ISSN 2477-1686

 

Vol.5 No. 21 November 2019

Self Care 

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipenuhi dengan begitu banyak kegiatan, yang memerlukan fokus konsentrasi dan tanggung jawab. Sebagai hasil dari kegiatan yang banyak tersebut, seringkali kita merasa lelah, secara fisik dan psikologis. Ambil contoh seorang psikolog yang selesai dengan tiga sesi konseling dalam satu hari, sekitar 3 jam praktek yang digunakan untuk mendengarkan klien. Sesampainya di rumah, ia merasa begitu lelah dan memerlukan waktu sendiri untuk mengembalikan kondisinya menjadi lebih segar atau seorang mahasiswa yang belajar sebanyak 5 SKS dalam sehari, belum ditambah dengan pengerjaan tugas dan diskusi kelompok di luar jam perkuliahan. Sesampainya di rumah, ia merasa capai secara fisik dan perlu untuk istirahat sejenak sebelum memulai aktifitas berikutnya. 

Self care dan kegunaannya

Thomas dan Morris (2017) mendefinisikan self care sebagai pengalaman atau tindakan yang bertujuan meningkatkan kondisi mental, emosional, fisik dan kesejahteraan spiritual yang pada akhirnya bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi lebih holistis dan mampu berperan sebagai individu yang balanced. Kegiatan yang dimaksud dalam self care cukup bervariasi seperti kegiatan berolahraga, makan makanan yang bergizi, cukup tidur dan mencari bantuan  dari profesional. Intinya self care bertujuan untuk mengelola, mencegah stress serta kelelahan dengan cara-cara yang menguntungkan bagi kesehatan mental. 

Panduan yang diterbitkan dalam Mindpeace (2018) menyebutkan bahwa self care terbukti dapat mengurangi stres, meningkatkan produktifitas, meningkatkan kesehatan individu, tercapainya work-life balance, mencegah terjadinya burnout dan kelelahan emosional. 

Siapa yang memerlukan self care?

Setiap orang memerlukan self care. Untuk berbagai profesi yang berkaitan dengan peran sebagai caregiver atau rentan terhadap burnout, maka self care dipandang sebagai kegiatan yang perlu mendapatkan prioritas. Profesi yang dimaksud misalnya psikolog, dosen, pemuka agama, terapis. Siapapun yang pernah mengalami stres di tempat kerja atau di luar tempat kerja (misal di rumah) perlu melakukan self care. Selain itu, individu yang belum pernah mengalami  stres pun perlu untuk melaksanakan self care. 

Berbagai aspek self care

Self care terdiri dari berbagai sisi, yang jika dipahami akan lebih memudahkan bagi individu dalam membuat perencanaan self care. Mindpeace (2018) menjelaskan berbagai aspek self care sebagai berikut :

1.    Aspek fisik

Utah State University Counseling and Pscyhological Service (2010) menerangkan bahwa self care secara fisik melibatkan aktifitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan jasmani, termasuk dengan melakukan diet dan latihan, bergerak secara aktif, mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi dan tidur yang cukup. Contoh kegiatan self care yang mencakup aspek fisik misalnya dengan berjalan di alam, mengoleskan minyak esensial ke kulit, cukup minum air, cukup beristirahat/menerapkan waktu tidur yang teratur, berolahraga atau melakukan peregangan setelah lama duduk/bekerja di meja.

2.    Aspek psikologis

Self care secara psikologis termasuk memerhatikan dan menjaga emosi, belajar untuk bersikap tegas (mengatakan tidak pada komitmen ekstra), mengatasi sifat perfeksionis. Contoh kegiatan lain yang merupakan self care psikologis misalnya berkonsultasi dengan terapis pada kondisi penuh tekanan, berpartisipasi dalam komunitas, melibatkan diri dalam pembelajaran atau psikoedukasi, melihat foto orang-orang yang dicintai,hingga membuat jurnal harian untuk mengklarifikasi pikiran-pikiran yang muncul.

3.    Aspek spiritual

Self care spiritual melibatkan kepedulian terhadap hal yang rohani, seperti mencari tujuan dan makna dalam hidup. Melakukan self care secara spiritual dipercaya akan mendatangkan ketenangan emosi dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan sebagai bentuk self care misalnya dengan berdoa, meditasi, melakukan yoga, mengekspresikan rasa syukur. 

Pelaksanaan self care

Self care juga bisa dilakukan dengan aplikasi tertentu di gawai, misalnya dengan aplikasi Calm, Sleep Cycles atau dengan membaca beberapa majalah tertentu yang berfokus pada self care seperti majalah yang berhubungan dengan spiritualitas maupun kesehatan. 

Sebelum melakukan self care, penting bagi individu untuk mengidentifikasi hal yang menjadi stressor dalam hidup, reaksi fisik/psikologis/emosi dalam kondisi tersebut dan apa saja—termasuk kegiatan self care-- yang biasanya dilakukan saat dalam kondisi penuh tekanan, kewalahan atau stress. 

Self care bisa dilakukan dengan membuat perencanaan yang melibatkan multi aspek (fisik, psikologis dan spiritual), misalnya mengucapkan doa syukur di pagi hari, membuat jurnal harian di malam hari dan minum air yang cukup sepanjang hari. 

Jika self care bisa membantu kesehatan mental kita, mari kita melakukannya secara rutin. 

Give yourself the same care and attention that you give to others, and watch yourself bloom. –Unknown 

Referensi:

 

Mindpeace. (2018). Self-care Guide. Retrieved from http://mindpeacecincinnati.com/wp-content/uploads/SelfCareReportR13.pdf

 

Thomas, D.A., & Morris, M.H. (2017). Creative Counselor Self Care. Retrieved from https://www.counseling.org/docs/default-source/vistas/creative-counselor-self-care.pdf?sfvrsn=ccc24a2c_4

 

Utah State University. (2010). Utah State University-Counseling and Psychological services. Retrieved from https://www.usu.edu/counseling/resources/self_help.cfm.