marques, 2018). Ketika stress dirasakan mengancam atau tidak menyenangkan maka, individu memiliki dua respon untuk menghadapinya fight or flight, melawan atau kabur dari situasi atau sumber stress. Namun, dalam keemasan kita merespon pada alarm yang salah. Misalnya, ketika Anda mendengar berapa banyak kasus Covid 19 muncul di Indonesia, anda mulai berpikiran Anda akan meninggal karena Covid-19, maka darah mengalir deras dan detak jantung menjadi cepat.

Kecemasan-kecemasan karena paparan media sosial dan berita-berita juga menimbulkan kecemasan pada diri kita sehingga memunculkan pemikiran-pemikiran negatif yang terus menerus. Akibatnya, kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu aktivitas-aktivitas kita, menjadi stress dan panik. Lalu bagaimana menghadapinya? Berikut ini beberapa petunjuk yang dikemukakan oleh Carnegie (2019) yang relevan bagi kita untuk mengurangi kecemasan di tengah wabah Covid-19:

1.    Hidup di saat ini- mengkuatirkan apa yang terjadi hari ini karena saat hari inilah yang dapat kita kontrol.

2.    Tidur- cukup tidur untuk memperbaiki mood dan emosi kita dan bersemangat menyambut hari.

3.    Bekerjasama terhadap apa yang tidak terlihat- Terimalah apa yang tidak dapat kita kontrol. Pada kenyataannya virus Covid itu ada dan tidak dapat kita kontrl, namun kita dapat mengontrol perlaku kita dengan makan-makanan yang bergizi, berolahraga, menenangkan diri, meditasi, menjaga kebersihan, dll.

4.    Hadapi masalah dengan logis. Ada tiga tahap-tahap sederhana:

a.    Hal terburuk apa yang dapat terjadi?

b.    Bersiaplah untuk menerima yang terburuk

c.    Pikirkan cara untuk membenahi setelah melewati yang terburuk

5.    Hitung berkat yang kita peroleh

6.    Tetap sibuk- walaupun semua orang harus berada di rumah menjalankan physical distancing, tetap lakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat di rumah.

7.    Ciptakan kebahagiaan untuk orang lain- riset menunjukkan melakukan hal-hal baik mengaktifkan neurotransmitter di otak yang berhubungan dengan perasaan positif dan menurunkan stress kecemasan. Kita dapat memulai dengan melakukan hal-hal baik terhadap orang-orang di rumah dan lingkungan kita, berdonasi, memberikan support kepada teman dan rekan kerja, menyebarkan berita-berita positif, dll.

Dengan menerapkan hal-hal di atas, diharapkan kita dapat mengelola kecemasan dalam diri kita sendiri dan selanjutnya menebarkan semangat positif untuk orang-orang di sekitar kita. Lakukan apa yang dapat kita lakukan saat ini dan menerima perubahan-perubahan yang terjadi selama wabah COVID-19 ini.

 

Referensi:

Carnegie, D. (2019). 10 was to stop worrying and start living. Diakses dari https://www.dalecarnegie.co.uk/10-ways-to-stop-worrying-and-start-living/

Marques, L. (2018). Do I have anxiety or worry: What’s the difference? Diakses dari https://www.health.harvard.edu/blog/do-i-have-anxiety-or-worry-whats-the-difference-2018072314303

American Psychological Association. (2000). Anxiety. Diakses dari https://www.apa.org/topics/anxiety/