ISSN 2477-1686

 

Vol.5 No. 22 November 2019

 

Mengidentifikasi dan Membantu Kesulitan Belajar Orang Dengan Dyslexia 

Oleh

Dian Ariyana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Dyslexia merupakan suatu kondisi pemrosesan input atau masukan informasi yang berbeda dibandingkan anak normal, seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, sehingga dapat mempengaruhi area kognisi, seperti daya ingat, kecepatan pemrosesan input, kecepatan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. 

Pada saat ini, dyslexia dinyatakan sebagai ketidakmampuan belajar secara neurobiologis berpengaruh negatif terhadap kecepatan mengenali kata, mengeja kata, mengkodekan kembali kata selama  proses membaca. Dalam aplikasi pada klien klinis di lapangan, pendidik mendapati anak-anak yang mengalami kesulitan belajar khusus yang berhubungan dengan kesulitan membaca atau kesalahan menulis hanya pada huruf-huruf tertentu sehingga sering dianggap bodoh oleh teman-teman sekelas dan gurunya.  Namun demikian, ternyata anak-anak dyslexia ini sering kali tidak menunjukkan tingkat kecerdasan yang rendah. 

Berdasarkan  pendapat  beberapa  ahli  tentang  dyslexia yang penulis pahami,  serta  observasi  pada kasus klinis di lapangan, maka dapat dikatakan bahwa orang  dengan dyslexia membutuhkan waktu untuk memroses informasi yang didapatkannya dari lingkungan sekitarnya serta membutuhkan waktu untuk memahami dan memberikan respon yang sesuai dengan stimulus yang diberikan orang lain. 

Dalam perjalanan sejarahnya, Johannes Schmidt seorang dokter berkebangsaan Jerman yang melaporkan kasus kesulitan membaca pada pasien pasca stroke pada tahun 1676. Pasien tersebut cukup cepat sembuh dari stroke yang dialaminya, namun kemudian kesulitan untuk membaca seperti sebelum mengalami serangan stroke. Dyslexia menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam memprosesan informasi agar dapat memahami komunikasi orang lain dan memberikan respon sesuai kebutuhan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Snowling (2001) dan Vellutino (1979) (dalam Casalis, 2004) menyatakan bahwa dyslexia mengacu pada ketidakmampuan belajar neurobiologis yang berpengaruh secara negatif terhadap kemampuan mengenali kata, mengeja kata dan proses memberikan kode ketika melakukan aktivitas membaca. Lebih lanjut, Casalis (2004) menyatakan bahwa dyslexia mengacu pada dua jenis kesulitan membaca yang berbeda, dyslexia yang diperoleh, yaitu  gangguan kemampuan membaca pada seseorang yang sebelum telah belajar membaca secara normal, namun kehilangan kemampuan tersebut sebagai akibat kerusakan otak. Yang kedua adalah dyslexia perkembangan, yaitu kesulitan membaca yang berhubungan dengan proses belajar membaca.   

Artikel pertama yang dibuat dalam literatur medis ditulis oleh Morgan (dalam Mahmodi, 2018), yaitu buta kata-kata, tidak menggunakan istilah dyslexia. Sebagai tambahan, Mahmodi (2018) menemukan hasil autopsi pada pasien dengan kasus buta kata murni, terdapat ketidak terhubungan antara korteks visual sebelah kanan dengan gyrus angular sebelah kiri. Morgan menyatakan bahwa penyebab buta kata-kata ini adalah cacat dalam perkembangan gyrus angular kiri. Setelah itu, ada terdapat paralelisme antara kebutaan kata yang diperoleh dan kesulitan membaca akibat suatu proses. Lebih lanjut, Mahmodi (2018) menyatakan bahwa beberapa kasus buta kata yang terkait perkembangan mengarah pada ketidakmampuan membaca sebagai suatu gangguan yang bermanifestasi dalam seringnya terhenti ketika membaca, gangguan kelancaran membaca. 

Abdul, dkk. (2018) menyatakan bahwa anak dengan dyslexia membutuhkan perhatian dan kesadaran orangtua akan kesulitan yang dihadapi dengan kondisi dyslexia tersebut yang dapat mempengaruhi harga diri anak dan pergaulan sosial serta interaksinya dengan teman sebaya. Tanpa dukungan orang tua yang menguatkan anak, akan sulit bagi anak mengatasi masalah fisiologis dan kendala psikologis yang dialaminya.    

Oleh karena itu, dalam perkembangan anak, ketika anak belum bisa membaca, ajak melakukan aktivitas membaca bersama, observasi bagaimana reaksinya menghadapi buku yang dibaca, dan berikan bantuan yang diperlukan anak untuk dapat mengatasi kesulitannya membaca dan terus tunjukkan kepercayaan dan dukungan bagaimana pun kondisi yang ada anak tersebut.

Referensi:

 

Abdul, R., Athira Amira., Ismail., Maizatur A., Balakrishnan, V., & Haruna, K. (2018); Dyslexic Children : The need for Parents awareness. Journal of Education and Human Development.

Casalis, S. (2004). The Concept of Dyslexia the chapter. Research Gate.

Mahmodi, S. M. (2018), Dyslexia: Past, Present  and future. Literasi Research Conference Murfreesboro, TN.