(Mahasiswa S3 Psikologi UPI/YAI)

A adalah waria (pria transgender) mendatangi ustazah ingin belajar membaca Al-Qur’an.  Awalnya A ditolak oleh ustazah dan diminta untuk mencari ustad. Sayangnya tidak ada seorang ustadpun bersedia menerima A sebagai muridnya. Hingga akhirnya ustazah itu bersedia mengajar A. Kesadaran religiusitas yang muncul pada pria transgender  seperti yang dialami oleh A, sering ditanggapi sebagai awal untuk kembali menjadi pria, karena masyarakat tidak menerima  identitas gender waria/ transgender. Pada umumnya kita mengenal adanya orientasi seksual heteroseksual sebagai orientasi seksual yang normal. Pria transgender ada yang memiliki orientasi seksual yang homoseksual, heteroseksual, biseksual bahkan mungkin tanpa orientasi seksual, maka inilah yang menjadi perhatian kita.

Para transgender memiliki keyakinan bahwa mereka sebagai waria tidak bisa berubah (Rappler, 2015). Bahkan ada pula yang menyatakan bahwa mereka memiliki pikiran dan perasaan seorang wanita tapi terjebak dalam tubuh pria. Keyakinan ini dapat dimaklumi karena ada beberapa pria transgender secara biologis terlahir sebagai individu interseks, sehingga tidak dapat dikategorikan pria maupun wanita. Selain itu ada pula pria homoseksual yang ”terfeminisasi” sebagian karena pengaruh hormon pranatal, akan terlihat lebih feminin (Kallat, 2010). Pengaruh lingkungan dimana anak-anak yang memiliki kelainan genetis itu tumbuh akan semakin menguatkan bagaimana orientasi seksual pria transgender berkembang menjadi heteroseksual,homoseksual, biseksual, atau tidak memiliki orientasi seksual sama sekali.

Masalah pria transgender yang menjadi warga marginal dengan stereotipe homoseksual, merupakan masalah yang banyak terjadi dalam berbagai budaya di dunia. Pada negara dengan agama yang dominan maka ideologi gender yang tradisional akan kuat (Sarwono, 2014). Indonesia memiliki ideologi peran gender yang tradisional sehingga penolakan terhadap kaum transgender semakin kuat. Penolakan juga berlaku pada para pendukungnya, hal ini terlihat pada peristiwa Sherina Munaf, artis  yang mendukung LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) yang dihujat di media sosial twitter.

Munculnya diskriminasi pada kaum LGBT dan terjadi homophobia, tidak hanya ada di Indonesia. Di Senegal Afrika, kaum homoseksual dan transgender diperlakukan sebagai orang asing di negeri mereka sendiri, karena kecenderungan muslim Senegal kontemporer dan para pemimpin politik menggambarkan homoseksual sebagai sesuatu yang tidak bermoral dan tidak asli Senegal (M’Baye, 2013).  Di Bangladesh orang-orang transgender (hijra) mengalami pengucilan sosial, sehingga mereka dilecehkan secara fisik, verbal maupun sosial (Khan et al. 2009).

Banyaknya penolakan dari berbagai kalangan bagi para transgender, maupun homoseksual  membuat kaum LGBT berjuang untuk memperoleh hak yang sama seperti  masyarakat dengan orientasi seksual heteroseks. Para LGBT membentuk komunitas yang memperjuangkan hak-hak yang sama seperti  hak  kaum heteroseksual. Sebuah upaya besar yang diperoleh komunitas LGBT adalah penghapusan homoseksual pada DSM IV dan DSM V pada tahun 1974 (Sarwono, 2014).  Penghapusan homoseksual dalam DSM IV dan DSM V membuat para LGBT lebih leluasa untuk menyuarakan keinginannya dalam melegalkan perkawinan sesama jenis. Beberapa negara dengan ideologi egalitarian non tradisional, seperti negara-negara di wilayah Eropa dan Amerika, telah melegalkan perkawinan antar sesama jenis. Di Indonesia peran agama akan mempertahankan peran gender tradisional dan tidak akan menerima perkawinan sesama jenis, hal ini juga akan berlaku pada negara-negara yang memiliki dominasi agama islam yang kuat  (Timur Tengah, Pakistan Bangladesh, Malaysia, Indonesia), agama kristen /katolik (Italia,Filipina, Polandia) maupun tradisi yang kuat (Thailand ,Jepang, China) (Sarwono, 2014).

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/85604-sebuah-asa-di-pesantren-waria-yogyakarta

Kallat, J.W. (2010), Biopsikologi. Buku 2, edisi 9. Salemba Humanika. Jakarta

Khan , S.I. , Hussain , M. I. Parveen, S. , Bhuiyan, M. I, Gourab, G., Sarker ,G.F., Arafat, S.M. & Sikder. J. (2009 ). Living on the Extreme Margin: Social Exclusion of the Transgender Population (Hijra) in Bangladesh.  J Health popul nutr. 27(4):441-451

M’Baye, B. (2013). The Origins of Senegalese Homophobia: Discourses on Homosexuals and Transgender People in Colonial and Postcolonial Senegal. African Studies Review , 56 (2). 109-128.

Sarwono, Sarlito W. (2014). Psikologi Lintas Budaya. Raja Grafindo Persada. Depok.