ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Pilah-pilih Perilaku Hadapi Covid 19

 

Oleh

Aisyah Syihab

Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila

 

Sejak awal tahun 2020, dunia dihebohkan oleh wabah virus Corona atau yang lebih dikenal dengan Covid 19. Wabah suatu penyakit sebetulnya bukan hal baru di dunia, beberapa tahun terakhir sudah tersebar wabah penyakit yang mendunia, seperti Flu Burung dan SARS. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang berbahaya, mematikan, dan cepat penyebarannya. Dibanding dengan Covid 19, banyak penyakit yang lebih cepat penulaarannya dan lebih berbahaya karena sangat mematikan. Misalnya saja, pandemi Flu 2009, yang lebih dikenal dengan Flu Babi (atau virus H1N1), tercatat 60,8 juta kasus, dan diperkirakan sekitar 575.400 orang meninggal akibat virus itu di seluruh dunia (Putri, 2020). Sedangkan Covid19 sejauh ini menyerang 182.723 orang di seluruh dunia, dengan jumlah kematian sebanyak 7.124 orang dan 79.883 orang sembuh. (Worldmeter, 2020).

 

Sebagaimana yang kita sudah ketahui dan alami bersama, perilaku masyarakat pada saat virus H1N1 itu melanda relatif tidak banyak berubah. Setiap individu di seluruh dunia masih menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa layaknya sebelum terjadi wabah virus itu. Namun wabah virus Covid19 ini tidak seperti wabah-wabah sebelumnya, banyak perilaku masyarakat yang berubah, dan itu terjadi di seluruh dunia. Akibat perubahan perilaku itu, banyak aspek kehidupan yang terpengaruh, bisa jadi pengaruh positif maupun negatif. Begitu juga dengan perilakunya: perilaku positif maupun negatif.

Perilaku-perilaku ini terjadi di sekitar kita, bahkan bisa jadi kita sendiri melakukannya. Mari kita telaah beberapa perilaku tersebut, mana yang sebaiknya dilakukan dan dihindari.

1.  Perilaku penggunaan masker

Penggunaan masker bukanlah perilaku yang baru terjadi sejak adanya wabah Covid19 ini. Pemakaian masker mulai marak sejak para penyedia jasa ojek online membagikan masker secara gratis pada pelanggannya -yupz, harga masker yang sebelum virus ini mewabah, sangat murah sehingga bisa dibagikan secara gratis-. Penggunaan masker dilakukan untuk mencegah masuknya debu dan bibit penyakit ke saluran pernapasan ketika individu berada di jalan atau tempat umum. Penulis mengamati bahwa penggunaan masker di semakin marak dilakukan semenjak Covid19 melanda, terutama sejak ditemukannya kasus penderita Covid19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 (Basith, 2020). Hampir semua warga yang berada di  tempat umum (seperti stasiun, kampus, mall), dan alat transportasi (misalnya KRL, Trans Jakarta, MRT) menggunakan masker, walau tidak diketahui kondisi kesehatannya oleh orang di sekitarnya. Hal ini menjadikan stock masker di pasaran sangat sedikit, susah untuk dicari, dan harganya mahal (Ihsanuddin, 2020).

Menteri Kesehatan, dr. Terawan berulang kali mengatakan bahwa sebaiknya yang menggunakan masker adalah orang yang sakit. Orang yang sehat tidak dianjurkan menggunakan masker. Mengapa demikian? Karena akan percuma saja jika orang yang sehat memakai masker namun berdekatan dengan penderita yang tidak menggunakan masker (bisa jadi karena ia kehabisan masker). Orang yang sehat pun akan tetap tertular, apalagi dengan penggunaan masker, ia akan lebih sering menyentuh wajahnya. Orang sehat sebaiknya menjaga sistem imunitas tubuhnya. Jadi sebaiknya kita bijak dalam penggunaan masker, yaitu jika kita sedang mengalami batuk dan flu, sebab dikembalikan lagi tujuan penggunaan masker, yaitu mencegah penularan dari orang yang sakit ke orang yang sehat (Ihsanuddin, 2020; Raharjo & Sari, 2020).

 

2.  Perilaku mencuci dan membersihkan tangan

Salah satu cara pencegahan virus Covid19 adalah dengan sering mencuci tangan. Perilaku ini sebetulnya merupakan perilaku positif. Semakin banyak jumlah orang yang mencuci tangan seharusnya semakin bagus, yang artinya semakin banyak jumlah orang yang peduli terhadap kesehatan dirinya dan orang lain. Akan tetapi, seperti yang sudah diketahui, sesuatu yang ekstrim bukanlah hal yang baik. Efek negatif dari semakin sering dan semakin banyak orang yang mencuci dan menjaga kebersihan tangan adalah persediaan hand sanitizer dan tisu basah yang semakin menipis di peredaran. Bahkan ada penumpang yang sampai mengambil botol hand sanitizer di KRL (Alam, 2020) dan ada pengumuman di KRL mengenai larangan mengisi ulang hand sanitizer dari botol yang disediakan di stasiun (pengumuman ini terjadi karena isi botol hand sanitizer cepat habis, disebabkan banyak orang yang mengisi ulang hand sanitizer di tempat umum) (Azizah, 2020). Nah ini merupakan perilaku baru, di mana ada individu-individu yang berusaha mendapatkan hand sanitizer dengan segala cara, termasuk mengambilnya di tempat-tempat umum, sehingga merugikan banyak pihak.

