ISSN 2477-1686

Vol.2. No.4.Februari 2016

Soulmate: Mitos Atau Kenyataan 

Yonathan Aditya Goei

Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan

Bermula dari Kisah Plato

Dengan semakin tingginya angka perceraian dan semakin rendahnya kepuasan pernikahan pasangan yang masih menikah, banyak orang merindukan pasangan yang dapat membuat mereka berbahagia. Tidak mengherankan konsep soulmate semakin populer. Soulmate merupakan konsep yang pertama kali dikemukakan oleh Plato. Plato mengatakan pada jaman dahulu kala ada makhluk androgini, yaitu mahluk yang merupakan kesatuan dari pria dan wanita dalam satu tubuh. Mahluk ini sangat kuat dan berusaha melawan kekuasaan para dewa sehingga para dewa ketakutan. Oleh karena itu Zeus lalu memotong mereka menjadi dua, sehingga dalam satu tubuh hanya ada satu jenis kelamin. Mahluk yang terpisah ini menjadi lemah dan tidak akan tenang sampai menemukan pasangannya. Begitu mereka menemukan pasangan mereka, mereka akan merasa senang tetapi mereka juga tidak mau berpisah lagi  yang akan membawa mereka menuju kematian.

Apa itu Soulmate?

Konsep Plato tentang soulmate ini terus berkembang hingga saat ini. Soulmate ini mempunyai arti yang beragam, tapi intinya soulmate menggambarkan seseorang yang dapat membuat hidup  menjadi lengkap, dapat mencintai lebih dari siapapun dan bisa menerima dalam kondisi apapun. Bach (2016) mendefinisikan soulmate sebagai seseorang yang mempunyai kunci yang cocok dengan anak kunci kita dan anak kunci yang cocok dengan kunci yang kita miliki. Pendek kata soulmate adalah seseorang yang membuat kita merasa nyaman sehingga  kita berani menampilkan diri apa adanya dan mengembangkan potensi yang kita miliki.

Gambaran soulmate diatas tentu saja merupakan representasi  pasangan hidup yang didambakan oleh hampir semua orang dan memang seseorang yang bisa memenuhi kriteria soulmate diatas akan menjadi pasangan hidup yang ideal. Hanya saja yang perlu ditanyakan adalah apakah konsep soulmate ini realistis. Untuk bisa menjawab hal ini, adalah penting  untuk meneliti asumsi dibalik konsep soulmate ini.

Soulmate antara Perasaan dan Logika

Konsep soulmate ini menganggap ada satu orang diluar sana yang diciptakan untuk menjadi pasangan hidup dan oleh karena itu pasti cocok. Sekalipun terdengar baik tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sarana apa yang dipakai untuk menilai apakah seseorang yang dijumpai itu soulmate dan kecenderungan untuk mempunyai harapan yang tidak realistis mengenai pernikahan.

Mereka yang percaya pada soulmate tentu harus mempunyai alat yang dipakai untuk menentukan apakah orang yang mereka sukai itu soulmate atau tidak. Kalau sarana yang dipakai untuk menilai dapat Dipertangungjawabkan, misalnya melalui pertimbangan rasional, resiko untuk salah menilai dapat dikurangi. Sayangnya sebagian besar mereka yang percaya pada konsep ini lebih banyak menggunakan perasaan untuk menilai. Padahal perasaan bukanlah alat ukur yang bisa dipercaya. Hal ini khususnya terjadi pada mereka yang mempunyai pola attachment yang tidak sehat, latar belakang keluarga yang bermasalah, atau pengalaman traumatis yang lain.

Selain itu, mereka yang percaya pada konsep soulmate mengharapkan  pernikahan mereka akan lancar. Mereka sudah menikah dengan orang yang memang diciptakan untuk mereka, oleh karena itu sudah seharusnya pernikahan mereka mulus. Padahal tidak ada pernikahan yang tanpa masalah. Dua orang yang berasal dari keluarga berbeda, jenis kelamin yang berbeda, kepribadian yang tidak sama, kebiasaan yang berbeda, tidak mungkin tidak mengalami konflik. Begitu mengalami konflik mereka akan mulai meragukan apakah benar pasangan yang dinikahi itu soulmate. Mereka kemudian mulai berpikir mungkin mereka salah pilih, yang berarti pula soulmate merka masih ada diluar sana dan harus segera dicari. Tidak heran jika mereka bisa mengakhiri hubungan mereka guna menemukan soulmate yang sesungguhnya.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa konsep soulmate ini bisa membawa akibat yang cukup fatal jika tidak diterapkan dengan berhati-hati. Sekalipun tidak berarti konsep ini tidak mempunyai aspek positip. Konsep bahwa Tuhan sudah menyiapkan pasangan bisa membuat seseorang lebih tenang karena merasa Tuhan tidak meninggalkan mereka dalam usaha pencarian pencarian teman hidup ini. Tentu saja jika diterapkan dengan bijaksana.

