ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

 

Bekerja dari Rumah sebagai Efek Pandemi Corona Virus:

Stress dan Penyesuaian Diri pada Orangtua yang Bekerja di Rumah

 

Oleh

Penny Handayani

Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya Jakarta

 

“Berperan bekerja harus seimbang. Tapi kuncinya adalah prioritas.

Anda akan lebih selektif dalam bekerja ketika Anda ingin menghabiskan waktu dengan keluarga Anda”.

-Kim Kardashian.

Artis dan wirausahawati Amerika Serikat.

 

Bekerja harus seimbang, dan keseimbangan tersebut dapat tercapai dengan adanya pemisahan lokasi kerja dari rumah. Anda akan sangat dengan mudah fokus bekerja di kantor, dan sangat terlibat dengan pengasuhan ketika berada di rumah. Namun, penyebaran virus COVID-19 yang semakin tinggi membuat perintah bekerja di rumah (WFH; work from home) dikeluarkan sebagai cara pencegahan penyebaran virus. Berbagai masalah ekonomi, sosial, dan psikologis kemudian muncul karena kondisi tersebut, terlebih bagi orang tua. Ketika WFH dilakukan, maka tuntutan pekerjaan (ekonomi dan domestik), juga pengasuhan anak menjadi hal yang diberikan kepada orang tua. Kedua tuntutan tersebut menyebabkan tingginya stres pada orang tua. Stres sendiri merupakan sebuah kondisi seseorang yang mengalami tuntutan emosi dan/atau waktu yang berlebihan, yang membuatnya sulit berfungsi secara efektif dalam semua wilayah kehidupan. Keadaan ini dapat mengakibatkan munculnya cukup banyak gejala, seperti depresi, kelelahan kronis, mudah marah, gelisah, impotensi, dan kualitas kerja yang rendah (Daft, 2010). Stres mengharuskan seseorang untuk dapat menyesuaikan dirinya dengan kondisi yang dialami. Penyesuaian diri adalah proses yang dilakukan seseorang secara terus-menerus untuk dapat membiasakan diri, menerima hal-hal yang tidak dapat dikontrol, dan interaksi yang terjadi antara diri sendiri, orang lain, serta dunianya.

Penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Proses/pengalaman yang dijalani seseorang untuk dapat menyesuaikan diri berbeda-beda. Seiring berjalannya waktu, seseorang akan dapat menyesuaikan diri dengan masalah/kondisi yang dialami. Saat seseorang mampu membiasakan, menerima, dan berinteraksi dengan baik, maka ia memiliki penyesuaian yang efektif.

Penyesuaian Diri.

Calhoun dan Acocella (1990) mendefinisikan penyesuaian (adjustment) sebagai interaksi seseorang yang terjadi secara terus menerus antara diri sendiri, orang lain, dan dunianya. Ketiga hal tersebut adalah faktor yang terus bekerja dan mempengaruhi seseorang. Diri sendiri yang dimaksudkan oleh Calhoun dan Acocella (1990) adalah keseluruhan dari individu tersebut termasuk tubuh, perilaku, pikiran, dan perasaan yang terjadi setiap waktu. Orang lain jelas memiliki pengaruh yang kuat terhadap seseorang, seperti yang orang tersebut lakukan kepadanya.

Konsep penyesuaian dapat digunakan dalam berbagai hal. Penyesuaian berarti membiasakan diri atau belajar untuk tumbuh dalam suatu keadaan (Haber & Runyon, 1984). Haber dan Runyon juga mendefinisikan penyesuaian sebagai saat seseorang harus dapat menerima hal-hal yang tidak dapat ia kontrol sebelumnya, salah satunya adalah penyebaran pandemic COVID-19. Penyesuaian yang efektif berarti seseorang dapat menerima keterbatasan yang tidak bisa diubah tetapi keterbatasan itu tetap menjadikan semangat untuk terus berkembang (Haber & Runyon, 1984).

Penyesuaian adalah suatu proses yang terus menerus berjalan sepanjang hidup seseorang. Penilaian terhadap efektivitas dalam melakukan penyesuaian dilihat dari seberapa baik seseorang berusaha dalam keadaan yang selalu berubah. Hal terpenting dalam penyesuaian diri adalah menetapkan tujuan secara realistis dan berusaha untuk mencapainya (Haber & Runyon, 1984).

Tips Menyesuaikan Diri dengan Situasi Kerja WFH.

Tidak ada proses yang mudah untuk menyesuaikan diri. Seseorang harus membuat caranya sendiri untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan WFH yang terjadi. Akan tetapi, Haber dan Runyon (1984) menjabarkan lima karakteristik penyesuaian diri yang efektif. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua yang mengalami WFH:

1.    Memahami realita yang ada

Hal ini ditunjukan dengan kemampuan seseorang dalam mengenali kemampuan dirinya dan menyusun tujuan yang realistis, mampu untuk mengubah tujuannya sesuai dengan kesempatan atau kendala yang ada, serta mampu mengenali konsekuensi yang ada dalam semua tindakan yang hendak dilakukan. Orang tua perlu memahami realita bahwa kemungkinan produktivitas mereka ketika WFH akan menurun ketimbang ketika bekerja di kantor. Karena di masa ini, ketika WFH, orang tua juga punya peran tambahan sebagai guru bagi anak yang melakukan SFH. Hal ini akan membantunya menjadi pribadi yang fleksibel dan memiliki jalan keluar jika proses yang dilalui tidak sesuai dengan harapannya.