Lagipula sebaiknya mencuci tangan itu menggunakan sabun dan air yang mengalir, hand sanitizer tidak benar-benar efektif membunuh kuman, apalagi kalau cara mencuci tangannya kurang tepat. Terlalu sering mencuci tangan juga bisa membuat kulit menjadi kering. Maka sewajarnya saja mencuci tangan, dan usahakan menggunakan sabun, air yang mengalir, serta cara yang tepat seperti yang sudah banyak beredar.

 

3.  Perilaku membatasi jarak dengan orang lain

Pertanggal 15 Maret 2020, untuk mencegah penyebaran virus Covid19 yang lebih meluas, pemerintah mengumumkan bahwa setiap warga sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah dan menjaga jarak antar individu sekitar 2 meter, hal ini disebut dengan istilah social distance. Istilah social distance bukanlah hal yang baru, Sherif dan Sherif (1969) menyatakan bahwa social distance merupakan perilaku  yang membatasi kontak langsung antar individu. Menurut American Psychological Association (2020), social distance akan memberikan efek negatif kepada para individu yang melakukannya, yaitu mereka akan merasa takut, cemas, depresi, bosan, marah, frustrasi, terluka, dan bahkan mengalami stigma atau memberikan stigma kepada orang lain.

 

Oleh karena kebijakan pemerintah mengenai social distance ini ditanggapi berbagai instansi (misalnya dengan mengeluarkan kebijakan work from home, pembelajaran jarak jauh, penutupan sementara tempat wisata, penundaan/pembatalan kegiatan yang melibatkan banyak orang, serta pengurangan frekuensi moda transportasi massal), maka selama beberapa hari terakhir social distance sudah mulai terjadi di berbagai belahan dunia. Sesuai saran American Psychologycal Association (2020), agar efek negatif social distance tidak terjadi atau diminimalisir, maka individu dapat melakukan:

a.    Membatasi konsumsi berita, terutama yang menambah stres dan panik

b.    Beraktivitas rutin seperti biasa/mencari kesibukan lain yang dapat dikerjakan di rumah/mengerjakan hal-hal yang selama ini tertunda karena jarang berada di rumah

c.    Tetap menjalani hubungan virtual (online) dengan individu lain

d.    Menjaga kesehatan

e.    Berpikiran positif dan mengupayakan untuk menghidari stres

Berdasarkan penjelasan di atas, maka semua perilaku itu memang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Covid19, namun jangan dilakukan terlalu ekstrim. Kuncinya: TETAP WASPADA namun JANGAN PANIK. Yang terpenting di manapun kita berada (untuk mencegah penularan virus) adalah dengan tidak meludah sembarangan dan menutup mulut ketika batuk atau bersin dengan tisu/siku. Semoga dengan melakukan perilaku-perilaku tersebut secara wajar, kita bisa terhindar dari wabah Covid19 dan wabah ini cepat berlalu, Amin.

 

Referensi:

 

Alam, S. O. (2020, Maret 6). Duh! Sudah dilem, botol hand sanitizer di KRL Bogor ini tetap hilang. Detik Health. Diunduh dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4928256/duh-sudah-dilem-botol-hand-sanitizer-di-krl-bogor-ini-tetap-hilang

 

American Psychological Association. (2020). Keeping your distance to stay safe. APA.org. Diunduh dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/research-information/social-distancing

 

Azizah, K. N. (2020, Maret 4). Parah! Hand sanitizer di tempat umum boros, tak tahunya buat refill. Detik Health. Diunduh dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4925416/parah-hand-sanitizer-di-tempat-umum-boros-tak-tahunya-buat-refill

 

Basith, A. (2020, Maret 2). Breaking news: Jokowi umumkan dua pasien di Indonesia positif terjangkit virus corona. Kontan.co.id. Diunduh dari https://nasional.kontan.co.id/news/presiden-jokowi-dua-orang-pasien-di-indonesia-positif-terjangkit-virus-corona?page=all

 

Ihsanuddin. (2020, Maret 15). Harga masker tinggi, Menkes: Salahmu sendiri kok beli. Kompas.com. Diunduh dari https://nasional.kompas.com/read/2020/02/15/17364441/harga-masker-tinggi-menkes-salahmu-sendiri-kok-beli.

 

Putri, G. S. (2020, Maret 12). Virus Corona pandemic global, ini 6 pandemik terburuk sepanjang sejarah. Kompas.com Diunduh dari http://www.kompas.com/sains/rad/2020/03/12/20200423/virus-corona-pandemi-global-ini-6-pandemik-terburuk-sepanjang-sejarah?page=all#page3

 

Raharjo, D.B., & Sari, R. R. N. (2020, Maret 2). Menkes Terawan: Masker untuk orang sakit, yang penting imunitas tubuh. Suara.com. Diunduh dari https://www.suara.com/news/2020/03/02/192356/menkes-terawan-masker-untuk-orang-sakit-yang-penting-imunitas-tubuh

 

Sherif, M., & Sherif, C. W. (1969). Social psychology. New York: Harper & Row.

 

Worldmeter. (2020, Maret 17). Covid-19 Coronavirus outbreak. Worldmeter. Diunduh dari: https://www.worldometers.info/coronavirus/