ISSN 2477-1686

Vol.5 No. 22 November 2019

Mengatasi Anak Temper Tantrum

 

Oleh

 

Inosensia Novalin dan Selviana

 

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Temper Tantrum Pada Anak

 

Masa keemasan anak berkisar pada usia 1-3 tahun atau dikenal sebagai anak usia toddler. Pada periode ini, anak berusaha mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana mengontrol orang lain melalui kemarahan, penolakan dan tindakan keras kepala. Hal ini merupakan periode yang sangat penting untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan intelektual secara optimal. Dalam proses perkembangan, anak usia toddler biasanya sudah mulai mengerti apa yang diinginkan namun terkadang sulit untuk mengungkapkannya, sehingga anak usia toddler cenderung mengalami temper tantrum.

 

Temper tantrum merupakan ledakan emosi yang dilakukan seorang anak. Biasanya dengan cara seperti berteriak, menangis, kadang menyakiti diri sendiri bahkan orang lain. Banyak hal yang menjadi penyebab anak mengalami temper tantrum, salah satunya karena menumpuknya emosi anak dan akhirnya meledak, bisa karena anak lapar, haus, mengantuk atau saat keinginan anak tidak dipenuhi.

 

Menurut Salkind (2002) temper tantrum adalah perilaku mengganggu dalam bentuk luapan kemarahan yang bisa bersifat fisik (memukul, menggigit, mendorong) maupun verbal (menangis,berteriak, merengek) atau terus menerus merajuk. Umumnya anak usia toddler mengalami temper tantrum karena pada awalnya anak sudah memiliki keinginan, namun pada saat itu anak belum bisa menggunakan kata dalam mengungkapkan keinginannya. Sementara itu, menurut Hasan (2011) temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Kejadian ini seringkali muncul pada anak usia 15 bulan sampai 5 tahun. Temper tantrum terjadi pada anak yang aktif dengan energi yang melimpah. Biasanya anak yang aktif ingin melakukan banyak hal, sehingga ketika diberi batasan anak akan kecewa misalnya ketika ia masih ingin terus bermain tapi diminta untuk tidur. Pendapat lain yang diungkapkan oleh Fetsch & Jacobson (2013) bahwa temper tantrum adalah masalah perilaku yang umum pada anak-anak prasekolah yang mengekspresikan kemarahan mereka dengan berbaring di lantai, menendang, menjerit, dan sesekali menahan napas. Temper tantrum adalah hal yang alami, terutama pada anak-anak yang belum dapat menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan frustrasi mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa temper tantrum merupakan ledakan emosi yang kuat dan tidak terkontrol baik secara fisik (memukul, menggigit, mendorong, menendang, dsb) maupun verbal (menangis, berteriak,merengek) yang umumnya terjadi pada anak-anak prasekolah atau usia 1-3 tahun.

 

Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak belajar menyampaikan keinginannya dengan baik. Apabila dari awal orang tua mengabaikan sikap temper tantrum anak dan tidak membantu anak mengelola emosinya, dikhawatirkan anak akan selalu menunjukkan sikap temper tantrum dan anak akan menjadikannya sebagai strategi bahkan berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan, hal ini dapat terus berlangsung hingga mereka dewasa, anak menjadi tidak belajar mengontrol diri dan berpikir bahwa semua hal bisa dipaksa untuk didapatkan.  

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Temper tantrum

 

Menurut Hasan (2011) faktor-faktor terjadinya temper tantrum adalah:

 

a) Terhalangnya keinginan anak untuk mendapatkan sesuatu

 

     Biasanya anak sudah memiliki keinginan-keinginan, seperti membeli mainan dan    sebagainya. Jika keinginannya tidak terpenuhi, hal itu akan mempengaruhi munculnya perilaku temper tantrum pada anak.

 

b) Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri

 

    Hal ini terjadi karena keterbatasan bahasa atau anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan atau keinginannya.

 

c) Tidak terpenuhinya kebutuhan

 

    Contohnya bila anak merasa haus namun tidak segera diberi minum atau ketika anak lapar tidak segera diberi makan.

 

d) Anak merasa lapar, lelah, atau dalam keadaan sakit

 

    Ketika anak merasa lapar, lelah atau dalam keadaan sakit membuat anak tidak dapat mengungkapkan perasaannya dengan baik dan tidak dapat mengontrol emosinya dengan baik.           

 

e) Anak sedang stres dan merasa tidak aman

 

    Anak yang sedang stres dan tidak merasa aman tidak dapat mengatasi perasaannya sehingga muncul perilaku temper tantrum.

 

Bentuk-bentuk perilaku Temper tantrum

 

Hasan (2011) meguraikan manifestasi temper tantrum dalam berbagai perilaku menurut tingkatan usia antara lain:

 

a) Kurang dari 3 tahun (1-3 tahun)

 

    Menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan nafas, membenturkan kepala, melempar barang.

 

b) 3-4 tahun

 

    Memunculkan perilaku seperti perilaku pada usia kurang dari 3 tahun namun ditambah menghentakkan kaki, berteriak, meninju, membanting pintu, merengek.

 

c) Lebih dari 5 tahun

 

    Memunculkan perilaku pada umur  1-4 tahun juga ditambah memaki, menyumpah, memukul, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja, mengancam.­­

 

Saran Praktis Untuk Mengatasi Anak temper tantrum

 

Beberapa hal yang dapat disarankan untuk mengatasi anak temper tantrum misalnya saat anak menangis dan menjerit ketika tidak dibelikan mainan maka orang tua dapat tetap tenang/tidak panik, mendiamkan terlebih dahulu lalu menjelaskan alasan tidak dibelikan mainan. Dalam hal ini orang tua dapat memberi arahan kepada anak tentang nilai-nilai, hal yang boleh, layak dan sebaliknya, sehingga dikemudian hari anak dapat belajar untuk mengendalikan keinginannya. Penting juga bagi orang tua agar dapat menerapkan kesepakatan dengan anak dan konsisten terhadap kesepakatan/aturan yang dibuat bersama dengan anak, agar anak tidak bingung dan memberontak bila keinginannya tidak terpenuhi. Selain itu, penting juga bagi orang tua agar dapat memberikan pujian atau hadiah (reward) bila anak berhasil melakukan sesuatu yang terpuji dan meniadakan hadiah (bahkan teguran) saat anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

 

Referensi:

 

Hasan, M. (2011). Pendidikan anak usia dini. YogYakarta: Diva Press

 

Fetsch., & Jacobson, B.. (2013). Children’s anger and tantrums. Colorado State University Extension.

 

Salkind, N. J. (2002). Child Development. USA: Macmillan Reference.