ISSN 2477-1686

Vol.2. No.4.Februari 2016

Servant Leadership 

Endro Puspo Wiroko

Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

 

Seorang CEO dari salah satu perusahaan besar di Indonesia berbicara dalam talkshow di radio yang sering saya dengarkan sehari-hari. Beliau berkata: “Dalam keseharian pekerjaan sebagai direktur utama, saya mengaplikasikan apa yang disebut dengan Servant Leadership. Menurut konsep ini, saya sebagai direktur utama justru jangan minta dilayani melainkan saya harus melayani segenap karyawan dari seluruh divisi yang saya pimpin. Pemimpin itu melayani, bukan dilayani. Itu intinya.”. Frasa Servant Leadership masih awam di telinga saya, bahkan saya menyangka itu konsep baru. Sangat tertarik dengan frasa tersebut, sesampainya di tempat kerja, saya langsung mencari informasi tentang konsep tersebut.

Pemimpin Sebagai Role Model Dalam Melayani

Servant leaders dijelaskan sebagai para pemimpin yang menempatkan kebutuhan, aspirasi, dan minat anggota kelompok di atas kepentingannya sendiri (Greenleaf dalam Sendjaya & Sarros, 2002). Para pemimpin ini membentuk anggota kelompoknya untuk lebih bijaksana dan selanjutnya juga dididik untuk menjadi pelayan yang berguna untuk orang lain. Melayani menjadi landasan yang utama, selain memimpin proses kerja. Servant leaders bukanlah orang-orang dengan jabatan ternama, gaji tertinggi, masa kerja terlama, akan tetapi mereka adalah panutan, pengambil resiko, dan pendukung pengembangan diri positif dari anggota kelompoknya.

Aspek-Aspek Servant Leadership

Spears (2004) menyebutkan bahwa apabila seorang pemimpin ingin menerapkan konsep Servant Leadership, maka ada beberapa aspek yang perlu dilakukan, diantaranya:

1.     Listening. Pemimpin harus secara berkala bertemu dan mendengarkan aspirasi anggota kelompoknya untuk kemudian menyerapnya dan menjadikanaspirasi tersebut sebagai bahan refleksi diri guna menyusunlangkah kerja yang lebih baik.

2.      Empathy. Pemimpin harus mampu memahami kondisi yang sedang dirasakan oleh orang lain.

3.      Healing. Pemimpin harus mampu menyelesaikan permasalahan emosional yang dialami oleh diri sendiri dan orang lain.

4.    Awareness. Pemimpin harus peka menangkap hal-hal penting yang muncul di sekitar lingkungannya.

5.   Persuasion. Pemimpin harus mudah meyakinkan anggotanya terkait keputusan yang diambil.

6.      Conceptualization. Pemimpin harus mampu menggabungkan antara konsep dan aplikasi praktis dengan baik.

7.     Foresight. Pemimpin harus mampu mengambil hikmah yang terjadi di masa lalu dan yang sedang terjadi saat ini untuk dijadikan masukan dalam menghadapi masa depan.

8.  Stewardship. Pemimpin harus menumbuhkan rasa saling percaya dalam tim yang dilandasi etika.

9.  Commitment to the growth of people. Pemimpin harus mampu melihat potensi positif setiap anggotanya untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga semua orang dapat berkontribusi maksimal dalam mencapai tujuan tim.

10.   Building community. Pemimpin harus mampu membangun kebersamaan antar anggota tim yang dibentuk melalui berbagai komunitas internal dan juga menjalin hubungan baik dengan pihak-pihak di luar organisasi dengan mambangun atau mendukung komunitas yang sejalan dengan kepentingan mereka.

Sebagai Pemimpin Sudahkah Anda Melayani?

Setelah sedikit memahami tentang Servant Leadership, di waktu luang saya menghubungi eks anggota tim saya di tempat saya pernah bekerja sebelumnya dan juga beberapa rekan manager yang biasa bekerjasama dengan saya. Saya meminta mereka semua jujur berkomentar, toh saya sudah tidak ada kepentingan apa-apa di perusahaan tersebut. Alhamdulillah, tentang sejauh mana “kemampuan melayani” yang pernah saya tampilkan, saya banyak mendapat masukan dari mereka mulai dari yang sudah positif sampai hal-hal yang membuat senyum, tertawa, atau justru bahkan kaget karena ada penilaian tertentu yang diberikan kepada saya. Secara umum, saya cukup puas dengan apa yang sudah saya lakukan dan tentunya masih banyak hal-hal yang perlu dikembangkan dalam diri saya.Selanjutnya, saya kembalikan kepada Anda yang saat ini menjabat sebagai pemimpin dalam konteks organisasi apapun: direktur perusahaan, manager departemen, wirausaha yang membawahi sejumlah pekerja, kepala daerah, ketua komunitas hobi, rektor dan wakil rektor universitas, bahkan dekan dan wakil dekan fakultas, manakah yang lebih banyak Anda lakukan dalam memimpin: dilayani atau melayani?

Referensi:

Sendjaya, Sen & Sarros, James C. (2002). Servant Leadership: Its Origin, Development, and Application in Organizations. Journal of Leadership and Organization Studies, Vol 9 No 2.

Spears, Larry C. (2004). Practicing Servant Leadership. Leader to Leader. 34 (Fall 2004) 7-11.