2.    Kemampuan untuk mengatasi stres dan kecemasan

Penyesuaian diri yang baik dapat dilihat dari seberapa baik seseorang mampu menangani masalah, konflik, dan hambatan yang dihadapi. Salah satu mekanisme yang dapat dilakukan adalah mencari penghiburan melalui kegiatan rohani. Tidak dipungkiri bahwa berdoa adalah salah satu ritual yang baik untuk menurunkan kecemasan. Dengan berserah diri kepada-Nya, maka dukungan spiritual akan diperoleh dan menguatkan karena orangtua merasa mendapatkan dukungan tambahan guna mengatasi tekanan yang dihadapinya.

3.    Memiliki citra diri yang positif

Memiliki citra diri yang positif artinya seseorang mampu melihat dirinya secara positif tetapi juga mampu melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Seseorang juga perlu mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya secara realistis sehingga ia dapat melihat potensi yang ada dalam dirinya. Perlu dipahami bahwa dalam 24 jam berada di rumah, terdapat tuntutan ganda yang perlu dikerjakan. Menjadi orangtua yang bekerja secara ekonomis, melakukan tugas domestik, serta mengasuh anak dan bahkan sebagai guru bagi anak. Tuntutan pekerjaan yang banyak namun dengan sumber daya yang terbatas akan sulit untuk dipenuhi. Hal yang dapat dilakukan adalah selalu berusaha mempertahankan suasana hati agar senantiasa nyaman. Jika orangtua memiliki suasana hati yang tenang, maka meskipun tuntutan tidak dapat dipenuhi dengan sempurna, namun kondisi keseimbang tetap dapat terjaga dalam dinamika hubungan di rumah.

4.    Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan

Seseorang yang tidak menunjukkan ekspresi dari emosinya bukan berarti tidak memiliki emosi. Terdapat kemungkinan orang tersebut akan menunjukkan ekspresi yang berlebihan di kemudian hari. Perasaan atau emosi yang ditahan disebut sebagai blunted affect. Akan tetapi, ada juga orang yang sulit untuk menahan ekspresi dari emosinya. Penyesuaian yang sehat membutuhkan keseimbangan antara ekspresi dari perasaan yang tertahan dan tidak tertahan tersebut serta mampu mengenali sumber perasaan dan emosi dengan tepat. Hal yang dapat dilakukan adalah mengungkapkan dengan langsung bercerita hal apa yang menyebabkan dirinya merasa senang atau sedih.

5.    Memiliki relasi yang baik dengan orang lain

Aspek yang paling penting dari hubungan interpersonal adalah kemampuan seseorang dalam berbagi emosi dan perasaan. Saat seseorang memiliki penyesuaian diri yang baik berarti ia mampu merasa nyaman dan menghargai orang lain yang berinteraksi dengan dirinya, begitu juga sebaliknya. Orang-orang tersebut akan memberi respons positif, dengan saling mendukung, peduli, dan membantu.

 

Tentunya penyesuaian diri yang dilakukan memiliki faktor yang memengaruhi selama proses. Faktor-faktor tersebut antara lain dukungan dari keluarga pihak istri maupun suami serta sahabat dan teman-teman dekat. Dukungan tersebut tidak hanya berupa materiil melainkan juga waktu yang diberikan, pesan atau saran, serta tenaga. Keyakinan setiap orang tua terhadap agama yang dianut juga memberikan pelajaran dan refleksi dalam menjalani hidup. Berbagai pengalaman yang telah dilalui bersama membuat kita semua dapat belajar dan tetap menjadi tegar, saat menyesuaikan diri dengan situasi WFH yang ada.

“Saya pikir setiap orangtua yang bekerja mungkin merasakan hal yang sama. Anda akan sampai pada satu titik di mana Anda akan mengatakan ‘ini tidak mungkin saya lakukan’ ‘kapan ini berakhir?’ Tapi nyatanya Anda tetap menjalani itu semua dan bisa melewati hal yang mustahil tadi”.

-Tina Fey.

Seorang komedian, aktris, penulis dan produser TV Amerika Serikat.

 

 

Referensi:

Calhoun, J. F., & Acocella, J. R. (1990). Psychology of adjustment and human relationship. United States of America: McGraw-Hill, Inc.

Daft, Richard. (2010). New era of management; Ninth edition. South-Western: Cengage Learning.

Haber, A., & Runyon, R. P. (1984). Psychology of adjustment. Illinois: The Dorsey Press