Tiga Kriteria dalam memilih Soulmate

Kembali ke pertanyaan awal, apakah sebenarnya konsep soulmate ini mitos atau realita. Terlebih lagi, beberapa agama sepertinya mempunyai konsep yang mirip dengan konsep soulmate ini. Menurut penulis yang lebih penting bukanlah menjawab pertanyaan ini tapi bagaimana menyikapi konsep ini dengan baik. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan/ mengurangi efek negatip dari soulmate seperti yang disebutkan diatas, yaitu kriteria yang dipakai untuk menentukan siapa yang menjadi soulmate dan harapan tentang pernikahan.

Alat  yang dipakai untuk menentukan apakah seseorang adalah soulmate atau tidak sangat penting. Menggunakan alat yang salah dalam menentukan keputusan penting ini dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Perasaan jelaslah bukanlah alat yang baik untuk dipakai karena perasaan tidak sepenuhnya dapat dipercaya apalagi perasaan mereka yang sedang jatuh cinta. Oleh karena itu pikiran/rasio haruslah dipakai sebagai penentu. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus dipertimbangkan dalam penentuan soulmate ini. Paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk penentuan ini yaitu: tujuan pernikahan, pengenalan terhadap diri sendiri, dan pengenalan pasangan.

Tujuan pernikahan memegang peranan penting dalam menentukan apakah seseorang adalah soulmate atau tidak. Tujuan pernikahan ini tidak selalu sama untuk semua orang. Dilain pihak tujuan pernikahan ini banyak menentukan penilaian apakah seseorang cocok atau  tidak. Tujuan pernikahan yang berbeda tentu membutuhkan kriteria pasangan hidup yang berbeda pula. Misalnya seseorang yang menikah untuk menjalankan misi Tuhan dalam hidupnya tentu membutuhkan pasangan yang berbeda dengan orang yang menikah untuk membuatnya menjadi kaya.

Setelah seseorang tahu tujuan pernikahannya mereka perlu mengenal diri mereka dengan baik. Mereka perlu tahu siapa diri mereka sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangan mereka, bahasa kasih, trait, pola attachment, dan sebagainya. Dengan mengenal diri mereka dengan baik mereka bisa memilih pasangan yang cocok dengan lebih baik. Yang dimaksud dengan pasangan yang cocok disini adalah pasangan yang dapat membantu mereka memenuhi tujuan pernikahan.

Poin terakhir yang perlu diperhatikan adalah pengenalan pasangan dengan baik. Pengenalan yang baik ini diperlukan untuk menilai apakah pasangan mereka merupakan orang yang kompatibel dan dapat membantu mencapai tujuan pernikahan.

Mari Temukan Soulmate yang Tepat

Seseorang yang menggunakan tiga poin diatas dalam pemilihan pasangan diatas kemungkinan dapat menemukan pasangan dengan lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang memilih hanya berdasarkan perasaan. Hal ini karena pemilihan merka lebih rasional sehingga lebih dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu tidak peduli apakah seseorang percaya atau tidak percaya pada konsep soulmate kemungkinan besar mereka akan dapat menemukan pasangan yang tepat jika mereka memperhatikan tiga poin diatas.

Referensi 

Bach, R. (1989). The bridge across forever: A true love story. New York, NY: Dell Publishing

Cloud,H., & Townsend, J. (1995). Safe people. Grand Rapids, MI: Zondervan.

Franiuk, R., Cohen, D., & Pomerantz, E. M. (2002). Implicit theories of relationships: Implications for relationship satisfaction and longevity. Personal Relationships, 9, 345-367.

Franiuk, R., Shain, E. A., Bieritz, L., & Murray, C. (2012). Relationship theories and relationship violence: Is it beneficial to believe in soulmates? Journal of Social and Personal Relationships, 29, 820-838.

Miller, S.R. (2015). Intimate Relationships 7th ed, New York, NY: McGraw-Hill.

Whitfield, C.L. (2012). Wisdom to know the difference: Core issues in relationships, recovery, and living. Philadelphia, PA: Muse House Press.