ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Tatkala Rumah-Kantor Lebur:Work From Home tanpa Burnout

 

Oleh

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Sementara pemerintah menggencarkan bekerja dari rumah (work from home) untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, Rash (2020) menurunkan artikel: bagaimana caranya organisasi melakukan hal ini secara efektif? Dirinya menggarisbawahi bahwa organisasi perlu mengambil pendekatan yang tak hanya cepat, mengingat dunia berkejar-kejaran dengan kecepatan virus, tetapi juga tetap proaktif dan fleksibel. Sementara organisasi fokus pada isu teknis, seperti kesiapan infrastruktur komunikasi dan koordinasi, kita perlu juga untuk melihat dari isu non teknis terkait perilaku. McGee (2020) merangkum ini dengan kalimat yang menarik: pandemi ini memaksa pemerintah, dunia bisnis, konsumen juga pekerja untuk mengajukan pertanyaan mendasar: apakah gaya hidup kita saat ini benar-benar bisa berlanjut?

 

Work from home menyebabkan batas antara kantor dengan rumah menjadi runtuh. Padahal Zijlstra dan Sonnentag (2006) berpendapat bahwa selama dekade terakhir, justru masyarakat semakin sadar bahwa hidup yang sehat adalah ketika kerja dan kehidupan pribadi ada secara seimbang. Mereka berpendapat bahwa pemulihan (recovery) mencakup kemampuan seseorang untuk melepaskan kemelekatan psikologis terhadap pekerjaan (psychological detachment from work) dengan cara mengelola waktu-setelah-bekerja (“after-work time”). Ketika rumah praktis menjadi kantor akibat work from home, titik keseimbangan ini menjadi rentan terganggu.

 

Kita mengetahui bahwa keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi yang biasa dikenal work-life balance telah lama menjadi kajian psikologi. Burn (2015) berpendapat bahwa manusia butuh waktu untuk mengembangkan diri-di-luar-pekerjaan (“non-work selves”) antara lain untuk berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan komunitas.  Lebih lanjut lagi, dirinya menambahkan bahwa organisasi yang mendukung work-life balance bisa mencegah pegawai mengalami burnout – yang ditandai dengan kelelahan (fisik, mental maupun emosi), bersikap sinis (memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan, manajemen dan rekan kerja) serta mengalami penurunan efikasi (merasa bahwa usaha atau pekerjaannya tak berarti) sampai merasa kesepian dan sendiri

 

Maslach dan Leiter (2016) menjelaskan bahwa burnout rentan terjadi utamanya pada profesi yang berorientasi pada manusia (people-oriented professions) dimana kontak kerja berlangsung baik pribadi dan emosional, kebutuhan orang lain diutamakan dibandingkan diri sendiri, jam kerja terbilang panjang, tuntutan tinggi dan sumber daya (resources) terbatas.  Manakala kantor dipindahkan ke rumah, hal-hal ini akan rentan terjadi karena kita kehilangan jarak psikologis antara tempat kerja dan tempat istirahat.

 

Menghadapi situasi ini, ada baiknya kita yang lazim jadi “orang kantoran” belajar pada rekan-rekan kita di bidang industri kreatif (creative industry) dan para pekerja pengetahuan (knowledge workers) yang memang berkecimpung di gig economy dimana kerja berlangsung dimana saja.  Dengan melakukan wawancara mendalam dengan para gig workers ini, Petriglieri, Ashford dan Wrzesnieswki (2018) menemukan bahwa sementara mempertahankan produktivitas (sustaining productivity) merupakan perjuangan yang tak mudah, salah satu cara menjaga kesimbangan adalah dengan menetapkan tempat dan waktu kerja yang spesifik, membangun rutinitas secara konsisten dan selalu berpegang pada tujuan: untuk apa kita bekerja?

 

Transisi tergesa dari kerja di kantor menjadi kerja dari rumah membuat Centers for Disease Control and Prevention mengeluarkan petunjuk berikut yang bisa diterapkan bagi mereka yang kini harus bekerja di rumah: (1) Perhatikan tubuh anda dengan makan makanan bergizi, olahraga teratur dan tidur cukup; (2) Atur waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang disukai, serta (3) Bangunlah hubungan dengan orang lain untuk mendiskusikan hal-hal yang anda pikirkan dan rasakan. (CDC, 2020). Tips ini ternyata serupa dengan strategi membangun work-life balance.

 

Pada dasarnya wellbeing atau kesejahteraan paripurna bertumpu pada kemampuan seseorang untuk mengelola dirinya sendiri (self-regulation). Menggunakan regulasi diri, seseorang dapat merencanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan mengadaptasikan kondisi-kondisi internal dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam lingkungan yang serba berubah dan penuh tuntutan (Gagnon, 2016). Ketika rumah berubah jadi kantor, tuntutan keluarga berjalin berkelindan tumpang tindih dengan tuntutan kantor, sementara situasi di luar sana serba tak pasti akibat pandemi, yang bisa kita kelola dengan self-regulation tak lain dan tak bukan adalah diri sendiri.

 

Referensi

 

Burn, S.M. (2015). How’s your work-life balance? Psychology Today dipublikasikan 7 September dan dapat diakses melalui https://www.psychologytoday.com/us/blog/presence-mind/201509/hows-your-work-life-balance

Center for Disease Control and Prevention (2020). Stress and Coping dipublikasikan 14 Maret dan dapat diakses melalui https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/managing-stress-anxiety.html

Gagnon, M.J., Durand-Bush, N. & Young, B.W. (2016). Self-regulation capacity is linked to wellbeing and burnout in physicians and medical students: Implications for nurturing self-help skills. International Journal of Wellbeing 6 (1), hal. 101-116. doi:10.5502/ijw.v6i1.425

Rash, W. (2020). How to prepare for the coronavirus from home requirement Forbes dipublikasikan 13 Maret dan dapat diakses melalui https://www.forbes.com/sites/waynerash/2020/03/13/how-to-prepare-for-the-coronavirus-work-from-home-requirement/#10c3d0465cbf

Maslach, C. & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry. 15 (2). Hal 103-111.

McGee, L. (2020). Self-isolate or get paid? That’s the choice for gig workers in a virus outbreak, and it’s a big problem for the rest of us. CNN dipublikasikan 8 Maret dan dapat diakses melalui https://edition.cnn.com/2020/03/08/uk/coronavirus-gig-economy-gbr-intl/index.html

Petriglieri, G., Ashford, S.J.  & Wrzesnieswki, A. (2018). Thriving in the gig economy Harvard Business Review edisi Maret-April dan dapat diakses melalui https://hbr.org/2018/03/thriving-in-the-gig-economy

Zijlstra, F.R.H. & Sonnentag, S. (2006). After work is done: Psychological perspective on recovery from work. European Journal of Work and Organizational Psychology, 15 (2), hal. 129-138. doi: 10.1080/13594320500513855