ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 01 Januari 2020

 

Jangan Katakan “Jangan!”, Benarkah?

 

Oleh

Subhan El Hafiz

Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

 

Saat ini, efek Psikologi Positif cukup banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satunya yang seringkali salah kaprah terkait dengan berkembangnya larangan untuk mengucapkan kata “Jangan!”, terutama pada anak-anak. Kata tersebut dianggap akan menjadikan tantangan bagi anak untuk malah mengerjakannya atau sebaliknya menjadikan anak kehilangan inisiatif dalam bertindak karena sudah ditakuti dengan “Jangan!”.

Benarkah asumsi tersebut? Mari kita bahas secara ilmiah sesuai konsep Psikologi bukan sekedar menolak menggunakan “common sense” atau konsep yang lain. Kenapa Psikologi? Karena ‘larangan’ menggunakan kata “Jangan!” banyak diambil dari kajian Psikologi, sehingga akan lebih baik jika tanggapannya pun dari teori yang setara.

 

Pendekatan Behavioristik

Salah satu konsep yang cukup tua dalam Psikologi adalah teori behaviour yang menawarkan dua konsep utama, yaitu hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Perkembangan lebih lanjut, hadiah dan hukuman juga berkembang tidak hanya saat itu tetapi juga terkait dengan konsekuensi dimasa yang akan datang. Pada perkembangannya, hadiah juga berupa positive consequence (berakibat positif) dan larangan berupa negative consequence (berakibat negatif). Hadiah bersifat menyenangkan dan diinginkan sedangkan hukuman bersifat menyakitkan dan dihindari.

Masalahnya, banyak orang salah dalam menggunakan konsep hadiah dan hukuman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Konsep dasar teorinya, hadiah digunakan untuk membentuk perilaku sedangkan hukuman digunakan untuk menghilangkan perilaku. Nah, kesalahan umum yang terjadi adalah hukuman digunakan untuk membentuk perilaku. Akibatnya, perilaku yang diharapkan tidak muncul sedangkan perilaku lain yang bersifat negatif malah berkembang. Misalnya, saat anak dimarahi (salah satu bentuk hukuman) karena mencoret-coret dinding rumah, apakah akan terbentuk perilaku menggambar di buku? Jawabannya: tidak, karena perilaku mencoret dinding rumah mungkin hilang atau berkurang (tergantung pada efek/jenis hukuman) tetapi pada saat yang sama bisa jadi membuat anak tidak lagi berminat menulis atau menggambar. Pada contoh ini kita bisa lihat efek hukuman untuk menghilangkan perilaku namun tidak membentuk perilaku.

 

Lain halnya jika anak dilarang untuk mencoret dinding dengan konsekuensi hukuman (negative consequence) dan disaat yang sama ditawari hadiah (positive consequence) jika menggambar di buku gambar. Pola ini akan jauh lebih efektif membentuk perilaku (menggambar di buku) dan disaat yang sama menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan (mencoret dinding). Tentu saja kualitas dan kuantitas dari hukuman dan hadiah harus disesuaikan agar seimbang. Begitu juga untuk menjaga agar perilaku baru bertahan lama, modifikasi lebih lanjut perlu digunakan.

 

Perlukah tetap melarang?

Jawabannya tetap perlu, karena efek dari hukuman jauh lebih besar daripada hadiah. Penelitian tentang Psikologi Agama dapat menjelaskan hal ini dimana dampak hukuman dari Tuhan, seperti: konsep Dosa, Neraka, dan Kemarahan Tuhan efektif mempengaruhi perilaku manusia beragama. Misalnya penelitian dari Shariff dan Norenzayan (2011) yang menunjukkan bahwa konsep hukuman Tuhan dapat mengurangi perilaku mencontek siswa. Tidak hanya bersifat menghilangkan perilaku, konsep Ancaman Tuhan juga dapat meningkatkan perilaku prososial (Saleam, Moustafa, & Carney, 2016) dan kerjasama (Yilmaz & Bahçekapili, 2016).

Mengapa hal ini bisa terjadi padahal konsepnya adalah hukuman, bagaimana hukuman bisa membentuk perilaku? Jawabannya dalam ajaran agama nilai “menolong” dan “kerjasama” sudah banyak diajarkan. Artinya, penggunaan ancaman dengan larangan dapat efektif membentuk perilaku manakala perilaku yang diharapkan sudah jelas. Sesuai dengan penelitian di atas, dalam agama seringkali diajarkan “tidak boleh egois” dan “tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri”. Dengan demikian dua perilaku “tidak boleh” ini menghilang bersamaan dengan perilaku yang diharapkan meningkat.

Peningkatan perilaku akibat penggunaan konsep hukuman yang lebih besar dari hadiah dapat dijelaskan menggunakan konsep “lost aversion”. Konsep ini ditawarkan oleh Kahneman, salah satu ilmuan besar Psikologi dalam bidang kognitif, yang membuktikan bahwa rasa kehilangan memiliki dampak lebih besar daripada harapan. Contohnya, rasa takut kehilangan 100ribu rupiah lebih besar dampaknya terhadap perilaku daripada rasa senang ditawari 200ribu rupiah. Anda bisa lakukan eksperimen kecil untuk membuktikan hal ini.

 

Bagaimana mengelola kata “Jangan!”?

Walaupun dampak dari larangan, yang disertai hukuman dimasa yang akan datang, lebih kuat namun jika digunakan tidak tepat akan mengakibatkan lebih banyak perilaku tidak diharapkan yang muncul daripada perilaku yang diharapkan, sehingga menggunakan kata “Jangan!” harus memperhatikan beberapa hal penting, diantaranya perilaku apa yang diharapkan dan perilaku apa yang ingin dihilangkan. Pastikan untuk mengetahui dengan jelas detail perilaku yang dituju dan jangan terlalu umum.

Jika anda sudah membiasakan untuk memberi hadiah untuk perilaku yang diharapkan maka larangan akan lebih efektif walaupun tidak langsung disertai dengan hadiah. Misalnya, anda sudah terbiasa memberi bonus untuk karyawan yang datang tepat waktu atau guru sudah terbiasa mengapresiasi siswa yang datang sebelum jam pelajaran dimulai, maka ancaman, misalnya potong gaji atau pengurangan nilai, akan lebih efektif dan efisien dalam membentuk perilaku baru datang tepat waktu. Jika tidak, ancaman hanya akan memunculkan perilaku yang tidak sesuai, misalnya mendorong siswa memilih tidak masuk kelas atau karyawan memilih pindah tempat kerja.

Jadi, menutup pembahasan ini penggunaan larangan seperti kata “Jangan!” harus diimbangi dengan deskripsi yang jelas dari perilaku yang seharusnya dilakukan. Untuk menguatkan efek dari larangan tersebut, perilaku yang diharapkan perlu dilengkapi dengan hadiah terhadap perilaku tersebut. Jadi, JANGAN lupa untuk MEMPERHATIKAN perilaku yang akan dihilangkan dan perilaku yang akan dimunculkan